Menguak Isi Otak Seseorang yang Hobi Menyebar Hoax

177

JawaPos.com – Tak seperti Pinokio, di dunia nyata, seseorang yang berbohong dan menyebar kebohongan tak bisa terlihat secara fisik. Namun ternyata bisa dilihat dari susunan organ otaknya.


Dokter Spesialis Saraf Adre Mayza, dr., Sp.S(K). mengungkapkan ternyata konten otak seseorang yang gemar berbohong berbeda dengan orang jujur. Sekali hobi berbohong, maka orang itu akan terus menerus berbohong.

“Orang penyebar hoax sudah buat sirkuit bohong di dalam otaknya. Jika bohong ya bohong terus. Permasalahannya adalah problemmnya kita enggak tahu mana yang bohong dan mana yang benar. Harus dengan data,” tukasnya kepada JawaPos.com baru-baru ini.


Menurut dr. Adre, seseorang yang suka berbohong artinya membiarkan terbentuknya sirkuit kebohongan di dalam otak. Meski begitu otak setiap orang secara bentuk tetap sama.


“Bentuknya sama otaknya, pola pikirnya yang beda antar pelaku hoax dan yang bukan. Isi sirkuit memorinya yang beda.
Otak yang suka menyebar hoax, memori yang tersimpan di dalam otaknya dicekokin info yang bohong tadi,” tegasnya.


Lingkungan yang penuh dengan hoax, kata dr Adre, adalah sesuatu yang berbahaya untuk anak-anak. Anak-anak akan meniru dan mencontoh perilaku tersebut.


“Ini bahaya buat anak-anak, bahaya buat orang yang enggak tahu bahwa itu kebohongan,” katanya.


Dia mendorong agar pemerintah makin serius menangani pelaku hoax. Tentu menghadapinya juga harus dengan fakta dan data. Hal itu termasuk juga pada pelaku penebar kebencian atau hate speech.


“Ini kan menyangkut pembentukan mental, bakal disimpan dalam memori,” ungkapnya.


(ika/JPC)