33 C
Semarang
Rabu, 3 Juni 2020

Petir Jagung

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Oleh Dahlan Iskan

Harga telur turun. Pada saatnya nanti. Ketika harga jagung sudah turun. Juga pada saatnya nanti.

Sekarang sudah serba salah. Mau impor sekali lagi? Apakah waktunya masih tepat? Impor kan tidak bisa cepat?

Akhir Februari nanti petani jagung sudah mulai panen. Misalnya di sekitar Grobogan, Jateng. Yang hari ini sudah terlihat nyata: buah jagungnya sudah membesar.

Kalau pun diputuskan lagi harus impor bisakah dijamin cepat datang? Sebagai panadol kedua? Setelah impor pertama 100.000 ton itu langsung ditelan pasar? Dan belum bisa mengembalikan harga jagung? Kalau toh harus impor lagi bisakah masuk minggu depan? Dan dalam jumlah yang tepat? Tidak boleh berlebih?

Semula saya percaya. Tahun 2018 tidak perlu impor jagung lagi. Prestasi besar itu akhirnya tercapai. Kementerian pertanian sudah berani mengeluarkan data. Yang membuat dada membusung: Indonesia surplus jagung. Bahkan sampai 13 juta ton.

Ternyata seperti halilintar yang tanpa petir. Harga jagung melejit di bulan Nopember. Bahan pokok makanan ternak itu bikin gelegar. Seperti juga dulu-dulu.

Lalu diputuskanlah impor jagung. Terpaksa. Angkanya malu-malu: 100 ribu ton.

Hanya menolong sebentar. Angka itu ternyata tidak cukup. Beda harga Bulog dengan pasar masih begitu jauh: Rp 4.000/Kg versus Rp 6.000/Kg.
Terjadi antrean di Bulog. Truk penuh jagung terguling. Sepulang dari antre. Semoga bukan karena lelelahan.

Kini sudah kepalang tanggung. Mau impor lagi pun sudah sangat nanggung. Berita buruk terpaksa masih akan harus beredar. Sampai akhir Februari nanti.

Kalau pun impor lagi belum tentu baik. Kedatangan jagung yang tidak pas justru akan jadi berita lebih buruk: pemerintah impor jagung di musim panen.

Padahal bulan berikutnya giliran Sumbawa mulai panen. Besar-besaran. Khususnya Kabupaten Dompu. Bisa mencapai 100 ribu hektar. Demikian juga Sulawesi Tengah. Dan Gorontalo.

Habis itu Lampung panen raya.
Dan daerah-daerah lain lagi.

Harga jagung saat ini memang masih Rp 6.200/kg. Tiga hari lalu. Jauh dari harga patokan Rp 4000/kg. Pabrik pakan terpaksa masih mengeluh berat. Di media sosial. Tidak terlihat di media main stream.

Tapi sebenarnya mereka juga tidak mengeluh.

Pabrik pakan sudah menaikkan harga. Peternak toh tidak mungkin tidak beli. Tidak ada pilihan lain.

Peternaklah yang mengeluh: harga pakan naik.

Sebenarnya peternak juga tidak mengeluh. Mereka juga tetap ingin hidup. Mereka sudah menaikkan harga telur. Atau daging ayam.

Tinggal pembeli yang mengeluh.

Sebenarnya juga tidak mengeluh. Tinggal lebih sedikit makan telur. Atau daging ayam.

Sampai harga jagung turun.
Harga makanan ternak turun.
Harga telur turun.
Harga daging ayam turun.
Pada waktunya. (Dahlan iskan)

Berita sebelumyaNaik Bus
Berita berikutnyaKunjungi Presiden, Agnes Kena Hoax

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Pengguna Ayla Kumpul di Salatiga

SALATIGA - Ratusan pengguna mobil Daihatsu Ayla mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) ke-2 Ayla Community yang dilakukan di lapangan Tlogo Resort, Tuntang Kabupaten Semarang, akhir...

Tulisan Kampanye Dibuat Karyawan Kopkar

SALATIGA-Petinggi koperasi karyawan (Kopkar) Jitu PT Telkom Salatiga mengaku tidak tahu menahu adanya dugaan kampanye terselubung pada rekening pembayaran telepon. Ketua Kopkar Djohan Nurwiyanto...

Bagikan 5.000 Cup Carica Gratis

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Untuk lebih meningkatkan kualitas dan pemasaran produk, Bappeda Kabupaten Wonosobo menggelar carica day. Dalam acara yang diadakan di Taman Fatmawati Senin...

Luangkan Waktu Berlibur Bersama Keluarga

Meski sibuk sebagai guru dan menulis, Himawan tetap meluangkan waktunya untuk berlibur ke tempat-tempat wisata bersama keluarganya. Bagi keluarga, kata dia, kata kuncinya adalah...

Tutuk Klaim Libatkan 40 Terdampak BRT

SEMARANG - Meski sempat mendapat penolakan dari paguyuban sopir angkutan kota (angkot) dan Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang, Bus Rapid Transit (BRT) Trans...

KKN UPGRIS Olah Kotoran Sapi Jadi Biogas

RADARSEMARANG.COM, BANYUBIRU - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) manfaatkan kotoran sapi menjadi biogas. Realisasi pembuatan biogas diawali dengan mengadakan penyuluhan...