Jalur Magelang-Ambarawa, khususnya di wilayah Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang dikenal sebagai jalur tengkorak. Sudah tak terhitung kecelakaan terjadi di wilayah tersebut. Korban tewas maupun luka pun sudah banyak berjatuhan.

DI wilayah Kabupaten Semarang terdapat enam titik blackspot (rawan kecelakaan lalulintas), salah satunya jalur maut Ambarawa-Bedono Kecamatan Jambu sepanjang 10 kilometer. Jalur utama menuju Magelang tersebut kerap memakan korban. Diperkirakan penyebab terjadinya kecelakaan lalulintas karena kondisi jalan terlalu curam atau menanjak yang memanjang serta human error serta kondisi kelaikan jalan maupun kendaraannya.
Jika berkendaraan dari Ambarawa, jalur maut mulai terasa kerawanannya ketika masuk kawasan Dedor, Kecamatan Jambu tepatnya di tanjakan Kethekan atau yang sekarang berubah nama menjadi Jambuasri. Perubahan nama tersebut dilakukan karena di tanjakan Kethekan sering terjadi kecelakaan lalulintas dengan korban tewas.
Memasuki jalur tersebut, kondisi jalan tidak mulus dan terlalu sempit sebagai jalan nasional yang arus lalulintasnya padat. Jalan menanjak dan berkelok sangat panjang. Diperkirakan panjang tanjakan di jalur tersebut mencapai jalur landai sepanjang 3,5 kilometer hingga di kawasan Bedono.
Jalan landai dan berkelok dengan samping kanan dan kiri adalah jurang tersebut tidak terlalu panjang. Selanjutnya jalan menanjak kembali hingga sejauh sekitar 3,5 kilometer sampai Bedono, Jambu yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung. Jika berkendara malam hari, jalur tersebut relatif gelap karena kurang lampu penerangan. Ada beberapa titik yang tidak ada lampu jalannya, seperti di kawasan Wawar, Bedono, dan Jambu.
Arus lalulintas di jalur tersebut juga sangat padat. Bahkan cenderung kerap terjadi antrean panjang, terutama jalur Magelang-Ambarawa. Sebab, banyak konvoi truk-truk pasir, yang berimbas mobil-mobil lain harus rela antre di belakangnya. Mobil yang berada di belakang konvoi truk pasir tidak berani menyalip hingga di jalur aman, karena takut bertabrakan dengan kendaraan dari arah berlawanan yang tiba-tiba muncul di jalan menikung.
Kondisi jalan didukung faktor pengemudi yang tidak mempedulikan beban kendaraan menyebabkan terjadinya kecelakaan lalulintas. Paling sering kecelakaan melibatkan truk yang mengalami kegagalan fungsi pengeremen atau mesin. Bahkan pada 2004, terjadi kecelakaan truk yang tidak kuat menanjak hingga nggelondor menghantam acara resepsi pernikahan di tanjakan Kethean. Akibatnya 17 nyawa melayang dalam peristiwa tersebut.
Di lokasi yang sama sebuah truk mengalami gagal pengereman alias rem blong hingga menabrak dan menewaskan 4 pengendara sepeda motor. Kecelakaan itu terjadi April 2012. Kecelakaan maut terbaru menimpa dump truk bermuatan pasir yang mengalami rem blong karena kelebihan muatan pada 8 Juni 2014. Akibatnya, dump truk sarat muatan itu menabrak sedikitnya 10 kendaraan di depannya hingga menewaskan 5 orang pengendara sepeda motor.
Selain peristiwa tersebut masih banyak kecelakaan yang tergolong kecil dengan korban luka parah ataupun tingkat kematian kurang dari empat orang terjadi di jalur tengkorak itu. Sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian mengatakan, jalan utama Jambu-Bedono hingga perbatasan Temanggung kerap terjadi kecelakaan lalulintas. Paling sering adalah kecelakaan lalulintas yang melibatkan truk pasir ataupun kecelakaan sepeda motor dan mobil.
