DEMAK – Membangun karakter pendidikan anti kekerasan sejak dini sangat diperlukan. Ini untuk mencegah kemungkinan terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di kemudian hari. Demikian disampaikan aktivis Komnas Perempuan Semarang, Bibik Nurudduja, dalam sarasehan kesetaraan dan keadilan gender dalam perspektif Islam yang dihelat Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP2PA) dan MUI Demak, kemarin.

Menurut dia, setiap anak berhak menyampaikan dan didengar pendapatnya, termasuk menerima dan mencari informasi sesuai tingkat kecerdasannya. Dia menegaskan, setiap orang tua bertanggungjawab untuk mengasuh, mendidik, dan melindungi anak-anaknya. “Lahirnya UU Perlindungan anak adalah untuk menjaga anak dari berbagai bentuk kekerasan fisik maupun psikologis. Jangan sampai hal itu membawa trauma berkepanjangan,” katanya.

Pembina PKPR Pelangi Healthy Friends, Indah Kusumawati menambahkan, untuk mencegah kekerasan seksual anak maka bisa diketahui dan dikenali dari organ tubuh mereka sejak dini. Karena itu, kata dia, memberikan pendidikan seks pada anak tidaklah tabu. “Tujuannya, supaya anak paham fungsi dan organ reproduksinya agar tidak dijamah orang lain. Selain itu, mereka harus lebih selektif memilih teman,” jelasnya.

Senada disampaikan Sekretaris MUI Demak, Abdurrahman Kasdi. Menurutnya, pengetahuan tentang UU Perlindungan Anak sangat dibutuhkan supaya tidak terjadi KDRT. “Sarasehan ini diikuti ratusan santri perwakilan dari pondok pesantren dan ormas,” ujarnya.

Kepala KP2PA, Mudiyanto berharap, persoalan gender bisa dipahami secara utuh. Dengan demikian, tidak terjadi salah paham yang mengakibatkan salah langkah dalam melakukan penanganan kasus gender. “Cara memahami gender ini memang harus utuh betul,” katanya. (hib/ric)