PEKALONGAN-Masjid Al-Fairus di Jalan Dr Sutomo, Baros, Kota Pekalongan selalu menampilkan kekhasan tiap bulan puasa tiba. Pada Ramadan kali ini, masjid yang berarsitektur menyerupai Masjid Nabawi di Madinah, kembali menyediakan menu berbuka puasa atau takjil berupa air zam-zam dan kurma untuk ratusan pengunjung yang datang.
Bahkan, menu buka puasa yang dikenal dengan Takjil Nabawi itu, jumlahnya selalu meningkat setiap tahunnya. Untuk bulan puasa tahun ini, pihak masjid menyediakan 1.000 liter lebih air zam-zam asli dari Makah, serta 500 kilogram kurma.
Pegurus Masjid Al Fairus, Muh Amin, mengatakan bahwa setiap hari pihaknya menyediakan kurma dan air zam-zam untuk 300-an orang yang akan berbuka. “Tak hanya air zam-zam dan kurma, kami juga menyediakan 300 bungkus nasi sekaligus lauknya setiap hari selama sebulan penuh,” kata Abdullah, Selasa (1/7) sore kemarin.
Menurutnya, setiap hari puluhan liter air zam-zam habis dibagikan kepada jamaah, yang ikut berbuka puasa di Masjid Al Fairus. Sehingga 1000 liter lebih, air zam-zam asli Makah telah disiapkan untuk berbuka sebulan ke depan. “Kalaupun nanti kurang, kami siap menambahnya. Berapapun kebutuhannya, Insya Allah akan bisa dipenuhi,” ujar Amin.
Amin bersyukur, kegiatan seperti itu bisa lancar terselenggara tiap tahun. Bahkan, kebiasaan tersebut sudah cukup familiar di kalangan masyarakat luar Pekalongan. Terbukti, banyak jamaah dari luar Pekalongan yang sengaja menyempatkan diri merasakan hidangan berbuka puasa ala Timur Tengah di Al Fairus. “Setiap tahun, berbuka puasa dengan cara masjid Nabawi masih kami pertahankan,” tegas Amin.
Sementara untuk buah kurmanya, sebanyak 400 kg atau 4 kuintal didatangkan dari Madinah. Sedangkan hidangan tambahan berupa nasi dan lauknya, berasal dari bantuan para dermawan di Pekalongan. “Nasi dan lauknya ini disumbangkan oleh para pengusaha di Kota Pekalongan. Alhamdulillah mereka sangat antusias untuk ikut menyumbangkan sebagian hartanya,” lanjut Amin.
Sementara itu, H Badawi, 45, warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan mengaku sengaja berbuka di Masjid Al-Fairus, hanya untuk mengingatkan dirinya ketika berhaji di Makah tahun 2009 lalu. Menurutnya berbuka di Masjid Al-Fairus, benar-benar seperti berbuka di masjid nabi.
”Air zam-zam dan kurmanya tidak beda rasanya. Yang membedakan, kalau di Masjid Nabawi tempatnya luas dan yang datang ribuan hingga berdesak-desakan,” ujarnya. (thd/ida)