dok radar semarang
Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag (dok radar semarang)

Oleh: Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag

“Seandainya Umat Muhammad mengetahui keistimewaan yang ada dalam bulan Ramadan, maka mereka akan menghendaki seluruh bulan-bulan dalam setahun adalah bulan Ramadan semua”.
Ini merupakan satu di antara banyak hadis (sabda nabi) yang memotivasi umat Islam untuk menyambut kedatangan bulan Ramadan dalam setiap tahunnya. Masih banyak lagi hadis-hadis nabi yang menjelaskan keistimewaan bulan Ramadan ini. Saking istimewanya, bahkan ada ulama yang memperumpamakan perbandingan bulan Ramadan dengan bulan-bulan yang lain bagaikan perbandingan Tuhan dengan makhluknya (kitab Zubdatul Wa’idhin).
Begitu antusiasnya umat Islam Indonesia menyambutnya, sehingga muncul tradisi (budaya) penyambutan, seperti tradisi dugderan di Semarang dan tradisi dandangan di Kudus, itu semua adalah dalam rangka menyambut bulan Ramadan.
Namun ada yang menyikapinya dengan hanya selalu tidur di bulan Ramadan – mengurangi aktifitasnya sehari-hari, dengan alasan “ Naum al-shaim ibadah” (Tidurnya orang puasa Ramadan adalah ibadah). Benarkah sikap seperti ini ? Mengapa bulan Ramadan istimewa ? Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Tulisan ini mencoba mengingatkan kembali (taqrarul tadkir) untuk menyambut Ramadan dan menyikapinya. Dengan harapan dalam bulan Ramadan tahun ini kita dapat benar-benar mendapatkan keistimewaannya.
Ramadan yang secara etimologis berarti “amat panas” kiranya sangat terkait dari “asbabunuzul”nya secara sosiologis. Karena menurut Ensiklopedi Islam, Ramadan merupakan nama bulan yang ke-9 dalam tahun Hijriyah yang diberikan oleh Allah pada saat padang pasir sangat panas oleh terik matahari. Dan juga terkait dengan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki bulan Ramadan. Seperti yang dikatakan ulama bahwa bulan Ramadan adalah bulan pelebur segala dosa dari Ramadan ke Ramadan berikutnya, bulan pembersihan secara total, bulan penyemangat dan penggairah ibadah dan masih banyak lagi.

Dalam bulan Ramadan ini terdapat kewajiban pokok umat Islam yang eksklusif yakni ibadah puasa selama sebulan penuh. Karenanya bulan ini disebut juga sebagai “syahr siyam”(bulan puasa). Berbeda dengan ibadah pokok lainnya seperti ibadah shalat, haji dan zakat yang dapat dengan mudah dilihat oleh orang lain. Ibadah puasa hanya dapat dilihat oleh Allah dan hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Itulah sebabnya, puasa adalah satu-satunya ibadah “untuk Allah”. Dalam hadis Qudsi, Allah berfirman “Setiap amal manusia itu untuknya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untukKu (Allah) dan Aku (Allah) sendiri yang akan membalasnya”. Karena itulah, Ramadan disebut pula sebagai Syahrullah (bulan Allah).
Dalam konsep Islam, puasa tidak sekadar menahan diri dari makan, minum, bersebadan, dan segala hal yang membatalkannya. Tetapi juga menahan diri dari segala hal yang menyebabkan hilangkan pahala puasa, seperti berbohong, membicarakan aib orang, memfitnah dan perbuatan maksiat lainnya.
Ahli fikih mendefinisikan puasa sebagai menahan diri dari segala keinginan syahwat, perut serta kemaluan dan dari segala sesuatu yang masuk dalam kerongkongan, baik berupa makanan, minuman, obat dan semacamnya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Nabi Muhammad mensinyalir banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan haus tanpa mendapatkan pahala puasa. Shaim (orang yang berpuasa) demikian tentunya adalah orang yang berpuasa sekadar menahan diri dari makan dan minum, tanpa menahan diri dari segala hal yang membatalkan pahala puasa.
Oleh karena itu, mestinya puasa merupakan latihan mental untuk berwatak jujur, disiplin, sabar dan bertanggungjawab atas amanah. Dengan puasa, diharapkan juga umat Islam menjadi manusia yang mempunyai kepedulian – tidak kedlaliman. Dalam bahasa Al-Qur’an adalah menjadi orang yang benar-benar taqwa (QS.2:183).
Puasa Ramadan inilah salah satu rahasia keistimewaan Ramadan. Keistimewaan lainnya, di antaranya ada Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar. Di samping itu, ada janji-janji Allah untuk mengampuni semua dosa yang telah lalu bagi mereka yang “mendirikan” Ramadan, sebagaimana hadis nabi “barang siapa “mendirikan” Ramadan dengan penuh keimanan dan penghayatan, maka akan diampuni semua dosanya yang telah lalu”. ”Mendirikan” di sini adalah menghidupkan Ramadan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah baik mahdah maupun social.

Bahkan ada hadis yang mengatakan bahwa “naum al-shaim ibadah” (tidurnya orang berpuasa adalah ibadah). Banyak umat Islam yang memahami hadis tersebut secara tekstual dan “menyesatkan”, sehingga selama Ramadan mereka banyak tidur dan mengurangi aktifitas sehari-harinya. Pemahaman dan perilaku semacam ini kiranya tidak sejalan dengan nilai filosofis Ramadan yakni “meningkatnya gairah ibadah”. Nilai filosofis Ramadan ini dapat dilihat dari gambaran sebuah hadis dari sahabat Umar bin Khattab: ”Ketika ada seseorang terbangun dari tidur di bulan Ramadan, maka akan ada malaikat yang membisikinya dengan mnegucapkan “bangunlah, semoga Allah memberi berkah dan rahmah”, ketika dia melakukan shalat, maka tempat shalatnya mendoakannya, ketika dia memakai baju, maka bajunya mendoakannya, ketika memakai sandal/sepatu, maka sandal/sepatu tersebut mendoakannya, ketika melaksanakan aktifitas, maka aktifitas tersebut mendoakannya, …”.
Dari hadis tersebut, jelaslah bahwa bulan Ramadan merupakan “ladang subur ibadah” yang mestinya diisi dengan meningkatkan aktifitas sehari-hari dengan niat ibadah baik ibadah mahdah maupun ibadah sosial. Sehingga keliru manakala bulan Ramadan dilalui dengan hanya selalu tidur – mengurangi aktifitas sehari-hari dengan alasan ada hadis : “naum al-shaim ibadah” (tidurnya orang puasa adalah ibadah). Karena pemahaman hadis tersebut mestinya harus difahami sebagai “makna ghayah” yakni “Tidurnya saja ibadah, apalagi aktifitasnya”.
Marilah kita berupaya meningkatkan “gairah ibadah” kita baik “ibadah mahdah” maupun “ibadah sosial” di bulan Ramadan. Semoga kita mendapatkan “berkah” keistimewaan bulan Ramadan sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah swt. Akhirnya secara komulatif social, semoga dapat sumrambah pada kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang dalam bulan Ramadan ini akan memilih Presiden dan wakil Presiden Baru (9 Juli, 2014). Mari kita memilih dengan berkah Ramadan. Semoga “berkah” bulan Ramadan membawa kebaikan Pemerintahan Baru kita nanti. Amin. (*)

Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI
Pengasuh Pesantren Life Skill PPDN Semarang