Nyemil kuaci dan mengonsumsi suplemen adalah sebagian cara para personel Bawaslu menjaga konsentrasi dan stamina. Keluarga sudah paham, janji dengan sang bapak pasti tentatif: sewaktu-waktu berubah.

Bayu Putra, Jakarta

RUANG rapat pleno utama Komisi Pemilihan Umum (KPU) begitu sibuk. Rekapitulasi pemilu untuk wilayah luar negeri tengah dilangsungkan. Semua pihak sudah menempati meja masing-masing.

Termasuk Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan. Sebagai pengawas, dia harus memastikan tidak ada aturan yang dilanggar saat pelaksanaan rapat pleno terbuka pada Sabtu (4/5) dua pekan lalu itu.

Di tengah perdebatan mengenai penggunaan hak pilih dan kelelahan yang mulai menghampiri, konsentrasi peserta rapat mulai agak kendur. Saat itulah staf Bawaslu menyodorkan sebungkus camilan kepada Abhan. Camilan tersebut berbeda dengan kue yang sejak awal disajikan KPU. Itu adalah senjata andalan Bawaslu di kala rapat: kuaci.

Rekapitulasi hasil pemilu tingkat nasional yang berjalan sejak 4 Mei lalu memang sangat menguras tenaga dan pikiran para anggota Bawaslu dan KPU. Rapat-rapat maraton yang membutuhkan stamina prima dan konsentrasi tinggi harus mereka jalani.

Untuk itu, berbagai cara pun ditempuh personel dua lembaga tersebut agar tetap bisa menjalankan tugas, seberapa lelahnya pun. Sepanjang jalannya rapat pleno pada Sabtu dua pekan lalu, misalnya, Abhan tidak berhenti membuka dan mengunyah kuaci.

Begitu pula anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin yang duduk di sebelahnya. Sembari menyimak jalannya rapat pleno, keduanya tidak henti mengunyah jajanan yang cukup populer di kalangan siswa sekolah dasar dan menengah itu. “(Kunci) untuk menghilangkan rasa kantuk itu ya kuaci ini,” ungkap Abhan saat ditemui di KPU, Jakarta, kemarin dini hari (21/5).

Kebiasaan itu pun berlanjut pada rapat pleno di hari-hari berikutnya. Saat masuk bulan Ramadan, kuaci tetap tersedia. Camilan tersebut disediakan untuk sesi pleno malam yang berlangsung setelah salat Tarawih. Saat itulah jam-jam rawan menurunnya konsentrasi.

Ide awal camilan kuaci tersebut datang dari jajaran Bawaslu provinsi. Mereka selalu makan kuaci ketika rapat, khususnya yang potensial berlangsung lama. Cara itu diterapkan saat rapat pleno rekapitulasi. “Mulut tetap beraktivitas, tangan beraktivitas, tetap konsentrasi, karena makan kuaci itu,” lanjutnya.

Tentu saja, kuaci bukan satu-satunya senjata. Secara keseluruhan, proses rekapitulasi nasional begitu menguras tenaga. Kadang rekapitulasi diskors pukul 00.00 atau bahkan 01.30 dan dimulai lagi paginya pukul 10.00.

Selain makan kuaci, Abhan punya cara lain untuk menjaga stamina: makan yang teratur plus mengonsumsi suplemen. “Suplemen saya madu dan jus buah,” lanjut pria kelahiran 1968 tersebut. Menurut Abhan, lelah itu manusiawi.

Panjangnya proses pleno juga membuat Abhan harus lebih sering memberikan pengertian kepada keluarga. Bahwa dia tidak bisa berbuka puasa bersama di rumah. Meskipun pada dasarnya keluarga sudah bisa memahami ritme kerjanya sebagai penyelenggara pemilu. “Saya sampai sekarang baru satu kali buka puasa bersama keluarga,” ungkapnya.

Cukup sering pula sang putri protes karena ayah dua anak itu seperti tidak kenal waktu. “Jadi, kalau janji sama bapak itu tentatif, sewaktu-waktu ada perubahan,” sambung Abhan, lantas tertawa.

Hampir sama dengan Abhan, anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin pun harus ikut mengubah ritme hidup. Apalagi, dia ditugaskan sebagai penanggung jawab pengawasan rekapitulasi sehingga setiap hari harus hadir. “Ketika puasa, tantangan utamanya adalah ketika dimulai pagi,” bebernya.

Bagaimana tidak, sering kali Afif -sapaan Afifuddin- baru tiba di rumah menjelang waktu sahur. Atau setidaknya pukul 01.00. Dalam kondisi demikian, kadang rasa kantuk juga tidak bisa dihindarkan di siang hari. Afif mencontohkan, dirinya pernah tertidur di kantornya setelah salat Jumat. Ketika terbangun, dia pun buru-buru berangkat ke KPU untuk melanjutkan pleno.

Afif cepat-cepat mengenakan kaus kaki dan sepatu, lalu berangkat. “Saat break (jeda) asar, saya ke ruangan Mas Arief (Budiman, ketua KPU, Red). Pas mau buka sepatu, eh ternyata kaus kakinya sebelahan,” ucapnya lantas tertawa.

Rapat pleno yang panjang juga membawa hikmah tersendiri bagi Afif. Dia jadi bisa lebih sering berdiskusi dengan KPU meski singkat saat jeda salat. Khususnya mengenai forum rapat pleno. Misalnya agar pleno tidak molor. “Lalu kami salat berjamaah di ruangan Mas Arief, imamnya gantian. Kalau nggak Mas Arief, ya Mas Abhan,” sambung pria asal Sidoarjo itu.