PUPUS: Insan sepakbola Kota Semarang termasuk suporter setia PSIS saat ini masih berharap tim kesayangan mereka mampu terselamatkan dari hukuman diskualifikasi oleh Komdis PSSI. (Baskoro septiadi/rase)
PUPUS: Insan sepakbola Kota Semarang termasuk suporter setia PSIS saat ini masih berharap tim kesayangan mereka mampu terselamatkan dari hukuman diskualifikasi oleh Komdis PSSI. (Baskoro septiadi/rase)
PUPUS: Insan sepakbola Kota Semarang termasuk suporter setia PSIS saat
ini masih berharap tim kesayangan mereka mampu terselamatkan dari
hukuman diskualifikasi oleh Komdis PSSI. (Baskoro septiadi/rase)

SEMARANG – Para punggawa tim Mahesa Jenar tetap menggelar latihan rutin di stadion Jatidiri, sore (31/10), kemarin, meski tengah dalam kondisi shock usai mendapat sanksi diskualifikasi dari Komdis, buntut dari laga sepakbola gajah saat mleawan PSS beberapa waktu lalu.
Menurut arsitek PSIS, Eko Riyadi, latihan tersebut untuk menjaga kondisi pemain yang masih terikat kontrak dengan manajemen yang akan berakhir pada 10 November 2014 mendatang. “Kondisi anak-anak cukup baik, terutama psikis mereka sudah bisa kembali enjoy dalamlatihan,” terang Eko Riyadi.

Setelah berakhir masa kontrak mereka tengah bulan ini, rencananya Fauzan Fajri dkk akan diliburkan untuk kemudian PSIS akan kembali memulai persiapan tim akhir tahun 2014 mendatang.

Sementara itu, manajemen PSIS saat ini juga belum menyerah. Meski secara lisan keputusan diskualifikasi telah diberikan kepada tim Mahesa Jenar, beberapa upaya terus mereka lakukan agar tim kebanggaan masyarakat Semarang itu bisa terus eksis di kompetisi kasta kedua.

Manajer tim PSIS, Wahyu ‘Liluk’ Winarto dihubungi kemarin mengatakan, perwakilan manajemen saat ini masih terus melakukan segala upaya agar PSIS memiliki hak banding soal sanksi diskualifikasi tersebut. “Di satu sisi kami tetap akan menghargai apapun keputusan PSSI. Namun selama keputusan tertulis belum turun, semua upaya akan kami lakukansemaksimal mungkin. Dan sekali lagi kami juga berterima kasih atas dukungan dari semua lapisan masyarakat untuk tim PSIS,” terang Liluk.

Masih terkait sanksi diskualifikasi yang diberikan untuk PSS dan PSIS, anggota Komite Hukum PSSI Pusat, Gusti Randa angkat bicara. Menurutnya, keputusan diskualifikasi kepada kedua tim tetangga itu terlalu tergesa-gesa. “Saya kira keputusan itu memang terlalu tergesa-gesa dan kurang bijaksana. Mungkin karena desakan masyarakat yang begitu kuat terutama setelah muncul di media,” kata pria yang juga Ketua Asprov PSSI DKI Jakarta itu.

Selain itu, keputusan diskualifikasi secara hukum menurutnya juga terlalu berat. ”Ibaratnya vonis pencurian menggunakan pasal perampokan, jadi terlalu berat. Kalau berdasarkan kode disiplin itu tahun berapa? Sudah disahkan di kongres atau belum?,” terang pria yang juga pengacara itu.

Terlebih keputusan Komdis yang menyatakan bahwa PSS atau PSIS tidak bisa melakukan banding untuk meringankan hukuman itu dinilai Gusti juga terlalu berlebihan. ”Kalau tidak bisa banding kenapa ada Komisi Banding? Jadi ya saya kira semua pihak harus lebih bijaksana lagi dalam melihat pokok permasalahannya,” pungkas Gusti Randa. (bas/zal)