PILIHAN orang tua untuk mengajari sang buah hati alat musik piano membawa Caesar Yuwono ke pengalaman yang menakjubkan.

R. AUFAR DHANI HIKMAWAN, Surabaya

Jemarinyaluwes menekan balok tuts piano di depannya. Alunan nada klasik begitu merdu dihasilkan. Tempo lambat, sedang, dan cepat mampu dimainkannya dengan penuh penghayatan. Caesar, sapaan karibnya, sejak kecil akrab dengan piano. Talenta muda kelahiran 1997 itu memulai perkenalan di dunia musik saat menginjak usia 4 tahun. ”Dorongan dari orang tua begitu kuat. Waktu itu ya belum ngerti apa-apa. Masih kecil,” kata Caesar.

Dia pun dibimbing mengikuti kursus piano. Dia merasa sangat sulit pada masa-masa pertama. Namun, impian orang tuanya menjadi faktor utama yang membuatnya bertahan. Mereka menginginkan Caesar hebat dalam bermusik. Padahal, tidak ada darah pemusik di keluarga.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat anak ketiga di antara empat bersaudara itu patah arang. Untuk terus membangkitkan semangatnya, orang tua kerap membawa Caesar menonton konser piano. Melihat pianis-pianis yang piawai beraksi membantu Caesar untuk terus berlatih.

Kemampuannya terasah seiring berjalannya waktu. Jari-jarinya pun terbiasa memainkan tuts piano. Meski belum begitu sempurna, itu tidak dijadikan beban. Caesar memberanikan diri untuk mengikuti kejuaraan Event pertama yang diikutinya adalah Singapore Youth Festival 2002. Hasilnya, Caesar menyabet juara I. Kemenangan tersebut seolah menegaskan bahwa piano adalah jalannya. Padahal, itu adalah penampilan perdana dan event pertamanya di atas panggung.

Pianis muda asli Suroboyo itu semakin terpacu untuk belajar berbagai genre. Pilihannya jatuh pada musik klasik. Menurut Caesar, bermain piano klasik memberi aura tersendiri. ”Selain keren, main nomor-nomor klasik itu butuh full skill. Jadi, harus benar-benar keluar dari hati,” katanya.

Alunan lagu ciptaan komposer dunia macam Sergei Racmaninoff, Frederic Chopin, dan Alexander Scriabin dipelajarinya. Sejak saat itu, dia terus mengikuti berbagai ajang kompetisi. Mulai ASEAN Chopin Competition (third prize) hingga Malaysia Youth Music Festival (first prize).

Brigifine Ediansyah, mentor Caesar di Brigifine Music House, mengatakan bahwa selama ini Caesar dikenal sangat serius saat latihan. Tak peduli waktu. Selama tujuh tahun dia ikut menggembleng Caesar hingga menjadi seperti sekarang. ”Pernah satu waktu terasa jenuh. Tak marahi habis-habisan dia. Saya kerasi. Pianis sukses harus kuat tekanan,” katanya. Namun, kata Brigifine, Caesar tidak berkecil hati setelah dimarahi. Dia terus semangat latihan.

Pada 2015, Caesar lulus SMA. Dia pun mengarahkan Caesar untuk mengikuti audisi masuk sekolah musik Conservatorium van Amsterdam di Belanda. Persiapan matang pun dilakukan. Sebab, pesertanya berasal dari seluruh dunia. Tahap demi tahap berhasil dilaluinya. Hingga dia diterima.

”Puji Tuhan, saat itu juga lolos. Saya banyak berterima kasih hingga bisa seperti ini,’’ kata Caesar. Dari sekolah itu, dia mulai merasakan atmosfer konser. Bukan sebagai penonton. Tapi, pemainnya langsung.

Enam negara sudah dijelajahinya untuk tur konser piano. Yakni, Belanda, Jerman, Belgia, Serbia, Austria, dan Republik Ceko. Terakhir, dia mengadakan konser resital piano di Multifunction Room Lantai 4 Grand City, Surabaya, setelah mengenyam pendidikan S-1 selama empat tahun di Conservatorium van Amsterdam.

Tahun ini dia pun lolos untuk studi lanjut di Jerman. Dari 150 peserta, hanya dua yang diterima. Caesar menjadi satu-satunya peserta asal Asia Tenggara yang lolos. Satu lainnya berasal dari Korea Selatan. Kini jenjang setingkat magister itu siap dijalaninya. Harapannya menjadi pianis andal tak akan pernah luntur. Kelak, jejak langkah perjuangannya bisa menjadi teladan bagi generasi penerusnya.