JawaPos.com – Ceres-Negros bisa dibilang menjadi bukti bahwa sepak bola Filipina telah berkembang sangat pesat. Mereka bahkan menjadi salah satu tim yang menakutkan di kawasan ASEAN saat ini.

Sejak menjadikan naturalisasi sebagai prioritas, sepak bola Filipina memang begitu berkembang. Dulu, The Azkals – julukan Timnas Filipina, kerap menjadi lumbung gol. Namun, sejak pemain naturalisasi menjamur, mereka menjadi kekuatan baru. Bahkan, Indonesia mulai kesulitan mendominasi saat bersua Filipina. Sejak 2010, Timnas Indonesia sudah tujuh kali bersua dengan Filipina. Indonesia hanya meraih tiga kemenangan, tiga imbang, dan sekali kalah.

Pada level klub, Ceres-Negros dan Kaya FC Iloilo juga menjelma menjadi kekuatan yang menakutkan. Ceres-Negros yang baru dibentuk Januari 2012 sudah menancapkan kukunya di level Asia. Pada 2016, Ceres-Negros berhasil melaju hingga babak 16 besar ajang AFC Cup. Setahun berselang, The Busmen – julukan Ceres-Negros, mampu menembus semifinal interzone, dan tahun lalu berhasil sampai ke final zona ASEAN pada ajang yang sama.

“Kami selalu melakukan yang terbaik. Kalian tahu sepak bola Filipina agak kesulitan berkembang pada dua tahun terakhir. Setidaknya kami sudah melakukan yang terbaik pada ajang internasional untuk sepak bola Filipina,” ungkap pemain Ceres-Negros yang juga penggawa Timnas Filipina, Stephan Schrock, saat ditemui JawaPos.com usai laga kontra Persija di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Selasa (23/4) sore WIB.

Schrock merupakan salah satu pemain yang dinaturalisasi Filipina. Dia memiliki segudang pengalaman sepak bola Eropa yakni memperkuat klub-klub Bundesliga seperti Hoffenheim dan Eintracht Frankfurt.

“Kami memang terbebani membawa nama baik sepak bola Filipina. Bukan hanya di sini, tetapi juga di timnas. Saya pikir langkah termudah untuk sepak bola Filipina adalah melalui ajang antarklub Asia. Saat ini kami menjadi harapan,” tutup Schrock.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Indra Eka Setiawan