JawaPos.com – Kursi panas. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan jabatan Ketua Umum PSSI sejak era Nurdin Halid. Bukan hanya panas, melainkan bisa membuat ”terbakar” setiap orang yang mendudukinya. Terbukti, tiga di antaranya pernah merasakan pengapnya sel tahanan.

Ya, Nurdin Halid mengalaminya ketika tersandung kasus kasus penyelundupan gula impor ilegal. Kemudian, La Nyalla Mattalitti juga sempat masuk sel. Dan, kini giliran Joko Driyono yang ditahan Satgas Antimafia Bola karena kasus perusakan barang bukti.

Penahanan Jokdri – sapaan Joko Driyono, untuk saat ini tidak berpengaruh kepada roda organisasi yang sedang dipimpinnya. Sebab, tugas sehari-hari sebagai ketua umum sudah diserahkan kepada anggota Exco Gusti Randa. Pria asal Ngawi itu sudah tidak lagi mengerjakan hal tersebut sejak 19 Maret lalu.

Kursi Panas Ketua Umum PSSI
Joko Driyono resmi ditahan Satgas Antimafia Bola (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Namun, penahanan itu membuat posisi Ketua Umum PSSI lowong. Apabila merujuk Statuta PSSI yakni pada pasal 39 ayat 6, yang menyebut apabila ketua umum tidak ada atau berhalangan hadir, maka wakil ketua umum dengan usia tertua akan menggantikannya.

Nah, itu artinya, seharusnya jabatan akan diemban Iwan Budianto sebagai wakil ketua umum saat ini. Tapi, justru hal itu dibantah Gusti. Menurut dia, jabatan belum dan tidak beralih. “Saya tegaskan Pak Joko tetap ketua umum,” tuturnya. Jabatan itu akan melekat hingga Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI.

Dia menyebut ditahannya Jokdri tidak membuat PSSI mengangkat IB – sapaan Iwan Budianto, sebagai Ketua Umum. Apalagi, status penahanan tersebut hanya bersifat sementara. Mulai kemarin hingga 13 April. Bisa jadi setelah itu Jokdri tidak lagi ditahan Satgas Antimafia Bola.

Sebab, Jokdri masih belum masuk persidangan. Hukumannya berapa lama juga belum bisa ditentukan. Apalagi, sejauh ini kasus yang dikenakan kepadanya pun tidak melanggar Statuta PSSI. Karena itulah, Gusti mengatakan nantinya penahanan Jokdri ini akan membuat anggota Exco PSSI bekerja lebih keras.

Nanti, anggota Exco lain harus turun ikut memutar roda organisasi agar tidak berhenti dengan status penahanan kepada Jokdri tersebut. “Tugasnya akan dibantu anggota komite eksekutif PSSI lainnya. Pak Joko sendiri sebelumnya juga sudah memberi saya tugas dengan agenda khusus yakni membantu plt Ketum menjalankan tugas keseharian di organisasi,” terangnya.

Di samping itu, persiapan untuk KLB pun tetap berjalan. Gusti menuturkan sejauh ini persiapan untuk menggelar KLB tidak ada hambatan. Hanya memang, PSSI masih harus berkoordinasi dulu dengan FIFA.

Selain itu, sebagai pihak yang diberi mandat menjalankan organisasi PSSI oleh Jokdri, Gusti mengungkapkan sangat menghargai seluruh keputusan dari Satgas Antimafia Bola. Meskipun keputusan itu sangat melukai hati PSSI. “PSSI sebagai sebuah organisasi selalu menghormati putusan hukum,” lanjutnya.

Senada dengan itu, anggota Exco PSSI Refrizal mengatakan, prihatin atas apa yang terjadi kepada Jokdri. “Informasi dari grup Exco PSSI. Saya tidak tahu alasan penahanannya apa, tapi itu alasan subjektif penyidik. Sebagai rekan di PSSI saya cukup prihatin,” ucapnya.

Di sisi lain, Koordinator Save Our Soccer Akmal Marhali menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Gusti dan anggota Exco lainnya tidak mengganti Jokdri adalah kesalahan besar. Itu menandakan Gusti dan anggota Exco lainnya tidak mempunyai etika dengan melanggar Statuta PSSI. “Coba dicermati dan dibaca, ini sudah di luar nalar,” kecam Akmal.

Editor           : Edy Pramana
Reporter      : rid/ham