Sudah lebih dari setengah abad usia Mohammad Nuh. Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu pun bertekad menebus sisa usia dengan melakukan kebaikan yang menyentuh rakyat.

SEPTINDA AYU, PRAMITASARI, Surabaya

SUASANA Ballroom Hotel Novotel Samator begitu ramai kemarin (23/6). Satu per satu tamu undangan yang berdatangan disambut jabat tangan Mohammad Nuh. Ratusan tamu tersebut adalah teman, sahabat, dan kolega yang menemani perjalanan hidup mantan menteri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Banyak tokoh penting yang hadir. Mulai pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), pengasuh Ponpes Bumi Shalawat KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Chairul Tanjung, deretan rektor-rektor perguruan tinggi (PTN) di Indonesia, hingga teman-teman sejawat di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Usia 60 tahun menjadi titik balik Nuh dalam memaknai kehidupan. Jika karir digapai dengan begitu mudah, kini Nuh merasakan ada defisit kebaikan pada dirinya. Hal itu menjadi salah satu alasannya untuk terus melakukan kebaikan yang langsung menyentuh rakyat.

Salah satunya melalui kegiatan wakaf lewat tiga buku yang diluncurkan kemarin.

’’Sudah 60 tahun saya melewati hidup. Modal yang dititipkan Allah SWT kepada saya luar biasa. Tidak terhingga. Namun, untung yang diperoleh kecil,” kata Nuh saat berbagi kisah di Tasyakuran Usia 60 Tahun Mohammad Nuh dan Peluncuran Tiga Buku di Ballroom Novotel Samator kemarin.

Ya, terlahir dari keluarga biasa di Kampung Gununganyar, Surabaya, Nuh mengaku selalu diselimuti keberuntungan. Mulai pendidikan, karir, hingga keluarga. Nuh juga dikelilingi orang-orang baik yang selalu mendukung karirnya. Dia pernah menjabat direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), rektor ITS, hingga menteri komunikasi dan informasi (Menkominfo) serta Mendikbud.

Semua diperoleh dengan lancar. Namun, hal itu justru membuat Nuh khawatir. ’’Saya khawatir lancar karir di dunia, tetapi tidak di akhirat,’’ ucap pria kelahiran 17 Juni 1959 tersebut. Setelah menjabat Mendikbud, Nuh pun aktif sebagai ketua Badan Wakaf Indonesia pada 2017–2020. Dari situlah, Nuh mulai mengerti maksud Sang Pencipta memberikan modal besar pada dirinya berupa intelektual. ’’Saya ingin membudayakan new lifestyle. Yaitu, wakaf,’’ ujar suami drg Laily Rahmawati itu.

Ya, wakaf adalah cara yang baik untuk beramal. Sebab, pahalanya tidak terputus. Manfaatnya pun sangat besar bagi rakyat. Begitu juga ketika menjabat ketua Dewan Pers. Nuh menjadi bagian dari organisasi tersebut agar pemberitaan di Indonesia bermuara positif. Nuh juga ingin menyebarkan kebaikan melalui tiga karya buku biografinya. Yakni, Menguatkan Mata Rantai Terlemah, Menjangkau Yang Tidak Terjangkau, dan Ushfuriyah untuk Zaman Kita. Tiga buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup dan karir Mohammad Nuh dari kecil serta aktivitasnya setelah tidak menjabat dalam kabinet pemerintah Indonesia.

Tasyakuran 60 Tahun Mohammad Nuh sekaligus peluncuran buku tersebut tidak lepas dari peran sang istri. Persiapan yang dilakukan sejak satu tahun lalu tersebut sukses membuat Nuh trenyuh. ’’Awalnya, peluncuran buku biografi ini ingin sebagai hadiah surprise. Namun, akhirnya tidak menjadi kejutan 100 persen karena penulisan biografi harus melibatkan cerita sejak kecil, sedangkan saya hanya mengetahui selama 35 tahun menikah dengan Pak Nuh,’’ kata Laily.

Tiga buku biografi M. Nuh tersebut tidak dikomersialkan untuk pribadi. Seluruh hasil penjualan buku tersebut akan diwakafkan. Dengan begitu, semakin banyak yang membeli buku itu, makin besar pula wakaf yang diberikan.

Sosok Nuh juga sangat dekat dengan Chairul Tanjung. ’’Saya kenal cukup lama dengan Pak Nuh. Dari belum jadi apa-apa hingga sukses seperti sekarang,’’ tutur Chairul.

Begitu juga Gus Sholah. Pengurus Ponpes Tebuireng tersebut mengenal Nuh sejak pertengahan 90-an. Pada 2007 Nuh sempat bersilaturahmi ke Tebuireng. Dua minggu setelah berkunjung tersebut, Nuh diangkat sebagai Menkominfo di era SBY. ’’Pak Nuh tidak berusaha dan melamar menjadi menteri. Namun, Pak SBY mempunyai radar yang kuat bahwa ada orang pintar di Jatim. Yaitu, Pak Nuh,’’ kata Gus Sholah. (*/c20/tia)