Dihukum Tanpa Penonton, Arema Berpotensi Rugi Miliaran Rupiah

182

JawaPos.com –  Arema FC telah resmi mendapat hukuman dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI sebagai buntut dari kericuhan di laga melawan Persebaya Surabaya. Salah satunya adalah hukuman menggelar laga kandang tanpa penonton hingga akhir musim ini. 


Padahal, Singo Edan masih memiliki lima laga home yang mesti dilakoni musim ini. Antara lain lawan Bali United (20/10), PSMS Medan (28/10), Perseru Serui (11/11), Barito Putera (24/11), dan Sriwijaya FC (7/12). Selain itu, Aremania juga dilarang memberikan dukungan (datang ke stadion) saat Arema FC melakoni laga away hingga akhir musim.


Berbagai sanksi itu tentu saja menimbulkan dampak besar bagi Arema FC. Terutama ketika harus menggelar lima laga home tanpa penonton. Karena hukuman ini berdampak langsung kepada pemasukan klub.


Dampak larangan menggelar laga dengan kehadiran penonton tak hanya dirasakan oleh pemain Arema FC yang bertanding di lapangan. Tapi juga dari sisi pemasukan terhadap klub. Meski lima laga itu tak termasuk kategori big match.


Bila diambil perkiraan kasar jumlah penonton 20 ribu per pertandingan dan tiket paling rendah Rp 30 ribu, maka akan ada potensi pemasukan minimal Rp 600 juta yang hilang. Itu baru dari sektor tiket pertandingan.


Sementara dari sektor bisnis, seperti iklan LED e-Board di pinggir lapangan juga cukup besar potensi kerugiannya. “Sekitar Rp 200 jutaan untuk brand lokal dan Rp 300 jutaan untuk brand nasional,” ujar Manajer Divisi Bisnis Arema FC, Yusrinal.  


Memang, tidak ada larangan untuk iklan e-Board selama Arema FC menjalani masa sanksi. Tapi, penyelenggaraan laga tanpa penonton bisa mengurangi daya tarik untuk pengiklan. Walaupun laga disiarkan televisi. “Mereka (pengiklan) juga butuh ekspos brand ke Aremania (yang datang ke stadion),” lanjut dia. 


Melihat hitung-hitungan kasar di atas, Arema FC bakal kehilangan pemasukan tak kurang dari Rp 4 miliar dalam lima laga home ke depan. Bagi Arema FC, nominal itu tentu sangat besar untuk menopang operasional klub.


Meski begitu, Arema FC berusaha legowo atas sanksi yang dijatuhkan oleh Komdis PSSI itu. “Tentu ini hukuman yang sangat berat untuk Aremania dan klub. Tapi kami harus tetap ambil hikmahnya bahwa setiap perbuatan mesti ada konsekuensinya,” ujar Ketua Panpel Pertandingan Arema FC, Abdul Haris.


CEO Arema FC Iwan Budianto juga menerima apa yang telah diputuskan Komdis PSSI. Meski hukuman itu memang terbilang berat, manajemen Arema memastikan tidak akan melakukan banding.


“Klub kehilangan pendapatan. Tentu akan berpengaruh terhadap operasionalnya. Tidak hanya pemain dan ofisial, tapi juga nasib karyawannya,” kata IB, sapaan akrab Iwan Budianto. Belum lagi bila menghitung kerugian dari para pelaku usaha yang selama ini menggantungkan hidup dari laga-laga kandang Arema FC.


Bagaimanapun, sanksi dari Komdis PSSI harus disikapi dengan bijak. Harus bisa jadi momentum untuk berubah menjadi lebih baik.


“Jangankan dihukum sampai akhir musim. Sejujurnya, Arema FC juga ikhlas jika harus dihukum 10 tahun tanpa penonton dan sanksi lainnnya. Asalkan, mampu membawa revolusi perubahan perilaku positif bagi suporter Inodnesia. Kami siap jadi martil perubahan perubahan kebaikan dalam sepak bola,” pungkas IB.  


(jpg/adw/JPC)