Tidak banyak bagian yang terbuang dari parsel Sekolah Pagesangan. Pembungkusnya menggunakan besek. Isiannya merupakan penganan lokal.

FERLYNDA PUTRI, Jogjakarta

BAGAIMANA jika Anda menerima parsel yang isinya barang mentah? Ada beras merah, tiwul instan, kacang hijau, kacang gudhe, minyak kelapa, emping, minyak kelapa, dan kerupuk tiwul. Tidak ada gula, kue-kue, atau sirup. Parsel itu dibungkus dengan besek.

Sajian parsel tersebut menarik perhatian Kartika Dewi. Dia pun memesan sebelas parsel. Seluruhnya dihadiahkan kepada koleganya yang memang fokus di bidang makanan sehat.

Yang membuat perempuan 36 tahun itu tertarik, parsel yang ditawarkan Sekolah Pagesangan lebih dekat dengan masyarakat. “Hampir sebagian besar parsel berisi makanan berbahan gula dan sifatnya makanan pendamping,” tutur Kartika Senin (3/6).

Tawaran parsel dari Sekolah Pagesangan itu, menurut Kartika, merupakan oase.

Parselnya berbeda dari biasanya. Tidak hanya unik, parsel ramah lingkungan itu juga mengedukasi tentang bahan pangan lokal. “Respons kolega saya ada yang kagum, takjub, dan merasa unik. Malah ada yang akan mencoba hidup sehat,” ungkapnya.

Perkenalan Kartika dengan Sekolah Pagesangan membuat dia tertarik dengan organisasi itu. Apalagi, dia mendapatkan informasi tentang mimpi sekolah yang berada di Panggang, Gunung Kidul, tersebut untuk menggaungkan kembali pangan lokal serta menjaga lingkungan dan budaya masyarakat. “Untuk produknya saya ketahui dari Pasar Kamisan di Jalan Kaliurang,” katanya.

Sri Luthfia Sundari, pembeli parsel ramah lingkungan, mengaku tertarik karena kemasan yang unik. Dia mendapatkan informasi dari temannya. “Saya beli enam paket. Empat dikirim ke Banten dan dua untuk adik-adik saya,” jelasnya.

Luthfia memang ingin memberikan parsel spesial. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Nah, parsel ramah lingkungan dari Luthfia itu disambut gembira oleh adik-adiknya. Bahan dari parsel itu bisa diolah lagi. Kacang hijau bisa dijadikan bubur. Empingnya digoreng dengan minyak kelapa untuk teman tape ketan. Beras merahnya menggantikan beras putih.

Founder Sekolah Pagesangan Diah Widuretno tidak menyangka produk parselnya laris. Padahal, dia baru memiliki gagasan pada awal puasa. Memang, sebelumnya setiap tahun dia menerima pesanan parsel yang berbasis bahan lokal. Namun, baru tahun ini dia memasarkan melalui akun Instagram Sekolah Pagesangan. Responsnya pun cukup baik. “Kami manfaatkan bahan baku yang masih tersisa sehingga tidak menjual banyak parsel,” ucapnya.

Bahan untuk parsel merupakan panen dan olahan masyarakat Dusun Wintaos, Panggang, Gunung Kidul. Beseknya diproduksi masyarakat Godean, Sleman. Semua dari masyarakat untuk masyarakat.

Seluruh keuntungan dari penjualan parsel digunakan untuk memperbaiki rak buku di perpustakaan Sekolah Pagesangan. Organisasi itu juga berjuang untuk mengedukasi masyarakat di Panggang.

Parsel ramah lingkungan tidak hanya bertujuan komersial. Diah ingin mengampanyekan pangan sehat. Menurut dia, masyarakat harus tahu asal usul makanannya. Makanya, di kemasan parsel tertulis produksi petani Dusun Wintaos. “Makanan yang masuk tubuh tidak hanya untuk menyehatkan, tapi juga harus memiliki manfaat ekologi,” ungkap ibu dua anak itu.

Harapannya, makanan yang dikonsumsi tidak mengandung residu atau sampah. Misalnya, dari sisi penanaman sudah ramah lingkungan dengan meminimalkan bahan kimia. Setelah diolah, pembungkusnya juga tidak boleh mengotori lingkungan. “Makanan yang dibungkus plastik itu makannya lima menit, untuk mengurai plastiknya bisa beratus tahun,” imbuhnya.

Konsep ramah lingkungan memang selalu diterapkan sekolah itu. Bukan perkara gampang untuk tidak menggunakan plastik sama sekali. Namun, Diah bersama anggota Sekolah Pagesangan selalu berinovasi. “Yang sulit itu untuk mengemas makanan jadi,” kata perempuan asli Banyuwangi tersebut. Bahan plastik masih digunakan pada jeriken minyak.

Besek dipilih sebagai pembungkus dengan pertimbangan ramah lingkungan. Bahan baku dari bambu mudah untuk diurai dan tidak menjadi sampah. Besek juga memiliki dampak sosial. Banyaknya pemakaian besek bisa mendorong perajin untuk tetap bertahan.

Lantas, siapa pembeli parsel itu? Banyak pembeli merupakan wajah baru. Pemasaran lewat Instagram terbilang cukup sukses. Namun, mengingat bahan bakunya tidak banyak, Diah membatasi pembelian. Proses pemesanan hanya dua minggu. Sebanyak 30 parsel seharga Rp 275.000 ludes terjual. Nah, dari nilai itu, Rp 25.000 disisakan untuk memperbaiki rak buku di perpustakaan Sekolah Pagesangan.

Sekolah Pagesangan memang berusaha untuk mengedukasi petani di Panggang, Gunung Kidul. Bukan hanya untuk petaninya, melainkan juga seluruh keluarganya. Kondisi geografis wilayah tersebut kering. Banyak bebatuan. Namun, secara turun-menurun mereka diajari bisa berdikari dengan menjadi petani.

Sekolah Pagesangan mengembalikan keyakinan bahwa dengan bertani pun bisa sejahtera. Anak dan istri para petani juga diajari. Misalnya, ibu-ibu diajari mengolah hasil pertanian. Kini mereka memproduksi tiwul dan emping. Lalu, anak-anak dan remaja diajari sebagai tim pemasaran. Mereka bisa memasarkan lewat media sosial. “Memang tidak mudah, tapi tidak boleh menyerah,” ungkap Diah.

Pihaknya ingin menghadirkan parsel Lebaran yang berbeda. Lewat parsel ramah lingkungan itu, dia juga ingin mengenalkan makanan yang menyehatkan tubuh dan lingkungan. Tahun depan dia berharap ada banyak parsel yang bisa dibuat Sekolah Pagesangan.