Wahib pribadi/pekalongan pos
Wahib pribadi/pekalongan pos
IDENTIFIKASI : Kabid Kelautan DKP Demak, Suharto (tengah) dan Apri Susanto dari NGO membimbing warga mengidentifikasi daerah abrasi dengan mendasarkan gambar peta citra satelit, kemarin. (Wahib pribadi/pekalongan pos)

DEMAK – Pemkab Demak melalui program Pembangunan Desa Pesisir Tangguh (PDPT) menjadi sarana tepat untuk memberdayakan daerah pesisir yang terdampak abrasi. Di wilayah Demak, setidaknya terdapat beberapa desa yang kini menjadi sasaran pemberdayaan. Yaitu, Desa Bedono, Timbulsloko, dan Desa Surodadi, Kecamatan Sayung.

Kemudian, Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah. Desa Morodemak, Purworejo, dan Betahwalang, Kecamatan Bonang serta Dukuh Gojoyo dan Siklenting, Desa Wedung, Desa Berahan Wetan dan Berahan Kulon, Kecamatan Wedung. Wilayah perkampungan di tepian pantai utara Jawa itu kian memprihatinkan setelah abrasi melanda.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak Hari Adi Susilo melalui Kabid Kelautan, Suharto mengungkapkan, desa-desa tersebut memperoleh stimulan dari PDPT pusat senilai Rp 1,4 miliar. Dengan stimulus itu, maka Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang lain bisa turut membantu penanganan dampak abrasi tersebut. “Dalam penanganan abrasi misalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bisa membantu ketika ada bencana di pesisir desa tersebut.

Ini sesuai dengan sasaran bina kesiapsiagaan terhadap bencana,” katanya di sela pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat melalui program PDPT yang berlangsung di Dukuh Morosari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, kemarin.

Dalam kegiatan ini, ada 10 kelompok yang masing-masing desa diwakili 10 orang. Menurutnya, sejak ada PDPT itu, laju abrasi bisa ditekan dengan cara pembangunan talud. Di Dukuh Mondoliko, Desa Bedono, dibangun pula sebuah jembatan khusus digunakan untuk evakuasi warga. Selain bangunan fisik infrastruktur, PDPT juga melatih para perempuan desa pesisir dengan usaha kecil-kecilan yang bisa menambah penghasilan keluarga. Diantaranya membuat kerupuk dari bahan buah mangrove.

“Mereka dibantu lengkap dengan peralatannya. Bina usaha ini sudah berjalan di Desa Bedono,” ujar Suharto. Manfaat PDPT ini disampaikan tokoh masyarakat Desa Timbulsloko, Sayung, Nur Salim. Menurutnya, PDPT memberikan peluang warga untuk berusaha mandiri. “Istri saya Khomsatun bisa membuat kerupuk dari mangrove. Produksinya sudah bisa dijual ke Semarang,” jelasnya.

Selain itu, dari segi infrastruktur PDPT juga sangat membantu. Dia menuturkan, sebelum dibangun talud dari PDPT, air laut pasang selalu merendam jalan dan rumah warga. “Namun, sejak ada talud ini, air pasang bisa diatasi. Talud yang dibangun sepanjang 600 meter. Sedangkan, yang belum tinggal 350 meter,” katanya.

Apri Susanto, perwakilan LSM (NGO) asal Belanda menambahkan, abrasi di pesisir Demak terjadi sebagai dampak erosi ekstrim. “Adanya kenaikan permukaan air laut dan penurunan tanah turut mempersulit kondisi pesisir Demak,” katanya. (hib/ric)