Pertahankan Pakem Kebaya, Begini Upaya Vera Hadapi Fashion Kekinian

153

JawaPos.com – Kebaya merupakan salah satu busana tradisonal yang menjadi identitas budaya bangsa. Beragam kebaya lahir dari berbagai daerah, seperti kebaya encim dari Betawi, kutubaru, kebaya kurung, Kartini, Jawa, hingga Bali pun ada. Seiring dengan perkembangan jaman, kebaya pun mengalami banyak modifikasi.


Mananggapi hal ini, desainer Vera Anggraeni masih tetap mempertahankan identitas kebaya klasik. Menurutnya dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini tren kebaya justru kembali lagi ke masa keemasannya, yakni klasik. Tentu kebaya klasik memiliki pakem yang harus dipegang perancang manapun dalam berkarya.

“Dinamakan kebaya karena ada pakem yang gak bisa dilanggar. Khasnya siluet badan dan kerah. Biasanya yang paling umum kerah V dan kutu baru. Sedangkan saat ini sudah berkembang kaya cutting off shoulder. Nah itu bukan klasik namanya,” ucal Vera saat ditemui JawaPos.com di butik miliknya di kawasan Panglima Polim Jakarta Selatan, Kamis (20/9).

vera kebaya, vera anggraeni, kebaya indonesia,
Salah satu gambar Vera Anggraeni utnuk koleksi kebayanya. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)

Lebih lanjut pemilik label ‘Vera Kebaya’ itu menambahkan, sah-sah saja melakukan modikasi selama bisa mengikuti aturan. Misalnya saat ini telah banyak kebaya yang dibuat lebih loose alias tidak body fit khusus untuk perempuan berhijab. Untuk menutupi area lehernya bisa menggunakan manset.


“Kebaya klasik itu ada aturan adatnya. Kalo memang mau pake cutting off shoulder, sebaiknya jangan dipadupadankan dengan hiasan tradisional di atasnya. Kecuali kalo untuk after party baru bisa pakai pengembangan yang modern,” sambung perancang asal Medan, Sumatera Utara itu.


Untuk bertahan di industri fashion, Vera mengaku tetap memegang teguh karakternya. Ia konsisten dengan siluet body fit namun tetap sopan, terlebih jika akan dipakai untuk acara sakral pernikahan. Hal ini ia lakukan untuk menjaga pakem tradisi yang sudah ada sejak dulu.


“Saya selalu berusaha mengarahkan kalo untuk resepsi seksi oke tapi harus sopan, Karena banyak pengantin yang gak mau nurut. Ada yang minta buka-bukaan, saya gak mau,” tambahnya.


Sebagai simbol perempuan Indonesia yang sopan dan elegan, Vera tentu mempertimbangkan aspek kesopanan dalam siluet kebaya. Ia tak akan takut kehilangan pelanggan, selama tetap memegang prinsip dan identitas.


“Suami saya bilang, jangan takut kehilangan rejeki karena sudah ada yang ngatur. Untuk bertahan di karakter kita, jangan mau dikontrol orang lain. Karena alasan kompromi harga akhirnya mau merusak identitas karya,” pungkasnya.


(fid/JPC)