MEREKA punya usaha dan bertempat tinggal di tepi Jalan Osowilangun yang padat. Selain berbahaya, mereka punya musuh. Musuh yang beterbangan di mana-mana.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

Tiga helai baju perempuan terpasang pada manekin di atas meja kaca. Baju dagangan Eva Huron Ain itu terlihat bagus. Maklum, masih baru. Tetapi, saat disentuh, butiran hitam halus berpindah tempat dari baju ke tangan. Baju displai tersebut ternyata berselimut debu Eva membuka toko ber-rolling door merah marun itu setiap pukul 10.00. Yang pertama dilakukannya adalah menyapu butiran debu yang menerobos masuk melalui pintu tokonya. Pintu Toko Hikmah, demikian Eva menamainya, tidak sanggup menahan debu yang beterbangan dari Jalan Osowilangun.

Berjarak hanya 3 meter dari Jalan Osowilangun, beberapa baju di etalase kaca pun ikut terkena debu. ”Wes gak kaget koyo ngene,” ujarnya sembari mengibasi beberapa baju yang terlihat lungset.

Tanpa plakat toko, orang tidak akan mengira itu adalah tempat usaha. Berukuran 5 x 4 meter, bangunan toko tersebut memang terkesan lusuh. Temboknya menjadi tempat berlabuh debu-debu yang menyeruak dari jalan nasional itu. Hitam. Perempuan 44 tahun tersebut mengaku pasrah dengan kondisi itu. ”Kalau sudah kena debu gini, ya susah laku,” terangnya.

Sejak April, warga Tambak Langun itu akhirnya berhenti kulakan baju. Pasalnya, stok pakaian di tokonya masih banyak. Dagangannya baru bisa laku kalau dijual dengan harga diskon. Itu pun susah lakunya. ”Kotor bajunya,” ujarnya. Eva memang merugi. Tapi, itu masih mending daripada tidak terjual sama sekali. Nah, untuk baju-baju yang kondisinya sudah menyedihkan, Eva tidak punya pilihan lain. ”Kalau tak laku, ya dipakai sendiri. Bagaimana lagi? Warna bajunya sudah berubah. Didiskon pun nggak ada yang mau beli,” ujarnya.

Debu-debu yang beterbangan itu tak hanya menclok di baju. Dagangan alat tulisnya juga berselimut debu. Begitu pula mesin fotokopi miliknya. Partikel hitam tersebut sering mengakibatkan mesin fotokopi penambah pundi-pundi perekonomian keluarga itu ngadat. ”Rusak, diperbaiki, rusak, diperbaiki lagi,” ungkapnya.

Saat melewati Jalan Osowilangun, tepatnya sekitar kawasan Jembatan Branjangan, pengendara yang belum pernah melintasinya mungkin beranggapan rumah-rumah di sana tanpa penghuni. Maklum, hampir semua berpenampilan sama. Kusam dengan pintu-pintu tertutup rapat.

Bentuk tampilan depan bangunan di sekitar Branjangan pun terlihat serupa. Berpagar tinggi dan ditutupi plastik. Tujuannya, menahan debu masuk. ”Kalau ditutup, agak mending,” tutur Faizah yang juga membuka usaha toko baju. Menutup rumah juga dilakukan Mustika. Padahal, dia membuka warung makan. Dia hanya membuka pintunya tak lebih dari 1 meter.

Jika tidak ada spanduk bertulisan aneka macam makanan, orang mengira hanya rumah warga biasa. ”Kalau musim kemarau dan angin kencang, debunya tambah banyak,” kata Mustika yang sudah puluhan tahun berjualan.