ADITYA David Wirawan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Remaja yang bersekolah di SMA Kristen Petra I Surabaya itu berhasil mengalahkan 78 negara di International Biology Olympiad (IBO) Hungaria, Juli 2019.

C. DENNY MAHARDIKA, Surabaya

Mata Adit berbinar ketika menunjukkan empat medali yang diraihnya dari kejuaraan biologi. Dua medali di antaranya didapat saat duduk di bangku SMA. Foto wajahnya juga terpampang di halaman sekolah di daerah Surabaya Barat itu. Adit berprestasisejak duduk di bangku SMP. Kerja keras selama empat tahun dan rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya mengalahkan banyak pesaing.

Dia mengatakan harus bersaing dengan ribuan siswa lain dalam banyak ajang kompetisi sebelum mewakili Indonesia di kejuaraan bergengsi itu. ”Bangganya luar biasa, ngibarin bendera Merah Putih dengan nyumbangin medali emas,” katanya.

Prestasi itu dimulai saat Adit membuat hidroponik sewaktu SMP. Nah, proyek tersebut dijadikan sebagai batu acuan untuk mendalami biologi. Bagi remaja 16 tahun itu, biologi mengasyikkan. Sebab, bukan hanya hafalan teori. Praktik membedah banyak binatang dan melihat organ serta menganalisis tumbuhan menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Untuk itu, dia tertarik mempelajari bidang tersebut. Tahap demi tahap dilaluinya untuk menjadi juara. Mulai ikut kompetisi antarsekolah menengah pertama se-Kota Surabaya, provinsi, hingga nasional. Di tingkat Jawa Timur, hanya dia yang menjadi wakil di ajang internasional.

Pada 2016, emas pertama diraihnya. Saat itu, dia duduk di bangku SMP. Emas tersebut merupakan hasil dari IBO di Bali. Waktu itu, soal yang diberikan setingkat SMA. ”Kayak akselerasi gitu. Untung, sekolah mendukung saya,” ujar dia.

Sewaktu SMA, Adit kembali mendapatkan medali perak dalam ajang IBO di Teheran, Iran. Putra terakhir Timotius Wirawan dan Yulinda Wirianta itu menunjukkan kemampuannya saat menjalani ujian praktik dengan membedah organ lintah. Nah, dari organ tersebut, dia diminta untuk menunjukkan enam bagian tubuh lintah secara tepat dan cepat. Tak hanya itu, dari teori yang ikut dilombakan, dia mendapat nilai yang ciamik. Medali perak di ajang internasional tersebut sukses diraihnya.

Hal yang sama terjadi saat di Hungaria. Pesaingnya berasal dari negara-negara adidaya. Selain itu, mereka langganan juara. Contohnya, RRC, Jerman, Rusia, dan Amerika. Sebanyak 285 peserta dari 78 negara berhasil ditaklukkannya dengan kerja keras.

Di sana, Adit melakukan praktik dengan membedah organ ayam. Organ hewan berkokok itu dibedah dan diambil beberapa bagian untuk ditunjukkan. ”Membedah ayam itu jarang sekali. Untungnya, ada tim pembimbing yang sempat memberikan pelajaran terkait lomba-lomba tersebut,” terang dia. Medali emas pun direbut putra bungsu dua bersaudara itu.

Nah, saat di SMA, masa-masa sulit dialaminya. Salah satunya sering tertinggal mata pelajaran. Akibatnya, proses belajarnya dilalui dengan menjalani banyak ujian susulan. ”Ya, misalnya banyak ujian susulankarena pelatihan nasionalnya memakan waktu empat bulan,” ungkapnya.

Meski begitu, proses belajar di sekolah bisa teratasi. Alasannya, di sekolah, kata Adit, guru mendukung dirinya untuk terus berprestasi. ”Jadi misalnya saya nyusul atau ikut pelatihan, biasanya guru-guru mengirimi saya e-mail hal-hal yang dipelajari untuk ujian,” tambahnya.