Terbawa Film Turki

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di...

Oleh: Dahlan Iskan

Hampir tidak percaya. Ingin kuliah di Turki gara-gara ini: nonton sinetron Turki. Yang dulu banyak disiarkan di Indonesia. Oleh AN-TV.

Saya pikir mengada-ada. Tapi Hassanatul Azni tidak sendirian.

“Coba unjuk tangan. Siapa yang sama dengan Azni,” tanya saya. Di restoran Malaysia di Istanbul itu. Di lantai atas yang dipenuhi 40 mahasiswa Indonesia itu. Tanggal 1 Januari kemarin sore itu.

Azni mengambil studi jurnalistik. Di Universitas Istanbul. Kini sudah tahun ketiga. “Saya terkesan dengan tempat-tempat yang digambarkan dalam sinetron itu,” kata Azni.

Saat itu Azni masih di SMA. Lalu mencari bea siswa Turki. Mendapatkannya. “Seandainya tidak dapat pun saya akan tetap kuliah di Turki,” katanya.

Ada tiga sinetron Turki yang mengesankannya. Saat ia masih di SMAN 1 Sungai Rumbai. Saya tahu kota kecil itu. Di Kabupaten Dharmasraya. Di pedalaman Sumatera Barat. Saya pernah ke sana. Menyelesaikan kelangkaan listrik di Sumbar dulu.

Simaklah keterangan Azni ini. Ia masih hafal judul-judulnya:
Cansu dan Hazal. Atau disebut Paramparça. Dengan pemainya: Leyla Tanlar, Alina Boz dan Ebru Ozcan.

Lalu sinetron berjudul Shehrazat. Atau Binbir Gece. Dengan pemain Berguzar Korel dan Halic Ergen.

Sebenarnya Azni juga suka film Korea. Dan ingin kuliah di Korea. Sudah mulai menghafal beberapa kalimat dalam film Korea. Tapi, katanya, sulit cari bea siswa ke Korea.

Selama di Turki Azni juga pernah nonton film Turki. Judulnya “Ayla-the daughter of war”. Film tentang tentara Turki. Yang membantu tentara Korea Selatan.

Apa pun alasannya, kini ada sekitar 1.200 mahasiswa Indonesia di Turki. Terbanyak dibanding masa lalu. Peminatnya naik terus. Banyak pula sumber bea siswa. Azni mendapat yang langsung dari pemerintah Turki.

Pun yang tanpa bea siswa. Seperti Fikri Khodari. Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Istanbul.

Fikri harus cari biaya sendiri. Tidak sulit baginya. Mahasiswa sastra Turki mudah berkomunikasi. Ia sering diminta membantu pedagang Indonesia. Yang kulakan tekstil di sini.

Di bidang tekstil Turki memang masih bisa bersaing. Dengan Tiongkok sekali pun. “Selisih harganya sangat tipis. Tapi kualitasnya lebih baik,” ujar Fikri.

Belakangan Fikri dapat rejeki tambahan. Saat Rumah Zakat memintanya jadi perwakilan di Turki. Membayarkan sewa apartemennya. Dua kamar. Tambah satu ruang tamu. Untuk empat orang.

Pun meski kelak lulus di sastra Fikri bertekad jadi pengusaha. Atau bekerja di kementerian luar negeri.

Riza Muarrif, mahasiswa S-3 jurusan Tafsir Quran asal Aceh itu, punya saran: yang akan kuliah di Turki sebaiknya kuat dulu dasar fikihnya. Agar tidak mudah ketularan kultur di Turki.

Misalnya, mazhab di Turki itu Hanafi. Beda dengan. Mazhad orang Islam di Indonesia: Syafii. “Berwudlunya tidak seperti kita yang Syafii,” katanya. “Kalau terkena liur anjing mestinya kan dibasuk 7 kali. Yang sekali pakai tanah. Di sini cukup basuh sekali dengan air,” ujar Riza.

Demikian juga saat berwudu. Sebelum salat. Basuh tangannya tidak sampai siku. Basuh kakinya tidak sampai tumit. Sedikit-sedikit tayamum. Musim dingin pun dipakai alasan untuk cukup tayamum. (Tayamum adalah berwudu tanpa air. Sebagai jalan darurat kalau lagi tidak ada air).

Saya jadi ikut merasa bersalah.

Malam sebelumnya saya kedinginan. Suhu udara 0 derajat. Saya tidak berwudu. Saya tayamum. Sudah terlanjur.

Di Tiongkok pun saya juga sering begitu. Kalau udara di bawah 0 derajat. Ikut cara orang setempat. Yang mazhabnya juga Hanafi.

Atau ketularan tidak salat. Seperti kata Iklil Atros Arfan. Yang lagi kuliah studi Islam. Yang SMS-nya di pondok Al Maarif Singosari.

“Di sini banyak yang tidak salat. Alasannya, masih berbuat maksiat,” ujar Iklil. “Jadi,” katanya “orang di sini kalau sudah salat alimnya bukan main.”

Kultur di Turki juga jelas: merasa negara hebat. Merasa di atas Arab. Merasa di atas yang lain. Turki memang pernah lama jadi penguasa dunia. Dari Eropa sampai Asia.

Sampai-sampai orang seperti Hasanatul Azni ditanya begini:
“Apakah di Indonesia ada ice cream?” ujarnya.(dahlan iskan)

Berita sebelumyaRumah Terakhir Maria
Berita berikutnyaHijab Pertama
- Advertisement -

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Random News

Tak Berikan CSR, Bisa Disanksi

SEMARANG - Panitia khusus terus bekerja untuk merampungkan Raperda Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perusahaan (TJSLP) di Jateng. Perda itu nantinya yang akan memuat tanggung...

Tunggu Hasil Verifikasi Ulang

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG—Manajemen PSIS Semarang telah memilih Stadion Moch Soebroto Kota Magelang sebagai homebase selama kompetisi Liga 1 tahun 2018. Pemkot Magelang sedang menyusun draft...

96 Warga Mangkir Pemanggilan Konsinyasi

KENDAL—Pengadilan Negeri (PN) Kendal kembali memanggil 97 warga Desa Wungurejo dan Tejorejo yang lahannya terdampak pembangunan jalan tol Semarang-Batang. Yakni untuk pemberian uang ganti...

Menteri Agama Resmikan IAIN Salatiga

SALATIGA – Institut Agama Islam negeri (IAIN) Salatiga hari ini, akan diresmikan Menteri Agama Republik Indonesia, H. Lukman Hakim Syaifudin. Peresmian menjadi puncak rangkaian...

More Articles Like This

- Advertisement -