JawaPos.com – Indonesian Basketball League (IBL) 2018/2019 kembali membuat nominasi untuk sosok-sosok yang dinilai tampil dengan apik dan sukses mencuri perhatian di musim ini. Tiga nama pelatih yang dianggap layak menjadi coach of the year juga sudah dinominasikan.

Nama pertama yang menyedot perhatian pecinta basket Tanah Air adalah Giedrius Zibenas yang merupakan arsitek dari Stapac Jakarta. Melakoni debutnya sebagai pelatih Stapac pada musim ini, pria asal Lithuania tersebut sukses membuat Stapac menjadi tim yang paling digdaya di musim reguler IBL 2018/2019.

Dari total 18 laga yang dijalani tiap tim, Stapac hanya mengalami satu kali kekalahan di bawah asuhan Ghibbi, sapaan akrab Giedrius. Mereka juga tercatat menorehkan 13 kali kemenangan beruntun hingga musim reguler berakhir.

Ghibbi juga dikenal sebagai pelatih yang sangat menjunjung tinggi defense yang mumpuni. Buatnya, sebuah tim yang baik harus bisa bertahan dengan baik untuk bisa memenangkan laga yang dijalani. Tak jarang Ghibbi merasa kecewa kepada Abraham Damar Grahita dan kawan-kawan kala mereka tidak bisa melakukan defense dengan baik meski mereka memenangkan laga.

Pelatih NSH Jakarta Wahyu Widayat Jati menjadi nama kedua yang dinominasikan. Kualitas Cacing, sapaan akrab Wahyu, sebagai pelatih sebetulnya tidak usah diragukan lagi mengingat ia sudah punya pengalaman cukup banyak, mulai dari menukangi CLS Knights di IBL tiga musim lalu, sampai menjadi pelatih timnas basket Indonesia di SEA Games 2017.

Mulai menukangi NSH pada IBL musim lalu, Cacing perlahan-lahan mampu membentuk NSH yang awalnya merupakan tim papan bawah menjadi tim yang ditakuti. Di bawah tangan dingin Cacing, NSH untuk pertama kalinya dalam sejarah IBL mampu keluar sebagai juara divisi dan melangkah ke babak semifinal playoffs IBL.

Dikenal sebagai pelatih yang galak dan keras, Cacing adalah sosok pelatih yang jarang puas kepada para pemainnya. Menorehkan catatan 12 kali kemenangan dari 18 laga sepanjang musim reguler, Cacing kerap kali mengomeli anak-anak didiknya agar terus bermain sesuai dengan standar dan eskpektasinya.

Nama terakhir yang dinominasikan adalah juru taktik Bima Perkasa Jogja Raoul Miguel Hadinoto. Sama seperti Cacing, Ebos, sapaan Raoul, juga bukan sosok baru di IBL. Ia pernah dipercaya menjadi pelatih beberapa tim seperti Citra Satria Jakarta (2004), Kalila Jakarta (2008), Garuda Flexi Bandung (2010), dan JNE Siliwangi Bandung (2017).

Pria berkepala plontos yang juga pernah didaulat menjadi pelatih kepala tim nasional basket putri pada tahun 2013 ini berhasil mengangkat ‘status’ Bima Perkasa dari tim kacangan menjadi tim kuda hitam. Ebos membawa timnya itu lolos ke babak playoffs dengan torehan 11 kali kemenangan di sepanjang musim.

Editor           : Banu Adikara