MENJADI salah satu penerima dana hibah dari alumni Grant Scheme Australia, Janet Rine Teowarang, fashion designer asal Surabaya, ingin mengangkat lagi tenun asal Pasuruan yang perlahan tergerus zaman.

MARIYAMA DINA, Surabaya

Dua busana karya Janet Rine Teowarang dikenakan pada manekin di salah satu ruangan Universitas Ciputra, tempat Janet mengajar, ketika ditemui pada Senin (15/7). Satu busana berwarna hijau cokelat dan merah muda kalem, satu lagi berwarna cokelat tua yang kuat. Dua busana tersebut merupakan karyanya yang berbahan dasar kain ATBM (alat tenun bukan mesin) yang didesain kekinian, tapi tetap mengusung motif batik dan tenun asal Pasuruan.

Yang hijau cokelat dan merah muda menggunakan motif bunga krisan, sedap malam, serta hamparan pasir dari Gunung Bromo yang dianggap menjadi motif khas asal Pasuruan Sementara itu, yang cokelat menggunakan motif batik parang.

”Tapi, kalau yang batik parang ini bukan khas Pasuruan. Hanya kain tenunnya,” jelas Janet. Dua karyanya tersebut menjadi contoh saat dia menemui warga Pasuruan pada pelatihan di 10–13 Juli lalu.

Pasuruan dipilihnya setelah bertemu founder salah satu brand fashion batik dan tenun Indonesia yang merupakan warga asli Pasuruan. ”Dia cerita kalau dulu di desanya itu tenunnya terkenal banget. Tapi, semakin ke sini, anak-anak mereka nggak ada yang mau nerusin buat ngembangin tenun yang sudah jadi ciri khas desa tenun itu,” ceritanya.

Dia melanjutkan, anak-anak milenial di sana lebih suka merantau dan mencari kerja di luar desa. ”Mereka sebenarnya sudah terorganisasi, ada asosiasi, punya workshop di masing-masing rumah, skill, dan alat juga lengkap. Kekurangannya, nggak diekspos dan nggak ditunjukkan cara bersaing di dunia fashion sekarang,” jelasnya.

Namun, meninggalkan ciri khas desa tenun memang bukan tanpa sebab. Janet tahu benar bahwa upah untuk seorang penjahit hanya sedikit. ”Padahal, kalau sudah dijual harganya mahal banget dan berkali-kali lipat. Misalnya, pas sudah jadi baju bakal dijual sekitar Rp 10 juta. Sedangkan mereka cuma dapat upah sekitar Rp 300 ribu,” terangnya.

Sistem perdagangan yang tidak adil itu membuat banyak orang akhirnya memilih pekerjaan yang lebih banyak menghasilkan uang. Memang ada yang tetap berfokus di dunia penjahitan dan tenun, tapi hanya dengan menghasilkan karya yang begitu-begitu saja. ”Beberapa waktu lalu saya lihat ada yang menenun keset. Padahal, hasil tenunannya itu bagus banget, tapi kenapa harus keset?” ceritanya.

Dosen fashion di Universitas Ciputra itu kemudian menggunakan dana hibah yang diterimanya dari alumni Grant Scheme Australia untuk mengubah pandangan orang tentang masa depan perajin kain tenun. ”Project saya dimulai dengan mengubah mindset bahwa menjadi penenun atau penjahit tidak bisa menghasilkan banyak uang,” terangnya.

Dalam perjalanannya, Janet menemukan bahwa warga desa minder duluan dan tidak tahu harus dibawa ke mana karya-karyanya itu. ”Mereka juga kurang paham tentang desain yang sedang tren atau disukai,” jelasnya.

Janet kemudian mengumpulkan seratus pengusaha batik dan tenun Pasuruan serta mencoba memahami masalah mereka. ”Ada yang hanya bisa desain, ada juga yang cuma bisa menjahit,” katanya.

Bukan hanya itu, kata Janet, semua produk –mulai produksi sampai barang jadi– ternyata dikerjakan sendiri. ”Padahal, kalau di dunia fashion, proses desain dan produksi tidak bisa bekerja sendiri. Kita bakal bangkrut kalau semua-semuanya sendiri,” tuturnya.

Untuk membangkitkan kembali desa tenun yang hampir hilang, Janet juga mengenalkan sustainable fashion pada para industri tenun di Pasuruan. Berkat ide itu juga, dia berhasil menjadi 1 di antara 20 penerima dana hibah tersebut.

Dalam konsep tersebut, dia mengenalkan tiga pilar yang terkandung. Mulai aspek ekonomi yang menggunakan sistem fair trade, aspek lingkungan yang semua sistem pewarnaan menggunakan pewarnaan alam, sampai memberdayakan perempuan. ”Women empowerment jadi fokus project kali ini,” terangnya.