RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak, apalagi di dunia maya. Ya, prostitusi lewat online kini mudah ditemukan. Para wanita penjaja kenikmatan duniawi ini secara terang-terangan menawarkan diri melalui media sosial, di antaranya Twitter dan Facebook.

UNTUK menemukan akun Twitter yang menawarkan jasa prostitusi atau bookingan online di Kota Semarang tidaklah sulit.  Anda cukup searching di Google dengan berbagai tagar (#). Misalnya, #availsemarang, #bosemarang, atau #mahasiswi_semarang. Untuk mem-booking-nya pun tidaklah sulit. Karena akun dari penjaja seks ini sudah dilengkapi nomor WhatsApp berikut dengan jasa yang ditawarkan. Tarifnya beragam, mulai harga per jam, per dua jam, hingga harian.  Dalam akun Twitter juga terdapat informasi lengkap tentang tinggi badan, berat badan, bahkan ukuran bra dari penjaja seks tersebut. Pun lengkap dengan foto wajah ataupun tubuh. Namun biasanya pada bagian wajah sedikit ditutup agar identitas mereka tidak terbongkar.

Koran ini pun coba menelusuri jasa bookingan online tersebut di akun Twitter. Saat di-googling, koran ini menemukan akun yang menawarkan jasa prostitusi dengan memakai hijab. Tarif yang dibanderol 1 jam Rp 600 ribu, 2 jam Rp 1,2 juta, sampai paket long time atas nama Sari (bukan nama sebenarnya). “Open BO? Include room, SOP, spesifikasi,” tanya koran ini melalui pesan singkat WhatsApp.

Tak berselang lama, pesan yang dikirim koran ini langsung dibalas. Sari menjelaskan kalau tarif itu tidak termasuk biaya kamar hotel. Ia juga mengirimkan ciri-ciri tubuh, serta jasa servis yang ditawarkan. “Exclude, TB 155, BB 55, bra 38, dan umur 20 tahun, no anal, wajib caps (kondom, Red),no cif (no cum in face atau tidak keluar di wajah) dan no cim (no cum in mouth atau tidak keluar dimulut) Tarif Rp 600 ribu per jam,” balas Sari.

Baca:

Karena tak ingin kecewa, ibarat membeli kucing dalam karung, koran ini meminta foto asli Sari. Tanpa khawatir, Sari memberikan dua foto yang semuanya memakai hijab. Dari foto yang dikirimkan, Sari memang terlihat muda, cantik, dan menarik. Kisaran umurnya sekitar 20 tahunan. Karena ingin mengulik lebih dalam, akhirnya koran ini pun mencoba mem-booking jasa Sari untuk bertemu di sebuah hotel di kawasan Semarang atas. “Mahasiswi mana? Saya ambil 2 jam untuk Jumat malam, hotel nanti saya kabari,”jawab koran ini kepada Sari.

“Bukan mahasiswi lagi. Jadi booking nggak Mas?” tanya Sari.

Untuk menelisik prostitusi lewat sosial media yang merebak di Kota Semarang, koran ini tetap mem-booking Sari dan berjanji bertemu pukul 20.00. Pada Jumat (12/10)  sekitar pukul 20.00, koran ini menyewa salah satu kamar yang ada di hotel tersebut dengan harga relatif murah, yakni Rp 150 ribu untuk short time sekitar empat jam.

Fasilitas kamar bisa dibilang sangat lengkap. Kasur empuk, nyaman, bersih serta wangi. Ada TV LCD, kamar mandi cukup mewah, AC, air mineral, dan balkon yang menyajikan pemandangan kerlap-kerlip Kota Semarang bawah nan indah. Saat koran ini datang, tak sedikit pasangan muda-mudi yang check in ke hotel tersebut. Tarif yang murah dan pemandangan indah menjadi daya tarik hotel ini.

Tak menunggu lama, Sari tiba di kamar yang sudah dipesan untuk berkencan. Sebelumnya, Sari mengirim pesan WA untuk memberi tahu kalau dirinya sudah di depan pintu kamar.  Malam itu, ia tampak cantik. Mengenakan kemeja hitam motif bunga, sepatu kets, celana jins, dan hijab hitam. Senyumnya manis, sorot matanya tajam.  Tanpa canggung, Sari masuk kamar. Sempat duduk santai dan ngobrol agar lebih akrab. Dari obrolan itu, koran ini mendapatkan banyak informasi prostitusi online lewat sosial media. “Uangnya di depan ya, Mas,” ucap Sari setelah berkenalan.

Setelah ngobrol sejenak, Sari minta izin membersihkan diri di kamar mandi. Tidak lama. Sekitar 5 menit. Koran ini sempat mengintip ke kamar mandi dengan pintu kaca transparan. Apa yang dilakukan? Ternyata, setelah mandi, Sari beberapa kali menyemprotkan minyak wangi ke sekujur tubuhnya. “Biar nyaman aja, Mas,” ucapnya.

