BANYAKNYA gang sempit di perkampungan padat penduduk di Kota Semarang memang menjadi persoalan bagi petugas pemadam kebakaran. Sebab, hal itu menyebabkan upaya pemadaman di tengah permukiman gang sempit menjadi kurang cepat dan tidak maksimal.

”Selama ini yang menghambat upaya pemadaman adalah persoalan gang sempit, portal cor, polisi tidur, maupun gang berbentuk lengkong. Misalnya, saat kami melakukan pemadaman di salah satu perkampungan di daerah Sendangmulyo, Tembalang,” kata Kepala Seksi Operasional Dinas Kebakaran Kota Semarang, Supriyanto kepada Radar Semarang.

Menurut Supriyanto, idealnya lebar jalan kampung minimal 3,5 meter. Sehingga bisa dilewati mobil PMK sampai ke lokasi kebakaran yang berada di tengah kampung.

Lalu, bagaimana jika terjadi kebakaran di kampung yang jalannya sempit? Menurut Supriyanto, hal itu bisa disiasati dengan pompa estafet. Hanya sayangnya, saat ini peralatan tersebut masih dalam pengajuan. ”Kemarin sudah kami ajukan pompa estafet. Alat itu kami nilai efektif untuk menyiasati jika terjadi kebakaran di gang sempit,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, untuk pemadaman di gang sempit, pihaknya mengandalkan slang yang panjang. Peralatan selang dari mobil pemadam kebakaran bisa menjangkau kurang lebih 200 meter. ”Menurut teori, setiap 100 meter, diperkirakan ada tekanan 1,5 bar. Kalau 200 meter itu kurang lebih butuh 7-8 slang,” jelasnya.

Sejumlah wilayah perkampungan yang ditemukan gang sempit, di antaranya wilayah Jalan Mataram dan Dr Cipto. Hampir semua gang di kawasan tersebut bergang sempit. Selain itu juga ada portalnya.

”Berikutnya di wilayah Kebonharjo Semarang Utara. Di kawasan itu, kalau mobil PMK sudah masuk, bisa dipastikan mobil yang lain tidak bisa masuk. Mobil kami juga sulit untuk kembali untuk ambil air,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, juga di wilayah Kelurahan Panggung Lor, juga masih rawan bertemu dengan gang sempit. ”Bahkan di sana, jalan umum ada portal permanen yang dicor. Tepatnya di dekat SMK Perkapalan,” tandasnya.

Dia berharap, masyarakat juga harus menyadari saat membangun desain jalan kampung. Sebab, hal itu mempunyai efek jangka panjang. ”Penanganan kebakaran kan tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja. Selain pemerintah, masyarakat dan pengusaha juga seharusnya turut bertanggung jawab. Ketiganya itu tidak bisa terlepas dari tanggung jawab setiap kejadian kebakaran,” terangnya.
Dikatakannya, saat ini Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang telah membentuk tim relawan yang nantinya akan ditempatkan di setiap kelurahan. ”Diharapkan hal ini bisa membantu menangani setiap ada kebakaran, mengingat personel kami hingga saat ini masih kekurangan,” katanya.

Hingga saat ini, Dinas Kebakaran Kota Semarang hanya punya 73 personel (PNS), dan 48 personel (non-PNS). Sedangkan jumlah mobil pemadam kebakaran sebanyak 24 unit. ”Mengingat luas dan semakin padatnya penduduk Kota Semarang sebagai Kota Metropolis, kami masih kekurangan personel,” ujarnya. (mg5/aro/ce1)