UMUMNYA, tempat kebugaran berada di dalam ruangan. Tertutup dan ber-AC. Namun, tidak demikian Stellar Powerhouse. Tempat kebugaran kalistenik itu justru berada di balai RW.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

”Saya bukan orang yang mendadak jadi,” ujar Dedy Darsono Gunawan saat memulai obrolan dengan Jawa Pos Jumat lalu (2/8). Mendirikan sebuah tempat atau pusat latihan kalistenik dan membawanya hingga tumbuh besar seperti sekarang adalah sebuah perjalanan tersendiri. Terlebih, dia pernah hidup jauh dari Surabaya. Melanglang dari Australia hingga Taiwan selama 14 tahun untuk bekerja sekaligus menyelesaikan pendidikan sampai jenjang S-3.

Alumnus information technology dari University of New South Wales itu kembali ke Surabaya pada 2012. Belum kenal banyak orang dan tabungan pun masih minim. Suatu ketika, Dedy yang punya keluhan skoliosis atau kelainan tulang belakang itu sering merasa kesakitan ’’Mau nge-gym nggak punya duit. Aku nyari taman buat latihan sendiri. Akhirnya aku nemu di Taman Persahabatan, Jalan Sulawesi, yang bar-nya enak banget buat gelantungan,” kenangnya.

Di taman tersebut, Dedy memang kerap bergelantungan hingga berloncat-loncatan. Ada rasa malu, sebetulnya, kalau mau jujur karena dilihat banyak orang. Namun, Dedy sadar, itu adalah taman kota alias fasilitas publik yang berada di dekat lampu merah. Tidak ada pilihan selain tahan malu. ’’Dilihatin orang-orang yang lagi lewat sama pengendara yang berhenti di lampu merah. Ya udah cuek aja karena punggungku sudah sakit banget,” terangnya, lantas tertawa.

Namun, siapa sangka, lambat laun ada beberapa orang yang kepo. Mereka bertanya apa sebetulnya yang dilakukan Dedy. Dari segelintir orang yang penasaran itu, lama-lama jadi semakin banyak yang tertarik. Dedy pun tak berkeberatan mengajari mereka gerakan-gerakan kalistenik yang juga dikenal sebagai street workout itu. Dari sanalah bercokol komunitas bernama Tim Draconian. Sekumpulan orang-orang yang rutin berolahraga bareng di Taman Persahabatan.

Sekali latihan, pesertanya bisa sampai 50 orang. ’’Tukang bakso, dokter, hingga business man ngumpul di Draconian. Sampai pernah didatangi Bu Risma,” ungkap lelaki yang pernah meraih penghargaan Best Facilitators of Entrepreneurship Program saat masih menjadi dosen di Universitas Ciputra (UC) pada 2013–2014 itu. Awal 2015, seorang kawan menyarankan sekaligus mendukung Dedy untuk punya bar sendiri yang ditempatkan di dalam rumah.

’’Ada yang bilang, kamu itu bikino bar sendiri poo. Aku iki kepengen latihan ambek kamu. Daripada di dekat lampu merah, ramai, debu tok,” ujar Dedy yang menirukan perkataan seorang teman waktu itu. Dedy lantas memberanikan diri menyewa sebuah rumah di kawasan Kupang Indah untuk membuka kelas kalistenik. Hampir setiap hari selama dua minggu, dia menyebar broadcast pada kontak BlackBerry-nya kala itu untuk menarik member. Dan, hasilnya nihil.

Tidak ada yang merespons pesan tersebut. Hingga satu kawannya mau bergabung. Satu orang saja, yang saat itu punya berat badan (BB) 100 kilogram. Kemudian, datang seorang lagi cece-cece yang juga superbuncit. Sebulan berlatih bareng Dedy, cece tersebut menunjukkan perubahan pada perut buncitnya lewat foto before-after.

Foto itu dibagikan si cece ke sosial media dan menyebar. ’’Dari situ langsung dwarr membeludak. Dari mulut ke mulut dan it works like magic,” imbuhnya. Dedy lantas pindah tempat dari rumah sewaan ke Balai RW 5 Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, sejak 5 Agustus 2015. Dia mengusung nama Stellar Powerhouse. Awalnya, ada dua coach dengan 30 member. Sekarang Stellar Powerhouse berjaya dengan mencatat 600 member dan 50 coach.

Uang sewanya kerap dimanfaatkan pihak RW untuk biaya penerangan jalan maupun pengecatan. Hal itu membuat Dedy semakin tidak berkeberatan meski biaya sewanya dinaikkan saban tahun. ’’Kalau ada warga yang mau pakai alat di sini, silakan. Sering kok ada satpam sampai anak-anak yang pakai, nggak ada masalah. Semakin memberi, semakin banyak kita mendapatkan,” paparnya.

Jika ditanya rumus suksesnya, Dedy akan langsung menjawab jujur sebagai kata kunci. Menurut dia, yang menjadi prioritas adalah menyehatkan orang, bukan sebatas mengejar uangnya.