JawaPos.com – Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi ikut buka suara terkait utang PSSI terhadap klub peraih juara kompetisi. Imam Nahrawi menegaskan PSSI harus segera membayar utang tersebut dan tidak mengulang kebiasaan lama yang buruk.

Seperti diketahui sebelumnya, PSSI masih berutang hadiah juara kepada Persik Kediri. Hadiah juara Liga 3 yang menjadi Persik Kediri hingga saat ini belum juga dibayarkan oleh PSSI.

Terkait kabar negatif itu, Menpora Imam Nahrawi mengaku belum mengetahuinya. Menpora menyebut baru mengetahui hal tersebut ketika ditanya oleh para pewarta, Sabtu (23/3) kemarin.

“Kalau itu sudah menjadi hak Persik, apalagi menjadi juara (Liga 3), saya kira PSSI harus segera membayarkannya,” ujarnya.

Imam menegaskan bahwa hal semacam itu bisa makin mencoreng wajah persepakbolaan Indonesia. Terlebih saat sepak bola Indonesia tengah diterpa banyak isu negatif. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada induk persepakbolaan tersebut agar segera memberikan apa yang menjadi hak Persik Kediri. Tidak boleh ditunda-tunda lagi.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, yang belum dibayarkan oleh PSSI kepada Persik tidak hanya hadiah juara saja. Melainkan bonus untuk kategori pemain terbaik dan top skor Liga 3 juga belum dibayarkan.

Pemain terbaik dan top skor Liga 3 memang disabet oleh penggawa Macan Putih. Galih Akbar Febriawan menjadi Pemain Terbaik Liga 3 2018. Sedangkan gelar top skor disabet Septian Satria Bagaskara.

Total hadiah yang seharusnya menjadi hak klub asal Kota Tahu mencapai Rp 330 juta. Rinciannya Rp 300 juta sebagai juara Liga 3 2018. Lalu masing-masing Rp 15 juta untuk pemain terbaik dan top skor.

Imam Nahrowi pun mengaku kecewa dengan masih munculnya permasalahan seperti itu. “Jangan ulang-ulang kebiasaan lama. Setahun kemudian (hadiahnya) baru diberikan, jangan!” tegas pria kelahiran Bangkalan tersebut.

Ia pun mengaku memahami kondisi tim ketika mendapat terpaan hal negatif seperti itu. Menurutnya klub tentu ingin selalu tampil prima dan eksis dalam liga yang kompetitif. Eksis yang dimaksudkan juga meliputi sehat dalam hal keuangan.

“Klub memang harus sehat secara keuangan karena nantinya akan dipakai untuk persiapan tim dan perbaikan manajemen. Tidak boleh ditunda lagi. Harus segera dicairkan,” imbuhnya.

Menurut Imam, seharusnya hal serupa sudah tidak terjadi lagi dalam penyelenggaraan event olahraga apapun. Apalagi dalam sepak bola yang merupakan olahraga yang paling diminati oleh masyarakat.

“Toh, hak siar, bonus dan hadiah telah direncanakan sejak awal oleh operator. Saya kira hal yang mudahlah seperti itu,” pungkas pria berumur 46 tahun tersebut. 

Editor           : Agus Dwi W
Reporter      : (tar/fud)