JASIKUN tak kenal menyerah. Empat belas tahun sudah dia telaten menemani pendamping hidupnya itu berjuang melawan sakit. Mendampinginya di kala apa pun. Contoh nyata kesetiaan.

KARTIKA SARI, Surabaya

IkrarJasikun saat menikahi Suyatin tidak sekadar manis di bibir. Ketika itu dia berjanji sehidup semati dengan sang istri. Jasikun benar-benar melaksanakannya. Menemani istrinya dalam kondisi apa pun. Termasuk ketika istrinya divonis mengidap kanker serviks sejak 2005.

Pria asal Jalan Wonokusumo Jaya Gang VIII Nomor 5A, Kelurahan Pegirian, Kecamatan Semampir, itu setia menemani istrinya kontrol ke rumah sakit. Dua kali sepekan. Dia juga betah berlama-lama mengantre. Menguruskan semua kebutuhan administrasi hingga menghibur sang istri bila tiba-tiba merasakan sakit.

Setiap hari pula, Jasikun membantu istrinya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai menyiapkan baju hingga tas yang harus dibawa. Jasikun juga telaten menemani istrinya berjalan kaki sejauh 1 kilometer ke jalan raya untuk mendapatkan angkutan kota yang melintas.

Seperti halnya Sabtu lalu (6/7), dia menemani Suyatin mengikuti seminar awam paliatif di Gedung Diagnostik Center RSUD dr Soetomo. ”Sebenarnya kalau dari rumah menuju jalan raya bisa menggunakan becak, tapi kami memilih jalan kaki,” tutur Jasikun.

Selama meniti jalan, pasutri itu selalu bergandengan tangan. Jasikun selalu merasa khawatir bila istrinya tak bisa berjalan lancar. Pemandangan itu sering kali membuat orang lain tergelitik menggoda mereka. ”Kami sering disiuli orang-orang yang melihat kami. Padahal, kami sudah orang tua, tapi masih sering digoda,” ujar pria 77 tahun tersebut.

Tak cukup itu saja. Saat istrinya kontrol di instalasi paliatif dan bebas nyeri, Jasikun juga sering menemaninya untuk melakukan hal-hal yang diajarkan di tempat itu Salah satunya, membuat kerajinan tangan. Misalnya, merajut. Namun, menurut Jasikun, apa yang dilakukannya itu belum seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan Suyatin bertahan melawan kanker serviks.

Kala itu, pada 2005, Suyatin masih berusia 57 tahun. Dokter mendiagnosis kanker Suyatin sudah stadium III. Awalnya, Suyatin mengalami gangguan menstruasi. Namun, dia menganggapnya sebagai hal yang wajar. Sebab, di usianya saat itu, Suyatin merasa sudah seharusnya mengalami menopause. Namun, semakin lama, kondisinya semakin buruk. Dia juga mengalami keputihan dengan bau yang tidak seperti seharusnya. Pendarahan pun mulai terjadi. ”Bukan hanya istri yang panik, tapi saya juga. Lalu, kami pun berobat ke klinik. Selanjutnya, istri saya dirujuk ke RSUD,” kata pensiunan guru tersebut.

Sejak itu, dia selalu menemani istrinya melalui berbagai konsultasi dengan dokter dan pengobatan. Saat menjalani kemoterapi dan radiasi, Suyatin sering muntah dan susah makan. Itulah yang membuat Jasikun semakin khawatir. ”Sering kali habis makan dimuntahkan lagi. Begitu terus tiap habis kemoterapi,” ucap Jasikun.

Kemoterapi dan radiasi memang dilakukan. Namun, kanker serviks tersebut telah menyebar. Suyatin pun merasakan nyeri yang hebat. ”Saya selalu takut jika istri saya tiba-tiba diambil oleh Yang Mahakuasa,” ucap Jasikun getir.

Sejak awal tahu sakit, Suyatin menjalani pemeriksaan dan pengobatan di instalasi paliatif dan bebas nyeri. Di sana, dia mendapatkan obat untuk menghilangkan rasa nyeri akibat penyakitnya. Dokter dan tenaga medis juga melatih cara berpikir Suyatin agar ikhlas menjalani hidup dengan penyakitnya. ”Saya diberi dorongan dan semangat serta dibiasakan untuk meningkatkan ibadah,” ucap perempuan 72 tahun tersebut.

Bukan hanya Suyatin yang diberi motivasi, melainkan juga keluarganya. Termasuk suami. Mereka bersama-sama mempersiapkan agar Suyatin bisa hidup lebih bermakna. Tanpa berpikir akan cepat tiada karena penyakit. ”Inilah salah satu alasan saya memberikan perhatian yang banyak kepada istri. Namun, lebih dari itu, saya benar-benar sayang dengan istri,” tuturnya.

Jasikun mengaku tak pernah marah bila istrinya mengeluh dan banyak menyita waktunya. ”Waktu saya memang dihabiskan di rumah bersama istri. Istri saya berjuang melawan penyakitnya. Saya pun harus berjuang mendukungnya” kata Jasikun dengan suara bergetar.

Begitulah keluarga kecil itu saling menjaga agar tidak terlalu merepotkan banyak orang.