DB Serang Demak, 28 Dirawat, 3 Tewas

152

DEMAK — Wabah demam berdarah dengue (DBD) menyerang warga Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Demak. Sebanyak 28 warga dirawat di sejumlah rumah sakit di Jepara dan Kudus lantaran terjangkit penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini. Dari jumlah itu, seorang di antaranya meninggal dunia di RS Kartini Jepara, yakni Salami, 50, warga RT 2 RW 2. Sedangkan, dua warga lainnya meninggal sebelum dibawa ke RS. Yakni, Kundori, 78, dan Matori, 84, keduanya warga RT 8 RW 1.
Kepala Desa Kedungmutih, Hamdan, mengatakan, warganya yang sakit sebagai dampak banjir tersebut antara lain dirawat di RS Kartini Jepara, RS Graha Jepara, RS Kumalasiwi Pecangaan Jepara dan Kudus, serta di RSUD Kudus. Selain dilarikan ke RS, ratusan warga lainnya juga menjalani rawat jalan, baik di dokter terdekat maupun di posko kesehatan Puskesmas Wedung II yang berkantor di Desa Mutih Kulon, Kecamatan Wedung.
Untuk memastikan penyakit mereka, petugas Puskesmas Wedung II telah melakukan surveillance atau penelitian di lokasi tempat warga Desa Kedungmutih bermukim tersebut. ”Kita terkejut karena baru kali ini mengalami kejadian ini,” ujar Hamdan kepada Radar Semarang sore kemarin.
Menurutnya, berdasarkan hasil sampel dari 44 kepala keluarga (KK) yang diambil petugas kesehatan, 77 persen terindikasi menderita penyakit DBD. Menurutnya, penyakit itu menyerang warga tidak pandang bulu, tak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa. ”Kita sedang siaga,” ungkap Hamdan dengan suara bergetar.
Dia mengatakan, pihak pemerintah desa meminta secepatnya pertolongan kepada siapa pun untuk ikut mengatasi wabah penyakit mematikan tersebut.
”Kita minta pengobatan gratis untuk penanganan darurat. Warga banyak yang khawatir terkena demam berdarah dan penyakit penyerta lainnya itu. Kita minta bantuan fogging,” katanya.
Hamdan menambahkan, sejak desanya terkena banjir luapan Sungai Serang yang juga melanda Desa Tedunan dan Kedungkarang dua pekan terakhir itu, ekonomi warga hancur. Sebab, garam dan ikan tambak mereka hilang terendam banjir. Rumah juga terendam berhari-hari sehingga memunculkan penyakit tersebut. ”Saya dan para perangkat desa juga merasakan ngilu-ngilu di persendian. Bahkan, Abdul Muin anak perangkat desa sini juga begitu,” ujarnya.
Dia mengatakan, kejadian itu telah dilaporkan ke puskesmas dan instansi terkait lainnya. Menurutnya, warga yang menderita itu mengalami gejala seperti, kepala pusing, badan panas, tulang persendian ngilu atau nyeri, dan lainnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Demak, dr Iko Umiyati melalui Humas Sukardjo SKM MKes mengatakan, petugas Puskesmas Wedung II telah melakukan surveillance. Ini dilakukan setelah pihak desa setempat sehari sebelumnya melaporkan warga yang sakit. Hasil surveillance itu, tiga warga diketahui positif terserang demam berdarah dan dua ditemukan positif terkena kasus leptospirosis (penyakit kencing tikus) serta suspect leptospirosis. Jumlah pasti warga yang menderita leptospirosis belum diketahui.
”Untuk leptospirosis ini gejalnya sulit dideteksi karena panas yang diderita warga mirip dengan penyakit kuning, yakni panas tinggi yang berpotensi menyerang ginjal dan jantung. Kalau leptospirosis ini sangat mematikan,” katanya.
Dia menambahkan, dimungkinkan pula ada warga yang kena chikungunya. Sebab, nyamuk yang menyerang sama yakni aedes aegypti. Terkait masalah tersebut, status berkembangnya penyakit termasuk kejadian luar biasa (KLB).
”Indikatornya, sebelumnya tidak ada menjadi ada akibat bencana banjir. Ini sudah memenuhi KLB,” ujar Sukardjo.
Dia menambahkan, Desa Kedungmutih selain kena banjir, lingkungannya juga dikenal dengan sanitasi yang kurang memadai.
”Sanitasi lingkungannya tidak baik ditambah banjir sehingga memengaruhi stamina tubuh warga. Apalagi, mereka juga tidak mau mengungsi. Akhirnya, fisik lemah dan ketahanan tubuh berkurang. Mereka pun mudah terjangkit penyakit penyerta banjir,” terangnya.
Untuk mengatasi KLB itu, pihaknya selain menugaskan petugas Puskesmas Wedung II, juga segera melakukan upaya fogging di Desa Kedungmutih. ”Kita juga lakukan kaporitisasi di sumur warga,” katanya. (hib/aro/ce1)