TEMBALANG – Korban pencabulan terhadap anak di bawah umur, yang diduga dilakukan oleh kakek bernama Sug, 70, warga Tembalang, bertambah menjadi empat anak.

Korban terakhir yang dilaporkan secara resmi di Mapolrestabes Semarang adalah AL yang masih berumur 9 tahun. Tiga korban sebelumnya masing-masing; SI, 7; CA, 9; dan AF, 10.

Kendati demikian, salah satu orang tua dari keempat korban mencabut laporan di Mapolrestabes Semarang, entah karena pertimbangan apa. Kasus dugaan pencabulan yang dilaporkan sejak tanggal September 2014 di Mapolrestabes Semarang itu hingga saat ini ”dicuekin” alias tidak ada perkembangan.

”Korbannya tambah satu, jadi empat anak. Tapi salah satu orang tua korban mencabut laporan. Saya sudah melapor sebulan lebih, tapi sama sekali tidak ada perkembangan,” kata salah satu orang tua korban, N, kepada Radar Semarang, Selasa (21/10).

N mengaku sangat kecewa karena laporan pencabulan tersebut tidak digubris oleh pihak kepolisian. ”Polisi sangat lambat, yang diperiksa baru saya. Anak-anak selaku korban belum diperiksa. Terlapor juga belum diperiksa, apalagi ditahan. Jan-jane kuwi ono opo? (Sebenarnya itu ada apa?, Red)” katanya kesal.

Menurutnya, hal yang membuat rumit kasus ini, dirasakannya sejak salah satu orang tua korban menyatakan mencabut laporan. ”Tahu-tahu sudah dicabut secara sepihak. Saya dikasih tahu tanggal 27 September. Pak K (salah satu orang tua korban) malah bilang; ’saya sudah damai, soal nominalnya berapa tidak usah saya kasih tahu. Kalau njenengan mau meneruskan ya monggo’,” ungkapnya menirukan ucapan salah satu orang tua korban.

N juga mengaku tidak habis pikir, sebab penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Semarang justru mengintervensi bahwa laporan tersebut sulit diproses. ”Kata salah satu penyidik, nanti tidak bisa diproses di pengadilan,” kata dia menirukan omongan penyidik PPA.

Bahkan pihak N kembali melaporkan ulang pada tanggal 14 Oktober 2014, setelah laporan pertama dianggap gugur karena salah satu orang tua korban mencabut laporan tanpa sepengetahuan pihak korban yang lain. ”Saat ini tercatat 3 korban, yang 1 korban dicabut.”

N mendesak Polrestabes Semarang segera cepat bertindak. ”Pelaku harus segera ditangkap. Jika masih tidak ditangani, saya akan melapor ke Propam Polda Jateng, dan meminta perlindungan kepada Pak Gubernur Ganjar Pranowo,” tandasnya.

Dia meminta, kepolisian tidak tebang pilih dalam menangani kasus. Pihak keluarga korban merasa sangat dirugikan, karena korban yang masih di bawah umur saat ini harus memikul beban trauma berat dan akan menjadi beban mental sepanjang hidup korban. ”Saya tegaskan, kami bertiga tidak mau damai. Harus diselesaikan berdasarkan hukum yang berlaku,” tandasnya.

Hasil visum di RS Bhayangkara pada 28 September lalu menyebutkan ada luka bengkak bekas penetrasi di alat vital korban. Diduga, terlapor telah melakukan hubungan layaknya suami istri terhadap anak di bawah umur tersebut.

Sug diduga mencabuli para korban di dalam bilik warung kelontong di kampung tempat tinggalnya dalam kurun waktu berbeda. Diduga terlapor telah melakukan tindakan pencabulan tersebut dalam kurun waktu tahun 2009 hingga 2014. Kejadian terakhir dilakukan terlapor pada 11 September 2014 sekitar pukul 11.00.

Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Wika Hardianto saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya tetap akan mengusut kasus dugaan pencabulan tersebut hingga tuntas. ”Tapi memang butuh waktu lama, karena harus memeriksa saksi-saksi, termasuk saksi ahli anak,” katanya.

Wika menegaskan, tidak ada penghentian penyelidikan. ”Meski salah satu laporan korban dicabut, kasus ini tidak bisa dihentikan. Kami akan melanjutkan hingga tuntas,” tandasnya. (mg5/ton/ce1)