PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU CARI AKTORNYA: Sejumlah pengunjukrasa membubuhkan tandatangan sebagai bentuk dukungan agar aparat penegak hukum mencari aktor intelektual pelemparan bom molotov.
PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU CARI AKTORNYA: Sejumlah pengunjukrasa membubuhkan tandatangan sebagai bentuk dukungan agar aparat penegak hukum mencari aktor intelektual pelemparan bom molotov.
PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU
CARI AKTORNYA: Sejumlah pengunjukrasa membubuhkan tandatangan sebagai bentuk dukungan agar aparat penegak hukum mencari aktor intelektual pelemparan bom molotov.

MAGELANG – Menjelang sidang tuntutan kasus pelemparan bom molotov yang dilakukan terdakwa Choirun Naim, Heri Utama dan Yordan alias Yoyo di rumah wartawan Jawa Pos Radar Jogja, Frietqy Suryawan alias Demang, sejumlah wartawan Magelang dan aktivis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), Rabu, (2/9) menggelar aksi damai. Aksi dimulai dari Markas Polres Magelang Kota dilanjutkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) dan berakhir di Pengadilan Negeri Kota Magelang.
Para pengunjuk rasa menuntut agar aktor intelektual dalam kasus ini dihukum. Mereka meyakini para pelaku tidak mungkin bekerja sendiri. “Ada hal yang janggal dalam persidangan, sebab para pelaku tidak mengetahui persis isi pemberitaan yang dibuat teman kami. Itu juga jadi signal bahwa mereka diperintah bukan karena melakukan tindakan sendiri,” tegas Koordinator Aksi Mansyur.
Menurutnya, jika kasus ini tidak tuntas, maka besar kemungkinan akan terjadi kasus susulan serupa. Sebab, sebelum ada kasus ini, ada juga upaya penusukan dan ancaman pada wartawan lain. Untuk itu, mereka mendesak agar kasus ini bisa transparan dan membuat efek jera.
Kabag Ops Polres Magelang Kota Kompol Suyatno menuturkan, pihaknya akan serius dalam menangani kasus ini. Namun pihaknya menyadari, hingga kini belum mampu mengungkap siapa dalang di balik semua ini, sebab belum ada bukti yang mengarah ke sana. “Kami baru mengumpulkan dan menampung informasi untuk dapat menentukan alat bukti guna mengungkapnya, tapi kami akan bersikap transparan,” akunya. (put/ton)