Prestasi I Dewa Made Frendika Septanaya patut diacungi jempol. Akhir bulan lalu, Dewa mendapatkan penghargaan Prix Mahar Schützenberger. Penghargaan itu diberikan oleh Association Franco-Indonesienne pour le Developpement des Sciences (AFIDES), Prancis.

EDI SUSILO, Surabaya

DEWA mendapatkan penghargaan tersebut berkat penelitiannya dalam bidang perencanaan perumahan di perkotaan besar. Penghargaan itu diberikan langsung oleh Presiden AFIDES Hélène Schützenberger di KBRI Paris pada 25 April lalu.

Di akun Instagram-nya, Dewa menyebut mempersembahkan penghargaan itu khusus kepada ”seluruh penghuni rusunawa dan korban relokasi yang sudah menjadi sumber inspirasi penelitian dan perjuangan melawan ketidakadilan”.

Mahasiswa S-3 Urban Geography at Sorbonne Université itu sejak S-1 memang tertarik dengan masalah pembangunan permukiman urban. Salah satunya, penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Yang sangat rentan tidak bisa mendapatkan rumah secara layak “Padahal, rumah merupakan kebutuhan dasar manusia, selain makanan dan pakaian,” ucapnya. Harga rumah yang terus melambung membuat warga yang berpenghasilan menengah memilih pinggir kota sebagai jalan satu-satunya untuk mendapatkan hunian. “Ayah saya mengalaminya,” kata pria kelahiran Surabaya, 30 September 1989, itu. Rumah keluarganya berada di Candi, Kabupaten Sidoarjo. Sementara itu, tempat kerja ayahnya berada di kawasan SIER Surabaya.

Setiap hari Dewa melihat ayahnya menempuh perjalanan jauh untuk bekerja. Sedikit banyak, hal itu menunjukkan tidak adanya perencanaan serius dari pemerintah untuk menata kawasan. Terutama menyediakan hunian yang layak dan mudah diakses pekerja. Itulah yang menjadi bahan disertasi doktoralnya.

Disertasi yang diganjar penghargaan Prix Mahar Schützenberger tersebut berasal dari studi penyediaan rumah susun sewa (rusunawa) atau biasa disebut flat di Indonesia. Terutama di dua kota, Jakarta dan Surabaya.

Dalam disertasi yang akan disidangkan pada 4 Juni itu, Dewa menjelaskan tentang berbagai permasalahan rusunawa di Indonesia. Salah satunya terkait dengan fasilitas flat yang dinilai belum layak. “Saya melihat itu di Flat Tambora di Jakarta Barat,” ucapnya. Sebagian yang tinggal di flat tersebut merupakan warga yang direlokasi dari tempat lama, kemudian hidup berdesak-desakan.

Masalah klasik terjadi. Pada awal relokasi, jumlah unit flat cukup. Kemudian, setelah bertahun-tahun, jumlah keluarga bertambah tanpa pindah sehingga flat tersebut tak lagi cukup. Beban makin berat setelah anak yang sudah menikah tak mampu membeli rumah sendiri dan memilih tinggal bersama. “Saking padatnya, ada yang tinggal di saluran tempat sanitasi udara,” ucap putra pasangan I Dewa Ketut Warta dan Indiyah Winarni itu.

Di Surabaya, kondisi flat yang dikelola pemerintah relatif lebih baik ketimbang Jakarta. Salah satunya di Romokalisari. Tapi, masih ada sejumlah kekurangan. Misalnya, akses yang jauh dari jalan dan retribusi yang terlalu ringan. Tapi, apa pun, flat masih menjadi solusi perumahan paling bagus untuk masyarakat berpenghasilan rendah.