Warga Waswas Dampak Kesehatan

KLATEN–Lahan yang dijadikan tempat pembuangan limbah hasil pengolahan batubara di Dusun Bakalan, Desa Ceper, Kecamatan Ceper ternyata tidak hanya satu lokasi. Pemerintah Desa Ceper ternyata mendapat laporan dari warga di dusun yang sama di mana ada lahan berbeda dijadikan tempat pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Lokasi pertama yang digunakan untuk membuang limbah seluas .4.400 meter persegi. Untuk lokasi lain yang dijadikan tempat pembuangan ternyata lebih luas, karena mencapai 6.000 meter. Pembuangan sudah dilakukan sekitar setahun terakhir pada lahan yang rencananya akan dibangun pabrik garmen.
“Kami baru saja menerima laporan dari warga Dusun Bakalan, Desa Ceper terkait lokasi yang kedua. Memang sudah setahun lalu limbah tersebut dibuang ke lahan kosong.Namun karena baru dilaporkan maka sebelumnya kami tidak mengetahui,” ujar Camat Ceper Supriyono.
Dia menambahkan, temuan lokasi baru pembuangan limbah batubara sudah dilaporkan ke Badan Lingkungan Hidup (BLH). Banyak masyarakat yang khawatir jika keberadaan limbah akan berdampak pada polusi lingkungan. Apalagi jarak dua lokasi yang dijadikan pembuangan limbah tidak terlalu jauh, hanya puluhan meter saja.
Meski sudah didesak BLH agar limbah batubara segera dikeruk dan dibuang ke tempat yang semestinya, namun pantauan Jawa Pos Radar Solo ternyata limbah hanya diuruk dengan tanah. Sehingga limbah batubara yang digunakan untuk meratakan lahan tidak kelihatan.
“Sekarang truk yang biasa mengangkut bahan untuk meratakan tanah bukan lagi limbah batubara. Namun hanya tanah dan cadas yang diangkut menggunakan truk. Sudah beberapa hari terakhir truk mengangkut tanah,” ujar warga sekitar yang namanya enggan disebutkan.
Kepala Desa Ceper Ari Suparyanto menambahkan, terkait pembuangan limbah pengolahan batubara pihaknya menyerahkan sepenuhnya pada BLH Klaten. Karena instansi ini yang berhak untuk memberikan peringatan atau memberikan sanksi pada pemilik jasa angkutan.
“Kami sebagai pemerintah desa meminta agar ada sosialisasi kepada masyarakat. Saat ini banyak yang merasa khawatir dengan dampak yang sewaktu-waktu muncul karena adanya limbah batubara yang dibuang sembarangan,” imbuhnya.
Kabid Amdal dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan BLH Klaten Anwar Shodiq mengatakan, surat peringatan kepada pemilik lahan akan segera dikirim agar limbah batubara diangkut kembali. Pihaknya juga sedang menyiapkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup (LH) atas kasus yang terjadi di Dusun Bakalan. (oh/bun)