WONOSOBO – Bupati Wonosobo Kholiq Arif menyayangkan kasus gesekan antara warga dengan Shihabudin di Desa Bowongso Kecamatan Kalikajar, pada Senin (20/1) dini hari. Mestinya tragedi itu tidak perlu terjadi. Karena sejak lima belas tahun terakhir, masyarakat Wonosobo sudah bekerja keras membangun hidup damai.
“Kami menyesalkan kejadian itu. Kami bekerja keras beberapa tahun terakhir, semua masyarakat memahami bahwa perbedaan sebagai rahmat, dan itu sudah berjalan aman,” kata Kholiq Arif kepada Radar Semarang, kemarin (21/1).
Pihaknya tidak membenarkan aksi massa yang nyaris terjadi pengeroyokan terhadap Ketua FPI Jateng Shihabudin. Namun, pihaknya juga mewanti-wanti kepada tokoh agama apapun, agar bisa mengajak masyarakat untuk saling menghormati satu sama lain.
“Panitia pengajian harus memilah, jangan menempatkan penceramah yang hobi mendiskreditkan pihak lain. Karena Wonosobo memiliki pengalaman kurang baik. dulu, tawur antarkampung, sekarang sudah posisi damai, bisa saling toleransi,” imbaunya.
Dengan adanya kasus itu, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan para camat, agar melakukan pendekatan dengan para tokoh agama di tiap wilayah. Tujuannya, agar komunikasi antara masyarakat yang sudah kuat untuk menghormati perbedaan terus terjalin dengan baik.
“Hidup dalam kekerasan sama sekali tidak nyaman, bikin capek. Tapi hidup dalam damai jauh lebih indah, saya sudah komunikasi dengan semua camat,” ujarnya.
Sebagai antisipasi, Kholiq juga mengajak kepada semua pemuka agama dan tokoh masyarakat, untuk lebih hati-hati dalam menempatkan penceramah kegiatan agama. Panitia pengajian sebaiknya mengetahui rekam jejak calon penceramah. Karena inti pengajian adalah berbagi ilmu, bukan berbagi kekerasan.
“Pengajian sebagai sarana berbagi ilmu. Apalagi Maulid Nabi, sebagai sarana mengajarkan etika dan aklak. Bukan menanamkan saling benci dan menjelekkan pihak lain,” ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Shibahudin Ketua FPI Jateng, pada Senin (20/1) sekitar pukul 00.30 WIB, nyaris dikeroyok warga di Desa Kembaran Kecamatan Kalikajar. Hal ini menyusul pernyataan Shihabudin yang saat ceramah di Desa Bowongso diduga menyinggung ormas Banser Ansor Wonosobo. Bahkan menyatakan kalimat bernada SARA. (ali/lis)