AKAN DITUTUP: Salah satu gang di kawasan Lokalisasi Sunan Kuning. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKAN DITUTUP: Salah satu gang di kawasan Lokalisasi Sunan Kuning. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG, RADARSEMARANG.COM – Hampir 100 persen Wanita Pekerja Seks (WPS) di lokalisasi Sunan Kuning terpapar Infeksi Menular Seksual (IMS). Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menyebutkan jika 96 persen WPS terpapar IMS.

“Positif semua dan itu kami peroleh saat melakukan pemeriksaan atau screening medis awal,” ujar Kepala Dinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam, Sabtu (28/9).

Pemeriksaan yang dilakukan Dinkes Kota Semarang tersebut menggunakan alat diagnostik Rapid Test terhadap semua WPS di Sunan Kuning. Dikatakannya, IMS tersebut dapat menular melalui kontak seksual. Termasuk hubungan seks vaginal, anal, dan oral.

Lebih dari 30 bakteri, virus, dan parasit penyebab IMS ditularkan melalui kontak seksual yang tidak aman atau tanpa menggunakan kondom. Karena itu, pihaknya menyambut baik wacana Pemkot Semarang untuk menutup lokasisasi. Dimana Pemeriksaan Rapid Test oleh Dinkes Kota Semarang juga merupakan bagian tahapan penutupan. “Itu tesnya kemarin pas ada wacana mau ditutup. Kami dari Dinkes mem-back-up data,” katanya.

Mengetahui hasil pemeriksaan itu, ia langsung memberikan edukasi kepada WPS agar yang sudah positif terinfeksi dapat meminimalisasi penularan. Tentunya dengan kebersihan dan tidak melakukan kontak seksual secara sembarangan terlebih dahulu.

Dalam hal ini, Dinkes Kota Semarang juga sudah memfasilitasi dokter spesialis melalui kerjasama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRMT Wongsonegoro. “Para dokter spesialis turut memberikan pengobatan kepada WPS yang positif terinfeksi penyakit menular,” ungkapnya.

Pihaknya juga memastikan jika pemberian pendampingan kepada para WPS pasca penutupan lokalisasi tetap akan dilakukan. Hal itu dilakukan kepada para WPS lokalisasi Sunan Kuning yang berasal dari Kota Semarang. Pendampingan dilakukan supaya penyakit tersebut tidak sampai menyebar.

Namun sayangnya, sampai sekarang penutupan lokalisasi Sunan Kuning juga belum jelas juntrungnya. Padahal pihak WPS dan pengelola berharap supaya penutupan bisa lebih dipercepat. “Ini kaitannya dengan masalah ekonomi. Sejak dimunculkan isu penutupan, tamu SK menurun,” ujar pengelola Resos Argorejo atau Sunan Kuning, Suwandi.

Untuk langkah dari Dinkes Kota Semarang yang akan melakukan pendampingan pasca penutupan pihaknya sangat mengapresiasi. “Sehingga anak-anak asuh ini tidak langsung di lepas saja nantinya. Tetapi juga ada pendampingan seperti pendampingan untuk penderita IMS. (ewb/ida/ap)