GP Valencia, Panggung Terakhir Pedrosa Dalam Dunia MotoGP

129

JawaPos.com – Sangat disayangkan, GP Valencia yang menjadi seri pamungkas di musim ini juga akan menjadi balapan terakhir bagi pembalap legendaris asal Spanyol, Dani Pedrosa. Pasalnya dia sudah memutuskan pensiun dari kompetisi MotoGP.

Pendrosa mengaku tidak mudah untuk meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya tersebut. Sebab banyak memori dan kenangan yang tidak dapat dilupakannya.

“Seiring berjalannya waktu, Anda akan teringat terus. Ini akan menjadi memori yang saya ingat terus,” ujarnya sebagaimana dikutip dari situs resmi MotoGP.

MotoGP, Repsol Honda, Dani Pedrosa
Pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa (Motorsport)

Salah satu memori yang diingatnya adalah ketika dia berjuang untuk mendapatkan posisinya saat ini. Karena dia tidak menyangka sama sekali bahwa dirinya dapat menjadi pembalap di pentas MotoGP.

“Saya seperti ikan kecil di dalam akuarium yang besar, itu yang saya rasakan. Saya memulai balapan di tahun 1996. Meskipun banyak pembalap saat itu tidak percaya diri,” kenangnya.

Perlahan tapi pasti karir Pedrosa makin menanjak. Pada tahun 2000 dia berhasil menampilkan performa yang spektakuler di Kejuaraan Spanyol bersama tim Movistar Junior. Bahkan ketika performanya sempat dilirik oleh Manager tim Repsol Honda, Alberto Puig.

“Dia selalu percaya dengan potensi yang saya punya. Ketika itu saya bahkan berhasil memenangkan tiga gelar juara dunia. Jadi tercipta hubungan khusus denganya,” ucap The Little Spaniard.

Tercatat saat itu dia berhasil memenangi Kejuaraan Dunia 125cc tahun 2003, serta Kejuaraan Dunia 250cc tahun 2004 dan 2005. Berbekal dengan keberhasilan itu, Puig membawanya untuk berkompetisi di MotoGP pada tahun 2006.

Namun atmosfer persaingan di kompetisi kasta tertinggi balap motor itu berbeda dengan kejuaraan yang pernah diikuti Pedrosa sebelumnya. Dia mengaku benar-benar merasakan perbedaan besar saat itu.

“Saya memiliki potensi dan kepercayaan diri yang tinggi untuk mengikuti MotoGP. Namun saya sadar ketika itu bahwa saya benar-benar kecil di kelas tersebut,” jelasnya.

Pedrosa menceritakan ketika itu dia merasakan kesulitan yang luar biasa. Di antaranya saat dia merasakan sulitnya balapan di cuaca hujan yang memaksanya harus memikirkan strategi mengenai penggunaan ban. Kemudian juga resiko cedera yang lebih besar.

“Saya benar-benar baru dengan keadaan seperti itu. Tetapi saya tetap percaya akan kemampuan pribadi dan terus berusaha keras untuk menjalaninya,” ungkapnya dengan nada optimistis.

Dengan rasa semangat itu, Pedrosa terus bangkit dari kerasnya persaingan MotoGP. Akhirnya di tahun 2012 dan 2013 dia mampu meraih hasil yang gemilang.

Pada musim 2012 dia meraih total tujuh kemenangan dan 15 podium. Ini menjadi rekor terbaik dalam karirnya di MotoGP. Keberhasilan tersebut terus berlanjut hingga musim 2013.

“Rekor terbaik saya terjadi di tahun 2012 dan 2013. Tetapi saya mendapat nasib buruk juga (di musim 2013). Jadi di satu waktu saya sukses, di lain hari saya mendapat kesialan,” bebernya.

Seiring berjalannya kompetisi di musim-musim selanjutnya, Pedrosa seolah kehilangan cakarnya. Akhirnya melalui banyak pertimbangan dia memutuskan untuk pensiun dari dunia MotoGP setelah musim 2018 selesai

“Saya memikirkan mengenai momen ini. Jujur ini merupakan situasi yang aneh dan berbeda dari ekspetasiku. Tapi kuncinya ikuti kata hati, dan inilah yang aku rasakan,” tandasnya.

(mat/JPC)