RADARSEMARANG.COM-PROSTITUSI online dirasa lebih aman dan efektif menggaet konsumen. Selain itu, lewat dunia maya, jati diri si penjaja syahwat lebih terjaga. Hal ini dibenarkan oleh Sosiolog Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Hermawan Pancasiwi.

Ia menyebut maraknya penggunaan media sosial untuk prostitusi dikarenakan media sosial dirasa lebih aman. Para penjaja tidak akan menghadapi petugas yang melakukan razia. Berbeda jika mereka mangkal di lokalisasi, diskotik, tempat karaoke, maupun tempat hiburan malam lainnya.

“Selain itu, media sosial jangkauannya sangat luas. Media sosial juga fasilitatif dengan kemudahan-kemudahan yang diberikannya,” jelasnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Selain terbebas dari razia, lewat media sosial mereka juga mampu meminimalisasi sejumlah risiko kejahatan. Karena lewat media sosial, mereka lebih leluasa memilih pelanggan. “Ini relatif lebih aman daripada menjajakan secara face to face,” ujarnya.

Baca:

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan mereka akan tergelincir dan salah pilih. Bisa jadi pula, mereka akan mengalami penipuan oleh calon pelanggan, meski kecil kemungkinannya.  “Kalau online belum bisa tatap wajah, baru bisa setelah jumpa darat. Di situ bisa jadi terkecoh. Tapi, relatif lebih kecil daripada transaksi tatap muka langsung,” jelasnya.

Meski media sosial identik dengan kalangan anak muda, Hermawan menjelaskan, bukan berarti pemanfaatan media sosial untuk transaksi prostitusi hanya dilakukan oleh kalangan anak muda saja. Ada pula, mereka yang menggunakan media sosial dari kalangan orang tua.

“Karena transaksi semacam ini tidak perlu kecanggihan. Anak milenial lebih mudah menggunakannya. Tapi jangan salah, orang tua hanya perlu belajar sedikit untuk menggunakan ini dengan tujuan sama,” katanya.

Maraknya perempuan bookingan online berusia anak SMA hingga kuliah ini, menurut Hermawan, biasanya mereka adalah anak muda dengan pergaulan sudah kebablasan. Mereka sudah melakukan hubungan badan sejak masih duduk di bangku sekolah.

Dengan keadaan yang demikian, ditambah pemikiran bahwa tidak ada bagian tubuh yang hilang ketika melakukan hubungan badan, mereka berpikiran untuk sekalian menjajakan tubuh.

“Tapi, tidak semuanya ada keinginan ke arah sana. Itu tadi beberapa alasan mereka yang sudah kebablasan untuk menuju ke sana. Dan mereka difasilitasi media sosial,” paparnya.

Untuk pencegahan, Hermawan berpendapat Kominfo menjadi kuncinya dengan melakukan pemblokiran akun dan situs prostitusi. Selain itu, diperlukan peran sekolah melalui pendidikan formal serta pendidikan informal baik dari masyarakat hingga level paling dasar, yakni keluarga. “Peran mereka penting untuk mencegah prostitusi via media sosial. Terutama oleh kalangan anak muda,” katanya. (sga/aro/krs)