Dokter: Nekat Minum Air Rebusan Pembalut Bahaya Bagi Organ Tubuh

113

JawaPos.com – Fenomena tindakan remaja yang minum air rebusan pembalut untuk mendapatkan efek mabuk atau fly adalah tak wajar. Meski masih belum diketahui kandungan apa saja yang ada dalam air rebusan pembalut, tapi menenggak kandungan kimia bisa berbahaya bagi tubuh.


Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB yang juga Ahli Endoskopi Gastrointenstinal mengungkapkan dari segi kesehatan tentu minum air rebusan pembalut adalah hal berbahaya. Selain zat-zat kimia masuk ke dalam tubuh, pembalut yang terkontaminasi kuman, dan bekas darah tentu akan berbahaya saat dikonsumsi.

“Komponennya itu apa kan masih belum tahu, dari segi kesehatan itu kan darah ya (kalau mislanya ada), kebersihannya dipertanyakan. Lalu itu pusat kuman bisa sebabkan infeksi. Belum lagi gel yang mengandung zat kimia itu,” tegasnya kepada JawaPos.com, Kamis (8/11).

pembalut wanita, rebusan air pembalut, air rebusan pembalut, kpai, mabuk air rebusan pembalut, bahay air rebusan pembalut,
ILUSTRASI: Remaja di Jawa Tengah tengah kecanduan air rebusan pembalut. (dok. Radar Karawang/JawaPos Group)

Tapi, jika dilihat dari kandungan pembalut sendiri yang mengandung klorin, memang bisa membuat organ tubuh terkontaminasi. Hal itu bisa menjadi toksik atau racun dari zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh.


“Efeknya apa? Kalau toksik misalnya bisa saja hilang kesadaran misalnya. Klorin atau zat kimia itu ada dua hal jika secara langsung misalnya bisa mengganggu lambung, dalam jangka pendek misalnya diare. Kena di usus, liver lalu diserap ginjal,” jelasnya.


Menurut dr. Ari tindakan remaja tersebut sudah kebablasan dan menjadi keprihatinan bersama. Dia menegaskan kondisi ini jadi catatan untuk semua komponen masyarakat termasuk pemerintah daerah dan semua tenaga kesehatan untuk lebih menggencarkan promosi kesehatan dan preventif.


“Kita ini masih punya banyak Pekerjaan Rumah (PR) promosi kesehatan dan pencegahan sampaikan edukasi ke masyarakat,” ungkapnya.


Menurutnya tindakan itu sudah menjadi perhatian publik seluruhnya. Remaja ambil jalan pintas tanpa logika normal. Kondisi ini semakin luas dengan penyebaran di media sosial.


“Maka dari itu saya anjurkan setiap dokter, dan mahasiswa kedokteran pun wajib sebarkan edukasi kesehatan positif di media sosialnya,” tegasnya.


(ika/JPC)