Kisah Pilu PSPS Riau Demi Bertahan di Liga 2

176

JawaPos.com – Seandainya di kompetisi Liga 2 ada penghargaan khusus bagi tim yang berjuang sampai berdarah-darah demi bertahan di kasta kedua ini, boleh jadi PSPS Riau pemenangnya. Tim yang pernah berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia ini mampu mengakhiri kompetisi tanpa terdegradasi. Padahal sejumlah kendala membelit mereka sepanjang kompetisi ini bergulir.



Laga pamungkas melawan PSIR Rembang menjadi contoh terkini dari perjuangan Askar Bertuah, julukan PSPS. Mereka nyaris tidak bisa berangkat karena tidak punya ongkos untuk pergi ke Rembang. Namun, dengan tekad besar untuk bisa bertahan di Liga 2 mereka pun nekat berangkat. Meski hanya membawa 12 pemain saja dan istirahat saat transit saja

Hasilnya, PSPS pun kalah telak 0-6 di kandang PSIR Rembang. Namun, mereka tidak kecewa dengan kekalahan telak tersebut. Terpenting, PSPS tetap bertahan di Liga 2. Karena, jika tidak datang bertanding, degradasi ke Liga 3 yang berkelas amatir bisa jadi hukuman yang akan diterima.



PSPS Riau memang mengarungi musim Liga 2 2018 dengan segala keterbatasan. Terutama di segi finansial. Dari kebutuhan anggaran Rp 6 miliar untuk mengarungi satu musim Liga 2, danayang didapat dari sponsor hanya Rp 200 juta. Hal ini berimbas pada tertundanya pembayaran gaji ofisial, pelatih, dan pemain. Hingga Oktober ini, praktis sudah lima bulan mereka belum menerima gaji.



Meski dengan kondisi keuangan yang tak menentu, laju PSPS Riau di Liga 2 tak terlalu buruk. Hingga akan menjalani partai terakhir melawat ke Rembang, PSPS berada di peringkat 6 klasemen Liga 2 dengan poin 31.



Askar Bertuah hanya berjarak satu angka dari penghuni peringkat 4, Persiraja. Posisi PSPS Riau pun dipastikan aman dari degradasi.  Partai di Rembang sendiri sudah tak menentukan lagi bagi kedua tim. PSPS sudah aman dari degradasi, sementara PSIR dipastikan degradasi.



Bukan berarti semuanya berjalan lancar. Kendala muncul saat tim PSPS akan berangkat ke laga yang digelar, Senin (15/10) sore itu. Ketiadaan dana membuat tim hampir batal berangkat.



Namun dengan bayang-bayang hukuman degradasi bagi tim yang tak hadir dalam pertandingan, tim akhirnya tetap pergi bertanding. PSPS hanya membawa 11 pemain utama plus 1 penjaga gawang cadangan. Mereka juga hanya didampingi oleh 4 ofisial, termasuk di dalamnya pelatih kiper Lutfi Yasin yang memimpin tim.



PSPS hanya ditangani Lutfi usai partai menjamu Aceh United di Kaharuddin Nasution, Rabu (3/10) lalu. Usai laga yang berakhir dengan kekalahan 1-2 untuk PSPS itu, pelatih kepala Hendri Susilo dan asisten pelatih Gusnedi Adang pergi karena gaji yang tak kunjung turun.



Lutfi dan kapten tim Firman Septian kompak menyebut faktor kelelahan yang membuat PSPS kalah telak dari tuan rumah PSIR Rembang. Ini terlihat dari perjalanan yang ditempuh untuk tiba di Rembang.” Daripada degradasi, main dengan 10 orang pun, kalah berapapun, lebih baik,” kata Lutfi.



Lawan PSIR dijadwalkan pada Senin (15/10), rombongan PSPS baru bertolak dari Pekanbaru ke Jakarta Ahad (14/10) pukul 19.00 WIB. Mereka sampai di Bandara Internasional Sukarno Hatta dan kemudian tiba transit di hotel sekitar bandara sekitar pukul 23.30 WIB.



Hanya sekitar 3 jam istirahat, Senin (15/10) dini hari pukul 03.00 WIB harus kembali ke bandara untuk terbang ke Semarang pukul 05.15 WIB. ”Tidurnya cuma dua jam,” ucap Lutfi.



Mereka tiba di Bandara Internasional Ahmad Yani sekitar 07.00 WIB. Perjalanan dilanjutkan melalui darat menggunakan bus yang memakan waktu sekitar tiga jam. Pukul 10.00 WIB tim ini akhirnya tiba di Rembang.”Istirahat sebentar, jam 2 (14.00 WIB) ke lapangan,” kata Lutfi lagi.



Dampak dari perjalanan yang melalahkan ini terlihat dari performa di lapangan. PSPS Riau kalah 6 gol tanpa balas. Lutfi menyebut, mereka tetap semangat untuk berangkat karena tak ingin apa yang sudah dicapai di Liga 2 2018 menjadi sirna.



Lutfi mengungkapkan, yang dikhawatirkan saat pertandingan itu bukanlah kekalahan, namun kondisi pemain jangan sampai cedera karena lapangan yang jelek.”Lapangan parah. Saya bilang yang penting jaga kaki karena pemain kan mau diambil orang, jangan sampai cedera,” katanya.



Jika PSPS Riau tak hadir, Lutfi menyebut Komisi Disiplin (Komdis) PSSI bisa menjatuhkan sanksi degradasi. Dia pun mencontohkan laga Copa Indonesia antara Persija melawan Persebaya.



”Jelas Komdis akan menghukum (jika tak bertanding, red) degradasi. Contoh dulu waktu Copa Indonesia, Persebaya nggak mau main ke Persija, itu (Persebaya) degradasi. Makanya yang penting main. Ini persembahan terakhir, pemain pun keletihan. Ini supaya PSPS tidak degradasi, itu saja,” singkatnya.



Firman Septian menyebut, hasil pertandingan itu adalah upaya maksimal yang bisa dilakukan pemain.”Mereka memang keras. Itu semampu kita nahannya,” kata winger yang kini sudah berlabuh ke Semen Padang untuk tampil di babak 8 besar Liga 2.



Bisa dibilang, perjalanan PSPS musim ini lebih banyak karena modal semangat dan segenggam loyalitas di sebagian pemainnya. Di akhir paruh pertama lalu, sebagian pemain sudah memilih pergi karena tak mendapat gaji. Namun, takdir sudah menentukan, PSPS masih bertahan di Liga 2  musim ini. Entah di musim depan.



(jpg/adw/JPC)