HARI pertama masuk sekolah umumnya riuh oleh celotehan siswa baru dan orang tua yang mengantar mereka. Tapi, itu tidak terlihat di SMP Garuda. Senyap. Namun, semangat para guru tetap membara.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

Tidak ada rombongan siswa yang mengantre masuk kelas. Banyak bangku kelas yang kosong. Pada hari pertama masuk sekolah, hanya ada dua murid yang resmi terdaftar sebagai siswa SMP Garuda. Keduanya adalah siswa laki-laki yang berasal dari jalur mitra warga. Pihak sekolah memulai Senin pada minggu ketiga Juli ini dengan memberikan pengarahan sekaligus semangat demi membesarkan hati mereka.

”Saya putarkan video orang-orang sukses yang bukan berasal dari sekolah mahal atau orang kaya. Kami ingin bangun semangat mereka supaya enggak kecil hati karena temannya di kelas cuma satu,” ujar Warsito, Waka Humas SMP Garuda. Dia berharap dua siswa baru itu betah di sekolah. Dan tidak punya niat untuk pindah atau tidak melanjutkan pendidikan ”Takutnya nanti ada yang mikir, temanku cuma satu tak ilang ae mesisan. Mudah-mudahan mereka kerasan,” imbuhnya. Alumnus Pendidikan Ekonomi Unesa itu mengungkapkan, tahun ini merupakan tahun terparah bagi pihaknya dalam hal PPDB. Sebab, siswa yang masuk turun drastis. Tahun lalu masih ada 11 siswa yang mendaftar. Tahun ini hanya ada dua orang. Itu pun didapat dengan susah payah.

”Ini memang pukulan terberat. Tahun lalu setelah PPDB SMP selesai, masih banyak yang datang ke sini. Tapi, tahun ini mereka grudukan datang hanya untuk nyabut berkas mitra warga supaya bisa daftar di SMP negeri yang menambah pagu dan rombel,” ungkapnya.

Pihaknya mendapat jatah atau data siswa mitra warga sejumlah 22 orang. Data tersebut menjadi patokan sekolah saat melakukan survei. Tujuannya, mengetahui siswa yang terdaftar benar-benar tergolong tidak mampu. Sekaligus memberi tahu bahwa siswa itu diterima di SMP Garuda secara gratis tanpa biaya masuk dan SPP.

Sebelumnya, pihak sekolah juga menempuh beragam usaha demi menjaring calon siswa. Di antaranya, menghubungi beberapa SD untuk menanyakan siswa-siswa yang tidak diterima di SMP negeri dan ditawari masuk ke SMP Garuda. Tetapi, usaha itu tidak membuahkan hasil.

Meski demikian, di tengah kekecewaan dan kesedihan, Warsito dan para pengajar di sekolah tersebut masih menaruh harapan. Mereka yakin tidak sedang berjuang sendiri. Di luar sana tentu banyak sekolah lain yang bernasib sama. Menjadi sekolah yang terdampak adanya penambahan pagu dan jalur masuk pada proses PPDB SMP negeri.

Pihaknya juga masih menunggu jawaban dari dispendik terkait nasib dan kebijakan yang akan ditetapkan untuk kelangsungan mereka di tahun-tahun mendatang. ”Kami setuju dengan sistem zonasi. Karena kalau dilaksanakan dengan baik, justru kami akan dapat banyak siswa. Tapi sayangnya, banyak peraturan yang dilanggar,” tutur lelaki yang mengajar di SMP Garuda sejak 2006 itu.

Di luar faktor tersebut, Warsito juga menyadari bahwa sekarang semakin banyak bermunculan sekolah baru. Istilahnya, mereka kalah saing oleh banyaknya sekolah berwajah baru yang lebih menarik minat. Sekolah di kawasan Jalan Candi Kuwukan Baru, Lontar, itu memang terbilang tidak mudah untuk diakses. Siswa yang tidak membawa kendaraan pribadi mesti naik angkot yang tidak berhenti tepat di depan sekolah. Mereka mesti berjalan kurang lebih 1,5 kilometer masuk ke perkampungan untuk bisa sampai di sekolah setelah turun dari angkot.

Selain itu, lanjut dia, banyak orang yang ternyata beranggapan bahwa sekolah tersebut sudah tutup. Itu tidak lain imbas dari penutupan SMA Garuda sekitar tiga tahun lalu. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa SMP-nya juga ikut tutup, padahal tidak. ”Sekarang kami fokus mengantarkan anak-anak ini sampai lulus. Kami berusaha jalankan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Sementara itu, kondisi SMP Taman Siswa masih jauh lebih beruntung. Mereka mendapatkan satu rombongan belajar (rombel) yang diisi 20 siswa. Bahkan, jumlah itu meningkat dua kali lipat daripada tahun lalu yang hanya 10 siswa. Sebelumnya, sekolah di kawasan Jalan Lempung tersebut juga aktif menggaet siswa, terutama yang terdaftar mitra warga dengan mendatangi rumah-rumah mereka. Saat itu, pihak guru menemui bahwa banyak data siswa mitra warga yang dobel.

Akhirnya, satu siswa diperebutkan oleh beberapa sekolah yang juga mendapati nama siswa itu pada daftar mitra warga di sekolah mereka. ”Waktu kami kunjungi, ternyata ada sekolah lain yang juga merasa memiliki siswa itu. Padahal, kami sudah bangga kayaknya bisa dua rombel. Tapi, satu rombel 20 siswa saja sudah alhamdulillah. Kalau masih ada tambahan, monggo kami sampai sekarang masih siap sedia,” ujar Hardini, Waka Kesiswaan SMP Taman Siswa.