Di usia yang sudah 62 tahun, Bagong Soebardjo masih selincah menjangan dalam melakukan beragam aktivitas di berbagai tempat. “Saya memang ditakdirkan hidup bersama koran, dari yang baru hingga yang bekas,” katanya.

WAHYU KOKKANG, Jogjakarta

KERTAS HVS dan lembaran koran bekas berserakan. Beberapa helai kain perca dan kaus kaki bekas juga teronggok.

Di ruangan rumah yang juga dijadikan sanggar di kawasan Tempel, Sleman, Jogjakarta, itu seorang pria berpostur “semlohai” sedang fokus membuat karakter wayang. Dengan bahan dari barang-barang bekas tersebut.

Beberapa dari kertas-kertas HVS tersebut rupanya telah terisi goresan gambar-gambar kartun yang baru selesai dibuat dan siap dikirimkan ke beberapa media cetak. Bagong Soebardjo, pria tersebut, terbiasa mengerjakan dua atau tiga pekerjaan sekaligus dalam satu waktu.

Pria 62 tahun itu mengawali jalan hidup berkesenian ketika mulai menjadi kartunis pada 1970-an. Bersama beberapa kartunis Jogja, dia ikut membidani lahirnya Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta) pada 1973. Inilah kelompok kartunis tertua di Indonesia.

Sejak itu, setiap hari puluhan kartun tercipta dari tangannya. Dan, dikirimkan ke berbagai media cetak di Indonesia yang pada saat itu mayoritas memuat kartun sebagai oase dan hiburan bagi pembacanya.

Kehidupan Bagong memang dekat dengan media cetak. Selain aktif mengisi kartun di beberapa media cetak lokal dan nasional sejak tahun ’70-an, dia juga salah satu pendesain awal tabloid Nyata, yang dulu masih bernama Dharma Nyata dan bermarkas di Solo.

Dan kini, dia menggumuli koran bekas sebagai bahan pembuatan karakter wayang. “Saya memang ditakdirkan hidup bersama koran, dari yang baru hingga yang bekas,” gurau dia sambil tergelak, hingga perut gembulnya bergerak dinamis naik turun.

Karakter kartun ciptaan Bagong terinspirasi dari tokoh-tokoh pewayangan, terutama Punakawan yang memang digemarinya sejak kecil. Kegemaran itulah yang membuat dia kemudian berkeinginan menampilkan kartun dalam sebuah pergelaran wayang.

Sebab, kebetulan dia punya kemampuan mendalang yang dipelajarinya secara otodidak. Dari seringnya menonton pertunjukan wayang kulit sejak kanak-kanak.

Keinginan itu terwujud saat Pakarti (Paguyuban Kartunis Indonesia) mengadakan musyawarah besar (mubes) di Jakarta pada 1992. Di situlah Bagong menunjukkan kepiawaiannya mementaskan wayang kartun di depan publik dan beberapa tokoh, di antaranya Arswendo Atmowiloto dan Ismail Saleh (saat itu menteri kehakiman RI).

Sejak itu Bagong mulai menggarap serius genre wayang kartun tersebut. Bekerja sama dengan Arswendo dan Hasmi (komikus pencipta karakter Gundala), mereka mulai menciptakan karakter-karakter lain yang lebih beragam. Dengan satu karakter utama atau tokoh sentral bernama Bajra Bagaskara.

Bagong konsisten menampilkan wayang dengan gaya mendongeng kepada publik anak-anak. “Dunia anak adalah dunia imajinasi. Saya bisa menanamkan nilai-nilai positif lewat pertunjukan wayang ini kepada mereka,” terangnya.

Lakon yang diambil dalam setiap pementasannya pun cukup sederhana dan anak-anak banget. Misalnya tentang pentingnya kejujuran, menjaga kebersihan, rajin menabung, dan lain-lain.

Setelah tampil di banyak acara anak di berbagai tempat, pada 1990-an wayang kartun yang kemudian diberi nama Wayang Dongeng Nusantara itu tampil di acara anak SCTV bersama Ria Enes dan bonekanya, Susan. Bagong selanjutnya juga mulai membuka pelatihan membuat karakter wayang bagi anak-anak.

Selain kartun dan wayang, Bagong juga menunjukkan totalitasnya menggeluti dunia anak dengan rutin menulis cerita anak di beberapa media cetak. Pementasan wayang dongengnya sering kali mengambil lakon dari apa yang pernah dituliskannya dalam cerita anak-anak tersebut.

Dalam setiap pementasannya, Bagong selalu mengajak anak-anak yang menonton untuk berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh wayang yang sedang dimainkan. Hal itulah yang membuat anak-anak tertarik dan antusias mengikuti karena merasa menjadi bagian dalam lakon tersebut.

Pementasan Wayang Dongeng Nusantara pada acara anak-anak di beberapa kota rupanya menarik perhatian seorang dosen dari University of Melbourne, Australia. Hingga pada September 2018 Bagong diundang secara khusus untuk melakukan pementasan dan workshop di salah satu kampus terbaik di Australia tersebut.

“Mereka sangat tertarik dan antusias. Menurut mereka, ini adalah media yang beda dan efektif untuk menumbuhkembangkan daya imajinasi anak,” urai Bagong.

Juni nanti Bagong juga akan mengadakan pementasan di sebuah lembaga kebudayaan di Singapura. Untuk itulah, dia belakangan ini sibuk mempersiapkan lakon dan ubarampe atau semua perlengkapan pendukung yang akan digunakan dalam pementasan nanti.

Selain semua kegiatan itu, sejak 2015, ketika ojek online mulai masuk Kota Jogjakarta, Bagong juga menjadi pengemudi ojek online di Jogja dengan nomor anggota 001.

Artinya, dialah driver ojek online pertama di Kota Jogja. Dua bulan terakhir ini dia juga membuka warung mi ayam dan bakso yang diberi nama Angkringan Bagong dan melakukan usaha pembibitan beberapa varietas tanaman hias di depan rumahnya.

Semua aktivitas yang dijalani bapak empat anak itu mungkin berat bagi orang seusianya. Namun, Bagong justru semakin aktif melakukan itu semua.

Selain aktivitas tersebut membuatnya bahagia, dia juga memberi contoh bagi anak-anaknya untuk selalu melawan kemalasan. Juga, sebagai bentuk syukur atas anugerah kesehatan yang telah diberikan Tuhan.

“Bagi saya, tak ada namanya waktu luang. Yang ada adalah waktu untuk dimanfaatkan. Setiap saat adalah peluang, dan saya tak akan menyia-nyiakan peluang tersebut,” pungkasnya.