Jangankan ke Batang yang ada di Jawa, ke dan dari Pekanbaru yang sama-sama di Sumatera pun, Persiraja Banda Aceh harus ke Kuala Lumpur dulu demi tiket pesawat yang lebih murah. Kecuali ke Medan, semua lawatan mereka di fase grup Liga 2 musim ini direncanakan juga lewat ibu kota Malaysia itu.

FARID S. MAULANA, Banda Aceh-Batang

“RESPECT, respect, respect,” teriak Mahmudi di antara lalu-lalang orang di bagian pengambilan bagasi Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia.

Dan, dengan segera 18 pemain tim berjuluk Laskar Rencong tersebut paham.

Bahwa Mahmudi, si kitman atau pembantu umum, sebagaimana semua perangkat tim lainnya, harus dihormati. Salah satu caranya ialah membantunya merapikan puluhan koper berisi jersey dan perlengkapan bertanding lainnya. Untuk kemudian dipindah menuju penerbangan selanjutnya ke Jogjakarta pada Kamis (20/6) siang lalu itu.

Mahmudi butuh bantuan karena Persiraja hanya membawa satu kitman dalam lawatan ke kandang Persibat Batang untuk menjalani laga pertama Liga 2 musim ini tersebut. Itu bagian dari upaya penghematan mereka untuk menekan biaya transportasi.

Maklum, mereka adalah tim dari provinsi di ujung barat Indonesia. Sedangkan lawan-lawan yang dihadapi di wilayah barat Liga 2 kebanyakan berada di Jawa dan Kalimantan.

Musim ini, di fase grup, mereka harus melawat sebelas kali. Dan itu harus dijalani di saat harga tiket penerbangan di tanah air tengah melambung tinggi.

Karena itu, untuk menyiasatinya, Persiraja mengambil “jalan memutar”. Dari Banda Aceh, transit di Kuala Lumpur dulu sebelum balik lagi menuju kota tujuan di Indonesia. Itu dilakukan karena harga tiket lewat rute tersebut lebih murah ketimbang sepenuhnya lewat jalur domestik.

Contohnya ya Kamis lalu itu, ketika mereka bertandang ke Persibat Batang di Jawa Tengah. Jawa Pos mengikuti perjalanan kontestan delapan besar Liga 2 musim lalu itu sejak di Banda Aceh hingga tiba di Batang.

Manajemen Persiraja memilih perjalanan dengan transit di Kuala Lumpur dan turun di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Lalu memilih jalur darat menggunakan bus menuju Batang.

Dampak dari mahalnya tiket pesawat sejumlah bandara mengalami penurunan kunjungan. (Miftahul Hayat/Jawa Pos)

Dengan cara itu, tiap orang dalam rombongan Persiraja hanya menghabiskan biaya Rp 2.450.000. Sewa bus menuju Batang tak termasuk karena menjadi tanggungan tuan rumah.

Memang selisihnya jika menggunakan rute domestik hanya Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. “Iya kelihatan sedikit, tapi coba kalikan 23 (jumlah anggota rombongan tiap tandang, Red), lalu kali lagi 11 (jumlah lawatan Persiraja di fase grup). Ketemu Rp 44 jutaan lebih, jumlah yang sangat berguna bagi kami,” ungkap Sekretaris Umum Persiraja Rahmat Djailani.

Rahmat menuturkan, untuk sampai ke Batang, idealnya memang turun di Semarang, ibu kota Jawa Tengah. Sebab, jaraknya tidak sejauh dari Jogjakarta yang harus menghabiskan waktu 3-4 jam perjalanan kalau lancar. “Tapi, tidak ada penerbangan yang pas. Kami harus stay sehari di KL (Kuala Lumpur, Red) untuk dapat penerbangan ke Semarang dan itu justru bikin biaya makin membengkak,” lanjutnya.

Jawa Pos melihat betul bagaimana penghematan itu dilakukan. Berangkat dari Aceh pukul 08.45, Andika Kurniawan dkk tiba di Kuala Lumpur pukul 10.48 waktu setempat. Tim Persiraja harus pindah penerbangan. Puluhan koper dipindah ke jalur penerbangan Jogjakarta. Lantas check in sekitar pukul 11.58.

Selama menunggu proses check-in, pemain yang sudah kelaparan tidak diajak makan di restoran di dalam bandara. Manajemen sudah menyiapkan dua kardus berisi nasi, ayam goreng, dan sayuran untuk makan siang tim.

Nah, karena penerbangan dari KL menuju Jogjakarta pukul 15.45, kurang lebih empat jam menunggu, Rahmat memperbolehkan pemainnya berkeliling bandara. Boleh melakukan apa saja. Syaratnya, pukul 14.30 harus sudah berada di gate keberangkatan.

