JawaPos.com – Tidak dapat dipungkiri, masih ada sebagian masyarakat yang memandang sebelah mata cabang olahraga e-Sport. Mereka menilai cabang olahraga tersebut tidak ubahnya seperti bermain games.

Menanggapi anggapan itu, atlet e-Sport Indonesia sekaligus Ketua Departemen e-Sport PKPI, Yudi Kurniawan sangat menyayangkan hal tersebut. Dia menilai e-Sport berbeda dengan bermain games.

“Karena e-Sport itu bukan sekadar bermain games. Banyak hal yanh bisa didapat dari sana. Kita bisa mencari duit di sana, bisa mendapat teman, dan juga mengajarkan kerja sama,” ungkapnya saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“e-Sport itu bukan hanya menjadi sebuah hobi saja, tetapi sebagai sebuah profesi. Oleh sebab itu kami menekankan e-Sport dapat dijadikan sebagai sebuah profesi di Indonesia,” sambungnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh atlet e-Sport tim NXA Ladies, Monica Carolina. Perempuan yang kerap disapa Nixia itu turut menyayangkan stereotip negatif masyarakat, khususnya orang tua terhadap e-Sport.

Menurutnya pandangan negatif tersebut terbentuk bukan akibat dari e-Sport. Namun, karena prilaku pemainnya sendiri.

“Gamernya sendiri mesti membuktikan ke orang tua. Kenapa mereka berpandangan negatif karena anaknya jadi malas-malasan, kecanduan, dan buang-buang uang. Kalau memang anak itu sendiri benar-benar gamer dan punya prestasi, maka harus tunjukan dengan baik. Jangan prioritasin main gamesnya, pentingin dulu keluarga dan akademis,” ungkapnya.

Nixia menambahkan, jika seorang gamer dapat melakukan hal tersebut, maka bukan hal mustahil stigma yang menempel pada e-Sport akan luntur. Sebaliknya masyarakat justru akan mendukung penuh.

Editor           : Bagusthira Evan Pratama
Reporter      : Bintang Rahmat