Pernahkah membayangkan Indonesia pada 2045? Komunitas Graphic Recorder Indonesia (GRID) punya jawabannya. Lorong waktu masa depan negeri ini disuguhkan melalui bahasa gambar yang ciamik. Pada tahun itu pula mereka berharap bahasa gambar masuk kurikulum.

UMAR WIRAHADI, Jakarta, Jawa Pos

EMPAT siswi SMA itu tepekur di depan gambar yang tertempel di balik kaca bening. Mereka lalu mesam-mesem sendiri. Mengulum senyum, kemudian tertawa lepas. ”Lucu banget, ya,” seru Violla Almira, 16, seorang di antara mereka. Tiga rekannya tak henti-henti tergelak.

Gambar yang mereka lihat itu bertajuk 17 Agustus 2045. Dilukis di kertas HVS 80 gram. Dalam gambar tersebut, tampak anak-anak mengikuti perayaan lomba khas Agustusan. Misalnya, makan kerupuk, panjat pinang, gebuk bantal, balap karung, dan balap kelereng.

Yang mengundang tawa dan terasa tidak biasa, lomba tersebut memanfaatkan teknologi. Sama sekali belum ada pada era sekarang. Lomba panjat pinang, contohnya. Lomba itu tidak lagi diikuti hiruk-pikuk manusia yang berebut naik batang pinang yang licin. Peserta lomba panjat pinang itu adalah para robot.

Mereka berlomba naik ke atas tiang untuk berebut hadiah yang tergantung di atas tiang. Robot-robot itu dikendalikan anak-anak melalui remote control. “Kira-kira, beginilah gambaran lomba Agustusan tahun 2045,” kata Deni Rodendo pada Senin lalu (19/8).

Pria 44 tahun tersebut merupakan penggagas acara yang berlangsung di lantai 1 Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan. Pameran bertajuk Reka Rupa Nusantara (Rupantara) 2045 itu digelar dalam rangka peringatan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Indonesia.

Lomba makan kerupuk juga di luar mainstream. Pada 2045 nanti, kerupuk yang dimakan digantung di atas drone. Lalu, dengan teknologi tertentu, anak-anak melayang-layang di udara berebut makan kerupuk yang tergantung di drone. “Tidak kebayang kan bagaimana serunya,” ujar Deni.

Lomba balap karung pun demikian. Bakal berlangsung di udara. Anak-anak peserta lomba beterbangan di dalam karung mirip karpet terbang versi film Aladdin. Sementara lomba gebuk bantal akan digelar dalam versi teknologi virtual. Peserta cukup menempelkan kacamata “ajaib”.

Teknologi tersebut akan membawa anak-anak berinteraksi dalam dunia maya layaknya sedang bermain gebuk bantal di dunia nyata. “Sekarang rasanya mustahil. Tapi, masih 26 tahun lagi. Teknologi akan terus berkembang,” imbuh alumnus jurusan seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Gambar bertema 17 Agutus 2045 adalah satu di antara 27 karya yang dipamerkan untuk memperingati hari kemerdekaan. Penggagas kegiatan seni tersebut adalah Graphic Recorder Indonesia (GRID), sebuah komunitas yang berisi pegiat seni, khususnya seni lukis.

Menurut Deni, gambar yang dipamerkan bukan sekadar hasil imajinasi. Namun bersumber dari rekaan yang disesuaikan dengan Visi Indonesia 2045. Dokumen itu dikeluarkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). “Dokumen dari Bappenas itu kami rekam menjadi bentuk gambar,” jelasnya.

Setiap gambar memiliki tema. Salah satunya ekonomi kreatif. Dilukiskan, tahun 2045 disebut zaman zero unskilled worker. Semua orang menjadi tenaga terampil. Semua orang mengoneksikan aktivitas fisik dengan teknologi virtual.

