JawaPos.com – Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI, Joko Driyono menjalani pemeriksaan lanjutan selama 22 jam. Namun ia enggan menjelaskan lebih dalam seputar pertanyaan yang disampaikan penyidik atas pemeriksaannya sebagai tersangka perusakan barang bukti pengaturan skor Liga Indonesia.

Pria yang akrab disapa Jokdri itu mengaku pertanyaan substansi saat pemeriksaan di Polda Metro Jaya itu merupakan bagian dari proses penyidikan. Sehingga, ia memilih bungkam soal pertanyaan yang diajukan kepada dirinya.

“Saya mohon maaf tidak bisa menyampaikan substansinya, karena ini sudah masuk dalam proses hukum ya, dan saya siap untuk menjalankan,” ujar Jokdri usai keluar dari ruangan penyidik Polda Metro Jaya, Jumat (22/2).

Jokdri Enggan Beberkan Pertanyaan yang Diajukan Penyidik

Ilustrasi: Mafia Bola (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Namun demikian, Jokdri tidak menampik jika pertanyaan yang disampaikan oleh penyidik adalah seputar penggeledahan barang bukti di kantor Komisi Disiplin PSSI Rasuna Office Park (ROP).

“Ya, ada hubungan dengan peristiwa penggeladahan barang bukti di office park, saat saya berada di Abu Dabhi. Tapi substansi (pertanyaan) sudah masuk proses hukum. Kami semua menunggu, berharap besar hasilnya bisa dijelaskan,” jelasnya.

Usai pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka selama 22 jam dengan 15 pertanyaan lebih, dirinya pun akan menjalankan tugas Plt Ketua Umum PSSI seperti biasanya.

“Ya, menjalankan tugas-tugas rutin seperti biasanya. Menyiapkan road map tahapan kongres luar biasa PSSI,” terang Jokdri.

Sebelumnya, Jokdri ditetapkan sebagai tersangka perusakan barang bukti kasus dugaan pengaturan skor sejak Kamis, (14/2) lalu. Hingga saat ini polisi belum melakukan penahanan terhadap Joko Driyono atas kasus penghancuran barang bukti pengaturan skor itu.

Joko Driyono terancam dijerat dengan Pasal 363 KUHP dan atau Pasal 265 KUHP dan atau Pasal 233 KUHP. Pasal-pasal tersebut pada intinya mengenai tindakan pencurian dengan pemberatan atau perusakan barang bukti yang telah terpasang garis polisi.

Editor           : Erna Martiyanti
Reporter      : Wildan Ibnu Walid