“Wah, kalau sepanjang jalur ini sering terjadi kecelakaan, Mas. Tiap hari ada saja kecelaaan, baik itu sepeda motor terjatuh, nabrak atau ditabrak. Paling sering kecelakaan di sini melibatkan truk, karena kebetulan lalulintas truk pasir sepanjang jalan ini sangat padat. Tetapi paling banyak korban meninggal ya kecelakaan ini. Sebelumnya juga pernah ada bus menghantam di perengan tebing,” tutur Hamdani, 40, warga Desa Bedono, Jambu, kepada Radar Semarang.
Menurut Hamdani, ada kemungkinan kecelakaan yang terjadi karena kondisi jalan yang menikung dan menurun serta kondisi jalan bergelombang. Kondisi tersebut membuat sopir yang lengah akan mengalami kecelakaan. Kondisi jalan menurun dan berkelok itu, menurut Hamdani, terlihat mulai perbatasan Temanggung hingga kawasan tanjakan atau turunan Kethekan yang sekarang berganti nama tanjakan Jambuasri.
“Mungkin karena kondisi jalannya yang menurun sangat panjang dan berkelok ditambah kondisi aspal jalannya bergelombang, sehingga tidak nyaman untuk berkendara. Jadi, ketika lengah sedikit saja bisa celaka. Semestinya ada jalur penyelamat karena banyak angkutan berat lewat jalur ini, dan sering kali kecelakaan karena remnya blong,” kata Hamdani.
Permintaan warga untuk melakukan rekayasa lalulintas juga telah disampaikan kepada DPRD Kabupaten Semarang yakni dengan membuka jalur alternatif sepanjang 2 kilometer yang dulu dibuat oleh Oei Tiong Ham, pengusaha gula asal Semarang.
Jalur tersebut membentang dari Desa Tempuran tembus Desa Bedono (setelah Kopi Eva). Harapannya, dengan dibukanya kembali jalan tersebut dapat mengurai kemacetan yang kerap terjadi di sepanjang jalur utama tepatnya di seputaran Kopi Eva, dan diharapkan dapat mengurangi angka kecelakaan lalulintas. Sebab, kendaraan kecil dari Ambarawa tujuan Magelang atau sebaliknya, bisa lewat jalan tersebut.
Jadi kendaraan kecil dapat mengindari jalan menurun dan berkelok di seputaran Kopi Eva. Sedangkan di jalur utama hanya untuk kendaraan besar. Jalur tersebut dulu lebarnya sekitar 2,5 meter, namun karena tidak digunakan saat ini menjadi jalan setapak. Jalan tersebut saat ini sudah ditanami tanaman oleh warga, aspal yang tersisa hanya 10 meter saja yang masih kelihatan.
“Warga Tempuran dan Bedono menyampaikan surat pada kami, meminta dibukanya kembali jalur gula tersebut,” kata anggota Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong yang juga tinggal di Ambarawa sejak kecil.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Semarang, Prayitno Sudaryanto mengatakan, jalur rawan kecelakaan mulai dari Tanjakan Kethekan (Jambuasri), Kali Malang Bawah, Kali Malang Atas, dan Tanjakan Jlegong. Kondisi jalan tersebut sebenarnya sudah masuk dalam kajian tim gabungan Dishubkominfo, Bina Marga, dan Ditlantas Polda Jawa Tengah.
Hasil dari kajian disarankan untuk melebarkan jalan nasional, penambahan rambu, peringatan, dan penerangan jalur yang dianggap rawan kecelakaan. Selain itu perlunya menguatkan sosialisasi keselamatan berkendara.
“Untuk realisasi kita masih menunggu bagaimana kebijakan dari pusat. Sedangkan kami telah mengusulkan timbangan portabel untuk memudahkan razia pelanggaran tonase,” tuturnya.