Pada tahun itu juga mulai merebak agile working. Yaitu, sebuah konsep kerja yang mengacu pada fleksibilitas ruang, waktu, serta cara kerja. Bekerja bisa di mana pun dan kapan pun. Menekankan pada kreativitas dan produktivitas. Agile working lebih berorientasi pada target kerja yang optimal.

Sama juga dengan proses belajar-mengajar. GRID membayangkan fun learning. Belajar bisa di mana saja dan kapan saja. “Peran guru ke depan harus lebih banyak membimbing sekaligus menginspirasi sehingga anak harus mengenal potensi sejak dini,” sambung Karlina Octaviany, anggota GRID yang lain. “Dan yang pasti, anak-anak harus menguasai bahasa gambar,” tambahnya.

Indonesia bakal membuat banyak lompatan pada 2045. Tahun itu adalah satu abad kemerdekaan. Semua menjadi masyarakat Android. Termasuk pengurus karang taruna sekalipun. Dua puluh enam tahun sejak sekarang, karang taruna akan melompat menggunakan teknologi 6.0.

Semua Visi Indonesia 2045 tersebut tersuguh dengan apik dalam bahasa gambar. Memang, tidak mudah untuk menangkap maksud rangkaian dalam gambar itu. Dari pemantauan koran ini, tidak sedikit pengunjung yang mengernyitkan dahi. Mereka berhenti beberapa menit sebelum melanjutkan ke bagian gambar yang lain. Namun, justru di situlah asyiknya. Menebak-nebak dan merasa puas begitu memahami maksudnya.

Memang, dalam tiap bingkai gambar, ada sedikit keterangan tulisan. Namun, itu hanya sisipan. Semua penjelasan didominasi gambar dan simbol. Jawa Pos merasakan bagaimana asyiknya membaca Visi Indonesia 2045 dalam bahasa visual. “Kami ingin membiasakan masyarakat untuk membaca dan berkomunikasi lewat bahasa gambar,” tutur Rina Kusuma, anggota GRID yang lain.

Graphic recorder, jelas dia, pada dasarnya sama dengan membuat catatan dalam bentuk tulisan. Hanya, perbedaannya, catatan lebih banyak dalam bentuk gambar. Sisipan tulisan hanya menjadi pelengkap keterangan gambar visual.

Deni Rodendo mengisahkan, graphic recorder mulai dikenal di Indonesia pada 2011. Itu berawal saat dirinya kerap diminta sejumlah LSM untuk membuat rekaman dalam bentuk gambar. Metode tersebut dinilai efektif menyampaikan edukasi kepada peserta pelatihan atau masyarakat. “Terutama di pedesaan. Akan mudah menangkap pesan dalam gambar daripada membaca buku,” ungkap Deni.

Pada tahun itu pula GRID terbentuk. Komunitas tersebut kerap diminta kementerian dan lembaga pemerintah untuk membuat rekaman dalam gambar. Mereka diminta membuat notulensi grafis hasil pertemuan atau rapat-rapat kementerian. Meski pandai menggambar, tidak berarti anggota komunitas selalu lancar jaya saat menggoreskan pena di atas kertas.

Mereka sering kali mengalami kesulitan untuk menuangkan gambar yang sesuai dengan isi pembicaraan. Apalagi saat pejabat utama berpidato. Namun isi pidatonya sekadar basa-basi. Tanpa isi. Di situlah Deni cs kesulitan untuk membuat notulensi gambar. “Kalau mentok begitu, kami terpaksa menggambar orangnya saja. Di sampingnya ada sisipan kata terima kasih. Sudah, itu saja,” ujarnya, lalu tertawa.

Kini GRID aktif berkampanye ke berbagai pelosok Indonesia. Sasarannya lebih banyak sekolah. Tujuannya, guru dan siswa menggalakkan pelajaran menggambar di sekolah. “Kami punya visi agar bahasa gambar dimasukkan sebagai kurikulum tahun 2045,” kata pria yang dikenal humoris itu. (*)