SISWI SMP 1 Magelang yang nilai unasnya tertinggi adalah Kiran Shadentyra Akbari. Nilai rata-ratanya: 39,2 untuk empat mata pelajaran (mapel) yang diujikan.
Rinciannya, mapel Bahasa Indonesia 9,2, dan tiga mapel lainnya meraih nilai sempurna: 10. Tepatnya, Bahasa Inggris 10, Matematika 10 dan IPA juga mendapatkan nilai 10.
Kepada Jawa Pos Radar Kedu, Kiran—sapaan intimnya—menilai, sekolahnya mampu membuat strategi pembelajaran dan motivasi yang baik bagi siswa-siswinya.
”Contohnya saja, aku pernah ikut kelas kompetitif grade satu. Beberapa bulan turun ke grade dua. Dari situ, aku mengevaluasi kekurangan aku juga; dan termotivasi untuk bisa naik ke grade satu lagi, dengan belajar yang rajin.”
Baginya, soal-soal yang diberikan sekolah jauh lebih sulit dibanding soal-soal unas. ”Menurut aku, soal sekolah lebih sulit. Jadi pas aku ngerjain soal unas terasa mudah,” katanya sembari tersenyum.
Vera Otifa, ibunda Kiran mengapresiasi upaya sekolah. Ia menilai, pihak sekolah sudah bekerja optimal, memberikan pelayanan pengajaran kepada anak didik.
Sekolah juga mengajak komunikasi orang tua maupun wali murid, untuk aktif memberikan pengawasan dan dukungan kepada anak. ”Yang saya tahu, sekolah ini sudah sangat bagus melayani anak sesuai dengan kebutuhan. Jadi, anak juga tidak merasa kesulitan untuk menemukan cara belajarnya.”
Meski menyabet predikat juara tingkat provinsi dengan nilai rata-rata unas tertinggi, Kiran mengaku tak besar kepala.
“Ayah memang selalu mengingatkan kepadaku, tidak boleh sombong walaupun aku berprestasi,” katanya.
Bagi Kiran, rajin belajar membuatnya pintar. “Rajin belajar membuat pintar, sekaligus menjadi kunci kesuksesan.”
Dara yang bercita-cita menjadi dokter spesialis penyakit dalam ini, menuturkan, prestasinya membanggakan orang tua, merupakan pembuktian bahwa di sekolah, dia tak main-main dalam belajar. “Ini bukti kalau aku nggak main-main saat belajar di sekolah,” ungkapnya.
Dia juga membeberkan tips belajarnya. Bagaimanapun, ucap Kiran, belajar harus diimbangi dengan tidur yang cukup, serta tetap menyempatkan waktu untuk bermain.
“Aku belajar tiap hari Senin-Jum’at, mulai habis Maghrib sampai jam 20.00. Setelah itu tidur. Kalau Sabtu, setelah pulang sekolah sampai Minggu, aku gunakan untuk bermain, supaya nggak jenuh.” (puput/isk/ce1)