33 C
Semarang
Selasa, 7 Juli 2020

Pedagang Jalan Osowilangun yang ‘Tertutup’: Tak Laku, Dipakai Sendiri

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

MEREKA punya usaha dan bertempat tinggal di tepi Jalan Osowilangun yang padat. Selain berbahaya, mereka punya musuh. Musuh yang beterbangan di mana-mana.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

Tiga helai baju perempuan terpasang pada manekin di atas meja kaca. Baju dagangan Eva Huron Ain itu terlihat bagus. Maklum, masih baru. Tetapi, saat disentuh, butiran hitam halus berpindah tempat dari baju ke tangan. Baju displai tersebut ternyata berselimut debu Eva membuka toko ber-rolling door merah marun itu setiap pukul 10.00. Yang pertama dilakukannya adalah menyapu butiran debu yang menerobos masuk melalui pintu tokonya. Pintu Toko Hikmah, demikian Eva menamainya, tidak sanggup menahan debu yang beterbangan dari Jalan Osowilangun.

Berjarak hanya 3 meter dari Jalan Osowilangun, beberapa baju di etalase kaca pun ikut terkena debu. ”Wes gak kaget koyo ngene,” ujarnya sembari mengibasi beberapa baju yang terlihat lungset.

Tanpa plakat toko, orang tidak akan mengira itu adalah tempat usaha. Berukuran 5 x 4 meter, bangunan toko tersebut memang terkesan lusuh. Temboknya menjadi tempat berlabuh debu-debu yang menyeruak dari jalan nasional itu. Hitam. Perempuan 44 tahun tersebut mengaku pasrah dengan kondisi itu. ”Kalau sudah kena debu gini, ya susah laku,” terangnya.

Sejak April, warga Tambak Langun itu akhirnya berhenti kulakan baju. Pasalnya, stok pakaian di tokonya masih banyak. Dagangannya baru bisa laku kalau dijual dengan harga diskon. Itu pun susah lakunya. ”Kotor bajunya,” ujarnya. Eva memang merugi. Tapi, itu masih mending daripada tidak terjual sama sekali. Nah, untuk baju-baju yang kondisinya sudah menyedihkan, Eva tidak punya pilihan lain. ”Kalau tak laku, ya dipakai sendiri. Bagaimana lagi? Warna bajunya sudah berubah. Didiskon pun nggak ada yang mau beli,” ujarnya.

Debu-debu yang beterbangan itu tak hanya menclok di baju. Dagangan alat tulisnya juga berselimut debu. Begitu pula mesin fotokopi miliknya. Partikel hitam tersebut sering mengakibatkan mesin fotokopi penambah pundi-pundi perekonomian keluarga itu ngadat. ”Rusak, diperbaiki, rusak, diperbaiki lagi,” ungkapnya.

Saat melewati Jalan Osowilangun, tepatnya sekitar kawasan Jembatan Branjangan, pengendara yang belum pernah melintasinya mungkin beranggapan rumah-rumah di sana tanpa penghuni. Maklum, hampir semua berpenampilan sama. Kusam dengan pintu-pintu tertutup rapat.

Bentuk tampilan depan bangunan di sekitar Branjangan pun terlihat serupa. Berpagar tinggi dan ditutupi plastik. Tujuannya, menahan debu masuk. ”Kalau ditutup, agak mending,” tutur Faizah yang juga membuka usaha toko baju. Menutup rumah juga dilakukan Mustika. Padahal, dia membuka warung makan. Dia hanya membuka pintunya tak lebih dari 1 meter.

Jika tidak ada spanduk bertulisan aneka macam makanan, orang mengira hanya rumah warga biasa. ”Kalau musim kemarau dan angin kencang, debunya tambah banyak,” kata Mustika yang sudah puluhan tahun berjualan.

Berita sebelumyaInfo Palsu Rekrutmen TNI
Berita berikutnyaPahit Kopi

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Banyak Petani Menjual ke Tengkulak dengan Sistem Ijon

Pemuda Desa Tegalsari Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang menggelar kegiatan bazar durian. Melalui kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat identitas buah durian asal Candimulyo tersebut. KEGIATAN bazar...

Jadi Selebgram Demi Ibu

RADARSEMARANG.COM - KESUKAANNYA dengan mix dan match pakaian, mengantarkan Firsa Choirunnisa, mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menjadi selebgram....

Gula Semut Go International

RADARSEMARANG.COM, PURBALINGGA – Usaha pembuatan gula semut di Kabupaten Purbalingga diklaim berkontribusi menyumbang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 8 persen. “Gula semut ataupun gula...

Hoax Provokatif Semakin Marak

MAGELANG–Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menggandeng para pegiat media sosial (medsos) untuk memerangi berita hoax yang kini marak beredar. Utamanya, menghadapi pemilihan kepala daerah....

Komplotan Penipu Diringkus

SLEMAN—Komplotan pelaku penipuan bermodus bisa menggandakan duit, kemarin, diringkus Polresta Yogyakarta. Pelaku bernama Yudi Suwandi, 58, alias Asun, warga Purwokerto, Jawa Tengah. Satu lagi,...

Gunakan Kaleng Bekas, Sudah Dipasarkan Hingga Kalimantan

RADARSEMARANG.COM - Tiga mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menciptakan alat pengusir tikus dari kaleng bekas. Namanya Kaldio. Bahkan, kini produknya tersebut sudah...