Begitu keluar dari kamar mandi, Sari sudah mengenakan pakaiannya seperti saat datang. Namun kali ini wajahnya terlihat lebih segar. “Lampunya diredupin ya Mas, biar romantis kayak orang pacaran,” pintanya genit.

Dari mulut mungil Sari itu, koran ini mendapatkan banyak informasi soal praktik wanita bookingan di sosial media. Sari sendiri lebih suka menjajakan diri lewat Twitter lantaran jangkauan bisa lebih luas untuk mendapatkan pelanggan. Selain itu, ia bisa menutupi jati dirinya agar tidak dikenali oleh sanak keluarga. “Kalau pakai Twitter kan sekarang jarang yang makai. Kalaupun diblokir bisa bikin akun lagi, penggunannya pun nggak ribet. Nggak seperti sosial media lainnya. Selain itu jarang terpantau juga. Paling penting lagi, nggak dipotong germo ataupun mucikari,” tuturnya.

Sari mengaku, baru sekitar tiga bulanan membuka layanan bookingan lewat sosial media. Awalnya, lulusan sebuah SMA swasta ini hendak melanjutkan kuliah. Namun karena keterbatasan biaya, ia terpaksa mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, membuat dirinya nekat terjun ke dunia prostitusi.

“Dulu awalnya diajak teman dari pada nganggur, karena susah dapat kerja. Keterusan sampai sekarang. Duitnya buat ditabung untuk buka usaha, Mas,” ucap perempuan berkulit putih yang mengaku kehilangan kegadisan lantaran direnggut oleh mantan pacarnya.

Berapa kali Sari melayani pria dalam sehari? Ia mengaku melayani tamu sesuai dengan uang yang dibutuhkan.  Jika sedang butuh banyak uang, ia bisa memuaskan 3 sampai 4 orang pria hidung belang dalam sehari. Namun jika masih memiliki cukup uang, ia memilih tinggal di rumah untuk beristirahat ataupun bermain bersama temannya. “Saya cenderung pilih-pilih, Mas. Sehari paling banyak 4 orang. Setiap melayani, saya wajibkan pakai kondom. Kalau ngeyel ya gak jadi, seperti hari ini saya cuma nerima order 1. Tadi siang ada yang order, tapi saya nggak cocok ya saya tolak,” katanya

Sebelum deal dengan calon tamunya, Sari lebih dulu melihat profil di WhatsApp tamunya. Jika dirasa harganya cocok dan dirinya tidak ragu, ia baru bersedia dikencani oleh calon tamunya tersebut. Hal itu dilakukan demi rasa aman dan nyaman. Apalagi belum lama ini ada kasus pembunuhan yang dilakukan oleh tamu kepada penjaja wanita bookingan seperti dirinya di sebuah hotel di Semarang. “Ya, pilih-pilih dan hati-hati juga, Mas. Biar dapat tamu yang baik-baik juga, saya akui memang risikonya besar. Namun gimana lagi,”ucapnya.

Demi keamanan serta agar tidak tertular penyakit infeksi menular seksual (IMS), ia rutin melakukan check up kesehatan organ vital. Selain itu, ia juga mewajibkan pelanggannya untuk memakai kondom. Sari juga rutin mengonsumsi pil KB agar tidak kebobolan atau hamil di luar nikah. Sari mengaku pernah melayani pria hidung belang dengan umur di atas 50 tahun atau om-om. Termuda adalah anak kuliahan yang usianya sebaya dengan dirinya. “Macem-macem karakternya, tapi Alhamdulillah nggak pernah dapat yang aneh-aneh, kasar ataupun wajahnya yang serem. Kalau pun ada yang kasar dan aneh-aneh mending saya balikin uangnya,” katanya sambil tersenyum.

Kepada keluarganya, Sari mengaku bekerja di salon sembari mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Agar tidak curiga, warga Kaligawe, Semarang ini, tinggal di sebuah rumah kos di Tlogosari yang digunakan untuk transit ataupun beristirahat. Sari juga hanya melayani tamu maksimal sampai pukul 23.00. “Saya keluar rumah jam 10 siang, kemudian langsung ke kos sambil nunggu panggilan dan hanya menerima pelanggan mentok jam 9 malam. Soalnya kadang kalau kemalaman atau nggak pulang pasti ditelponin ibu,” akunya.

Sari berharap jika tabungannya sudah cukup, ia akan pensiun dari dunia prostitusi. Ia akan membina rumah tangga dan membuka usaha sendiri di rumah. Namun ia belum tahu kapan akan pensiun. Karena dirinya menjadi tulang punggung keluarga. “Pengin pensiun kalau udah punya tabungan, buat usaha kecil-kecilan. Saya juga sudah capek bohong terus sama orang tua,” katanya sambil menerawang atap kamar hotel. (tim/krs)