MANYARAN – Tim panitia pemeriksa dan penerima barang pengadaan peralatan laboratorium terpadu Pusat Riset dan Pengembangan Ilmu Pendidikan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto tahun anggaran 2010 diketahui tidak melakukan tugasnya dengan baik. Selain tidak memeriksa barang yang datang, mereka juga telah menandatangani berita acara pemeriksaan selesai 100 persen.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan dugaan korupsi pengadaan peralatan laboratorium terpadu Pusat Riset dan Pengembangan Ilmu Pendidikan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto tahun anggaran 2010 dengan terdakwa tiga pejabat Unsoed; Eko Hariyanto, Bondansari, dan Anjar Taruna Ari Sudewo yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (18/11). Hadir sebagai saksi adalah lima anggota tim panitia pemeriksa dan penerima barang yang terdiri atas Suswati, Setyabudi, Wiwik, Himawan dan Sari Ajeng.

Di hadapan majelis hakim, Suswati membeberkan pihaknya tidak pernah diajak rapat terkait pengadaan alat laboratorium senilai anggaran Rp 28 miliar itu. Tahu-tahu disuruh tanda tangan oleh terdakwa Anjar Taruna Ari Sudewa lewat lewat staf ULP bernama Narto. ”Dua kali kami menandatangani berita acara pemeriksaan. Tapi tidak permah melihat dan memeriksa barangnya,” ungkapnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Antonius Widjantono.

Ditambahkan, dirinya pernah menanyakan kepada yang bersangkutan perihal tersebut. Namun oleh terdakwa hanya diminta mengikutinya saja. ”Memang harusnya kami melihat dan memeriksa barang baru menyatakan pekerjaan selesai,” katanya mengaku bersalah.

Sementara itu, Setyabudi dalam kesaksiannya menyatakan pihaknya juga pernah menanyakan kepada terdakwa Bondan perihal kedatangan barang. Naman dikatakan terdakwa bahwa barangnya sudah lengkap. ”Waktu itu, kami juga menerima permintaan Pak Ari (Anjar Taruna Ari Sudewa) melalui kertas memo untuk membubuhkan tanda tangan,” ungkapnya.

Menanggapi keterangan tersebut, majelis hakim sempat marah-marah lantaran para saksi mau saja menuruti apa yang diminta oleh terdakwa. Padahal latar belakang mereka adalah akademisi. ”Hanya office boy yang dapat disuruh-suruh begitu saja. Kalian itu bergelar S2,” ungkap majelis hakim mengingatkan bahwa negara akan hancur jika para pendidiknya seperti mereka.
Seperti diketahui, dalam kasus ini telah ditetapkan sebagai terdakwa adalah Eko Hariyanto (Pembantu Rektor II Unsoed), Bondansari (dosen Fakultas Pertanian Unsoed), dan Anjar Taruna Ari Sudewo (Pembantu Dekan II Fakultas Peternakan Unsoed). Mereka diduga telah melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan keuangan negara sebesar Rp 10.374.892.260. (fai/aro/ce1)