Untuk teman cuci mata, manajemen lantas memberikan uang saku 10 ringgit Malaysia tiap pemain. Atau sekitar Rp 35 ribu. Tapi, apa yang bisa dibeli dengan uang sejumlah itu di sebuah bandara internasional? Maksimal ya hanya sebotol air mineral. “Disyukuri saja, Mas,” kata Risky Yusuf, salah seorang pemain, kepada Jawa Pos.

Manajemen Persiraja sebenarnya sudah berusaha keras agar beban biaya transportasi mereka bisa sedikit tereduksi. Mulai mencari sponsor sampai melakukan pendekatan ke PT Liga Indonesia Baru (LIB), operator kompetisi.

Tapi, hingga kompetisi berjalan, hanya dua sponsor, Bank Aceh dan PDAM, yang menempel di jersey mereka. Nilai kontraknya juga tidak tinggi, sekitar Rp 600 juta saja.

Ke PT LIB, pada manager’s meeting bulan lalu, Rahmat pernah mengusulkan agar subsidi tidak sama untuk semua tim. Dibedakan. Sebab, sebagai tim yang berada di ujung barat Indonesia, beban transportasi Persiraja otomatis termasuk yang paling besar.

TIKET PESAWAT MAHAL: Efek dari mahalnya tiket pesawat, Persiraja Banda Aceh, klub Liga 2 terpaksa harus transit ke Kuala Lumpur ketika melakoni lag tandan. Padahal mainnya di Indonesia. (Muhamad Ali/Jawa Pos)

Rata-rata tiap musim mereka menghabiskan Rp 2,1 miliar untuk transportasi. Itu pun dengan penghematan di sana-sini. Dalam dua musim terakhir, Laskar Rencong juga rugi Rp 8 miliar. “Kami berharap paling tidak ada subsidi transportasi untuk tim seperti kami,” ujarnya.

Namun, usul itu ditolak. Malah musim ini subsidi untuk klub Liga 2 turun. Dari yang awalnya Rp 1,25 miliar menjadi Rp 1 miliar saja. “Akhirnya kami menekan seminimal mungkin biaya transportasi,” katanya.

Akumulasi dari berbagai penghematan itu tentu saja persiapan melakoni laga tandang yang kurang maksimal. Perjalanan jauh, menyedot tenaga. Sedangkan masseur saja tidak ada.

Ketika ada pemain yang cedera di lapangan, si kitman-lah yang harus menangani. Seadanya. Alhasil, Persiraja pun harus pulang dari kandang Persibat dengan tangan hampa. Kalah 0-1 kemarin.

Dan, hari ini, mereka harus kembali menjalani perjalanan berliku. Tidak ke Banda Aceh. Tapi ke Pekanbaru, Riau, markas PSPS, penghuni wilayah barat Liga 2 lainnya yang sudah menunggu mereka untuk bertarung pada Selasa pekan depan (2/7).

Dari Jogjakarta, kembali mereka harus transit dulu di Kuala Lumpur. Baru kemudian ke Pekanbaru dan menginap di sana sampai hari pertandingan. Demi apa lagi kalau bukan demi menekan biaya tiket pesawat. Kelak, dari Pekanbaru yang seperti Banda Aceh sama-sama berada di Sumatera, rombongan Persiraja harus ke Kuala Lumpur lagi. Menginap semalam di sana sebelum balik ke Banda Aceh.

Ini baru dua laga tandang. Masih ada sembilan lawatan lain. Delapan di antaranya sama seperti sekarang: direncanakan lewat jalan memutar ke negeri tetangga. Kecuali tandang ke Medan, markas PSMS yang ber­ada di Sumatera Utara, provinsi sebelah Aceh.

Otomatis semua personel Persiraja juga mesti bersiap menghadapi tatapan aneh sejumlah orang. Seperti yang mereka alami saat mendarat di Jogjakarta Kamis lalu. Diperhatikan dari ujung kaki sampai kepala. “Klub Malaysia mau uji coba lawan siapa ya di Jogja?” tanya salah seorang petugas bandara kepada Assanurrijal.

Penggawa Persiraja itu langsung menunjukkan logo di polo shirt yang dikenakannya. “Ooh Persiraja, kok lewat Malaysia kalau mau ke sini?” tanya si petugas lagi.

“Cuma mampir saja di Kuala Lumpur,” jawab Assanurrijal sembari beranjak menjauh, khawatir dihujani pertanyaan lagi. Apalagi, dari kejauhan, si kitman kembali terdengar berteriak, “Respect, respect, respect.”