Kabid Lalulintas Dishubkominfo, Djoko Noerjanto, mengatakan, di Kabupaten Semarang ada 6 titik blackspot yakni di jalur utama Ungaran-Bawen, Jembatan Wonoboyo Bergas, Nissin, Lemah Abang, Tanjakan Kethekan dan Bedono-Gemawang.
Sementara itu kajian jalan utama Ambarawa-Bedono-Gemawang hingga perbatasan Temanggung sudah pernah diusulkan ke pusat. Namun ada kemungkinan karena dari segi kefatalan dinilai lebih ringan daripada jalan di Jawa Barat karena ada kecelakaan bus yang menewaskan 8 orang. Sehingga kajian tidak jadi dilakukan.
“Kami pernah mengajukan kajian sepanjang jalur Bawen-Banyumanik, sudah dikaji dan ada solusi, yakni pembatas jalan berupa barier permanen sebagai batas antarjalur. Sedangkan kajian dari pusat untuk Ambarawa hingga Gemawang yang berbatasan dengan Temanggung belum ada. Mungkin karena tingkat kefatalnnya masih di bawah jalan di Jawa Barat, jadi yang akhirnya dikaji di Jawa Barat dulu,” tutur Djoko Noerjanto.
Meski demikian, pernah ada kajian bersama dengan kepolisian dan Dinhubkominfo Provinsi Jateng. Hasil usulan dari tim pengkaji di jalur yang termasuk rawan kecelakaan perlu dilakukan pelebaran jalan, pembuatan jalur penyelamat, penambahan rambu peringatan. Untuk perbaikan infrastruktur jalan di jalur Ambarawa-Bedono sudah dirapatkan di Bappeda Provinsi.
Pemkab Semarang sebenarnya kebagian memfasilitasi tanahnya dari tanjakan Kethekan hingga Gemawang. Namun kesulitannya banyak rumah penduduk di tepi jalan. Sehingga yang paling memungkinkan pembuatan jalur penyelamat di sejumlah jalan menurun.
“Sebab, untuk melandaikan jalan itu sulit, karena kondisinya sudah seperti itu. Paling gampang menambah lajur (melebarkan jalan), pembuatan jalur penyelamat dan pemasangan rambu. Hanya saja untuk melaksanakan semua itu masih terkendala pembebasan lahan,” ungkapnya.
Djoko sendiri menilai di jalur tersebut sebenarnya masih tidak begitu curam. Hanya saja, masih banyak pengemudi yang tidak mempedulikan kondisi kekuatan kendaraan. Sebab, masih terlihat truk-truk yang melebihi muatan yang telah ditentukan. Selain itu, masih banyak yang mengabaikan rambu peringatan yang ada.
“Masih ada pengemudi yang tidak mempedulikan rambu ataupun tonase. Padahal kondisi jalannya sempit dan menurun. Jadi, dari segi manusianya, sarananya seperti rambu, penerangan jalan juga turut andil terjadinya kecelakaan seperti itu. Semestinya memang harus ditambah sarananya termasuk jalur penyelamat,” ungkap Djoko.
Kasatlantas Polres Semarang AKP Suwarsi mengatakan, jalur di Ambarawa-Bedono masih layak. Hanya saja perilaku pengemudi yang salah sehingga terjadi kecelakaan.
Lebih rinci Suwarsi mengatakan, medan di Ambarawa-Bedono naik turun dan sempit. Sehingga untuk truk besar tidak bisa cepat saat menanjak akibatnya sedikit kepadatan. Sehingga yang diperlukan agar bersabar tidak asal menyalip. Di jalan menurun terutama dari arah Magelang-Ambarawa, masih banyak truk yang diduga melebihi tonase sehingga fungsi rem tidak bisa berjalan normal.
“Melihat kondisi jalan memang masih layak, tetapi banyaknya kecelakaan lebih banyak disebabkan karena perilaku pengemudi yang tidak mematahu ketentuan,” kata AKP Suwarsi. (tyo/aro)