33 C
Semarang
Jumat, 29 Mei 2020

Dari Musibah Truk Timpa Taksi Online, Aisyah Kini Jadi Piatu

Another

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Kecelakaan maut terjadi di Cibodas, Tangerang, Banten, pada Kamis (1/8). Empat orang di dalam taksi online tewas setelah tertimpa truk bermuatan tanah merah. Satu-satunya yang selamat adalah balita berusia 13 bulan. Sang ibu berteriak meminta tolong. Begitu anak dalam pelukannya itu berhasil dievakuasi, dia meninggal.

YOGI WAHYU PRIYONO, Tangerang, Jawa Pos

TIDAK ada yang menduga jika pagi itu akan menyisakan kedukaan mendalam bagi Riko. Pria 34 tahun tersebut kehilangan tiga keluarganya sekaligus. Istrinya, Fatmawati, 27; adik iparnya, Nanda Saputra, 24; dan sepupunya, Wandi, 22; tewas setelah taksi online yang mereka tumpangi tertimpa truk bermuatan tanah merah. Edy, driver mobil itu, juga meninggal.

Satu-satunya penumpang yang selamat di Daihatsu Sigra tersebut hanya putri Riko, Aisyah, 13 bulan.

Pelayat terus berdatangan di kediaman Riko, Jalan Karet IV, RT 001, RW 017, Kelurahan Cibodasari, kemarin (2/8). Sebelum pemakaman ketiganya yang dilakukan selepas salat Jumat, Riko menolak diwawancarai. Dia meminta pamannya, Suardi Guci, untuk menceritakan kejadian tragis itu.

Menurut Suardi, beberapa anggota keluarganya sudah merasakan firasat tak enak. Namun, mereka tak mampu menebaknya. Ibunda Riko yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji, misalnya. “Terasa ada yang mengganjal,” kata Suardi.

Fatmawati juga tak seperti biasanya meminta ulang tahunnya yang jatuh pada 12 Agustus nanti dirayakan. Suardi menceritakan, sehari-hari Fatmawati berdagang pakaian di Pasar Bayam, Cibodasari, Tangerang, Banten. Hari itu Fatmawati mengajak dua saudara serta putrinya kulakan ke Tanah Abang, Jakarta Pusat. Seperti biasa, Fatmawati berangkat selepas salat Subuh dengan menggunakan taksi online. “Anak sulungnya, Aisyah, kadang ikut kadang enggak. Karena sudah sekolah TK,” terang Suardi.

Setelah Fatmawati berangkat, Riko kembali tidur. Satu setengah jam kemudian, Riko membuka toko. Dia belum tahu kejadian yang menimpa istrinya. Sekitar pukul 08.00 Riko mendapat informasi istrinya mengalami kecelakaan. “Beberapa tetangga datang,” ucap Suardi.

Riko langsung berangkat menuju lokasi kejadian. Yang membuat dia miris, jaraknya hanya 1,5 km dari rumah. Setiba di sana Riko mendapati kabar putrinya dirawat di Klinik Bersalin Rany. Korban lainnya ada di RSUD Kabupaten Tangerang. “Saya yang diminta ke RS. Kondisi ketiganya sudah meninggal dunia,” tuturnya.

Suardi mengatakan, saat kecelakaan Fatmawati masih dalam kondisi sadar. Dia berteriak meminta tolong kepada warga untuk menyelamatkan putrinya, Aisyah. Kondisi mobil ringsek dan tertimbun tanah merah muatan truk yang menimpa. Fatmawati melindungi putrinya itu dengan cara memeluk. Warga yang mendengar teriakan tersebut segera mengevakuasi Aisyah dengan menggunakan alat seadanya.

Dari jendela mobil, Aisyah dapat dikeluarkan. Tidak lama kemudian, Fatmawati sudah tak bersuara. Dia meninggal di dalam mobil itu beserta tiga korban lainnya.

Kondisi Aisyah tampak sehat. Tidak ada luka. Saat jenazah ibunya dibawa ke masjid untuk disalati, Aisyah tertidur di pelukan budenya. Sementara itu, Kaila, 6, kakak Aisyah, berlari-lari kecil. Dia masih belum mengerti kepergian ibunya. “Kondisi Aisyah sehat. Nggak ada lecet. Almarhum ibunya hanya lecet, tapi tidak selamat karena tertimpa truk,” ujar Suardi.

Riko dan Fatmawati menikah pada 2012. Mereka memiliki dua putri. Sudah lima tahun mereka tinggal di rumah tersebut. Kesehariannya, Riko berdagang peralatan jahit di Pasar Malabar, Cibodasari. Jaraknya sekitar 1 km dari toko istrinya. “Sebelumnya Riko tinggal bareng sama saya di sini. Kemudian beli rumah di depan situ,” tutur Suardi.

Tiga jenazah dimakamkan di TPU Selapajang Jaya, Tangerang. Pasca pemakaman, Riko menceritakan pesan terakhir dari almarhum istrinya. “Tanggal 30 kemarin, pas saya ultah, dia kasih saya kue. Terus dia bilang, maaf saya nggak bisa kasih apa-apa, saya mau jadi ibu dan istri yang baik,” kata Riko.

Riko mengatakan, istrinya hari itu berangkat pukul 05.15. Sebelum berangkat, dia menyiapkan seragam sekolah anak dan sarapan. Biasanya istrinya kulakan dua minggu sekali. Kamis itu bukan waktunya belanja. Fatmawati berangkat karena ingin mengajari Nanda yang mau buka toko baju. “Pas mau berangkat, saya lihat dia sampai naik mobil. Dia lurus aja nggak nengok lagi. Saya ada perasaan agak berat. Saya sempet larang, saya bilang Senin aja,” ucapnya.

Atas kejadian yang menimpa istri serta keluarganya, Riko meminta pelaku dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Riko juga memperingatkan para sopir agar lebih berhati-hati dan tidak ugal-ugalan. “Supaya tidak ada kejadian begini lagi,” ujarnya.

Latest News

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

More Articles Like This

Must Read

Gerindra Dekati Kalangan NU

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jateng mencoba mendekati figur dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Calon Wakil Gubernur Jateng, mendampingi...

Waspada Penawaran Bitcoin

SEMARANG – Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi atau Satgas Waspada Investasi mengimbau masyarakat agar...

Meski Anggaran Turun, Jalan Tetap Harus Mulus

SEMARANG-DPRD Jateng menilai penanganan infrastruktur jalan di Jateng dari ujung barat ke timur, utara ke selatan sudah ada perkembangan signifikan. Dewan meminta agar proses...

UM Magelang Miliki Guru Besar

MUNGKID-- Satu pencapaian besar dilakukan oleh UM Magelang. Dalam usianya yang hampir memasuki 53 tahun, UM Magelang akhirnya berhasil memiliki guru besar yakni Prof....

Cara Aiptu Sutrisno dan Bripka Eko Mengharumkan Polrestabes Surabaya

KEMAMPUAN Aiptu Sutrisno dan Bripka Eko Nurfianto dalam hal menembak tak lagi diragukan. Gelar juara menembak tingkat Jawa Timur mampu dipertahankan keduanya selama empat...

Siap Sambut 9,5 Juta Pemudik

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Pemudik yang akan masuk Jateng pada arus mudik Lebaran 2018 diperkirakan tembus 9,5 juta orang. Karena itu, Pemprov Jateng harus bersiap...