JawaPos.com – Faktor regenerasi menjadi alasan tim perahu naga DKI Jakarta menyisakan enam kursi kosong. Sisa kuota tengah diperebutkan 26 pedayung muda. Mereka saling bersaing guna mendapatkan tempat di skuad pemusatan latihan daerah (pelatda). 

Keenam sisa kuota itu, masing-masing terbagi tiga sektor putra dan putri. Sedangkan, komposisi tim pelatda sudah dipastikan masih didominasi muka-muka lama. Bahkan, 90 persen dari 15 kuota pada tiap kategori sudah dipastikan menjadi para senior. Rencananya, sisa tiga personil itu akan mengisi cadangan atau penabuh drum.

“Dragon sudah terisi 12 atlet (putra dan putri), tiga sisanya sudah dipastikan untuk junior,” ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PODSI DKI, Qurrotul Ayun, Kamis (21/2)

Ayun, sapaannya, menururkan, pedayung muda masuk program jangka panjang. Mereka terjaring dari proses seleksi pada musim lalu. Status mereka masih pelajar dari 10 sekolah yang tersebar di tiga wilayah, yakni Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan.

Volume latihan setiap pekannya belum begitu intens. Dalam seminggu, mereka baru menjalani empat sesi latihan. Hal itu disebabkan karena faktor kewajiban akademik. Sedangkan, mereka yang sudah menembus skuad pelatda menjalani 14-16 sesi latihan setiap pekannya.

Ayun menuturkan, pedayung muda masih memerlukan jam latihan panjang. Faktor keseragaman gerakan masih menjadi prioritas utama. Disusul daya tahan dan kecepatan di atas boat. “Dari penekanan ini ternyata semakin peluang, berarti mereka berpotensi mengisi sisa personil,” katanya.

Sementara itu, pelatih Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) dayung DKI, Andri Sugiarto mengatakan, mereka masuk dalam pengawasan sejak enam bulan silam. Andri memastikan, penilaian skuad pelatda objektif. Bahkan, senior bisa tergeser jika tak mampu menunjukan perkembangannya. Karena itu, pihaknya berharap pedayung muda mampu memaksimalkan jalur persaingan.

“Kami objektif, semakin mereka bagus, semakin ketat persaingannya. Begitu juga dengan senior, mereka lengah bakal tergeser oleh junior,” jelas Andri.

Editor           : Banu Adikara
Reporter      : Achmad Nasrudin Yahya