Pertanyaan;
Assalamu’alaikum Wr Wb, Pak kiai Dr H Ahmad Izzuddin MAg di Radar Semarang yang saya hormati. Sebagai orang yang masih awam, pengetahuan saya masih kurang tentang keutamaan di bulan Sya’ban. Pertanyaan saya, bagaimana keutamaan di bulan Sya’ban? Lalu apa yang harus kita lakukan di bulan Sya’ban ini, terutama untuk menyambut kedatangan bulan Ramadan? Demikian, terima kasih atas penjelasan dan jawaban Pak kiai Ahmad.

Wassalamu’alaikum Wr Wb
Kurniawan, di Salatiga 08122554xxx

Jawaban:

Wa’alaikumsalam Wr Wb, Bapak Kurniawan di Salatiga yang saya hormati dan dirahmati Allah SWT. Terima kasih atas pertanyaan Bapak. Bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban karena saat itu dia menampakkan/menonjolkan di antara dua bulan, yakni Ramadan dan Rajab. Bulan Sya’ban juga bermakna bercabang (asy-Sya’bu) atau berpencar (At-Tafriq), karena banyaknya kebaikan pada bulan itu yaitu ditandai dengan adanya kebiasaan pada zaman dahulu, ketika pada bulan Sya’ban banyak orang berpencar mencari sumber-sumber air. Bulan Sya’ban adalah bulan mulia oleh karenanya disunahkan bagi kaum muslimin untuk banyak berpuasa. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadis shahih yang artinya, ”Dahulu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sehingga kami mengatakan dia tidak pernah berbuka, dan dia berbuka sampai kami mengatakan dia tidak pernah puasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya selama satu bulan kecuali Ramadan, dan saya tidak pernah melihat dia berpuasa melebihi banyaknya puasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)”.
Pada suatu waktu sahabat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW; ”Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadan) kecuali pada bulan Sya’ban? Rasulullah SAW menjawab: ”Itu bulan di mana manusia banyak melupakannya, yaitu antara Rajab dan Ramadan. Di bulan itu segala perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i). Di lain tempat istri Nabi SAW, sayyidatina Aisyah RA pernah berkata: ”Suatu malam Rasulullah SAW salat, kemudian beliau bersujud panjang sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah SAW telah diambil. Karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah SAW selesai salat beliau berkata: ”Hai Aisyah engkau tidak dapat bagian?” Lalu aku menjawab: ”Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah SAW telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: ”Tahukah engkau, malam apa sekarang ini?”. ”Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. Beliau pun berkata: ”Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hamba-Nya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki.” (H.R. Baihaqi dari Ala’ bin Harits).
Jika kita pahami, beberapa riwayat di atas setidaknya memberikan penjelasan kepada kita akan keutamaan-keutamaan bulan Sya’ban. Dikatakan bahwa bulan Sya’ban ialah bulan di mana amal-amal perbuatan manusia diangkat ke hadirat Tuhan penguasa alam. Bulan Sya’ban juga merupakan bulan di mana Allah SWT saat malam pertengahan bulan Sya’ban mengawasi hamba-hamba-Nya (adakah di antara mereka yang mendirikan qiyamul lail saat itu), memaafkan mereka yang memohon ampunan, mencurahkan kasih sayang bagi mereka yang mengharapkannya dan menyingkirkan hamba-hamba-Nya yang bersifat pendengki. Selain demikian, beberapa riwayat di atas, ada dua hal yang biasa atau setidaknya pernah dilakukan Rasulullah SAW di bulan Sya’ban yaitu memperbanyak berpuasa serta ber-qiyamul lail (mendirikan salat) pada malam pertengahan bulan Sya’ban. Memperbanyak berpuasa merupakan amaliah yang sangat gemar dilakukan Rasulullah SAW di bulan Sya’ban. Maksud memperbanyak di sini bukan berarti beliau melakukannya sebulan penuh akan tetapi beliau sering mengisi hari-hari di bulan Sya’ban dengan berpuasa.
Dengan demikian, marilah kita manfaatkan kesempatan bulan yang penuh keutamaan ini dengan memperbanyak ibadah puasa atau amal saleh lainnya. Selain sebagai manifestasi pendekatan diri kepada Allah SWT (taqarruban ilallah), puasa juga bisa menjadi ajang pemanasan dalam menghadapi bulan Ramadan yang di dalamnya diwajibkan berpuasa. Jika seseorang terbiasa berpuasa sebelum Ramadan, maka ia akan lebih terbiasa, lebih kuat dan lebih bersemangat dalam menunaikan puasa wajib di bulan Ramadan. Demikian jawaban yang bisa saya sampaikan, semoga ada manfaatnya dan barakah. Wallahu ’alam bishshowab. (*/ton/ce1)