Polres Batang Bantah Ada Mafia BBM

346
PERIKSA – Anggota Polsek Gringsing Polres Batang Jawa Tengah saat memeriksa warganya yang diduga melakukan bisnis BBM ilegal, namun ternyata tidak terbukti. (Lutfi Hanafi/ Jawa Pos Radar Semarang)

 

BATANG – Jajaran Polres Batang Polsek Gringsing menegaskan bahwa di wilyahnya tidak ada mafia BBM, sesuai tuduhan dari salah satu media. Untuk mengklarifikasi hal tersebut, anggota polsek setempat mendatangi langsung warga yang dituduh sebagai pelaku pengguna BBM ilegal tersebut di beberapa tempat.

Kapolsek Gringsing AKP Sugiyanto melalui Kanitreskrim Ipda Wakimin menjelaskan pihaknya tidak pernah memberi toleransi adanya mafia dalam bentuk apapun.

“Media yang menulis tersebut tidak pernah konfirmasi ke kami. Kemarin memang ada tiga orang yang datang mengaku dari media Surabaya dan diterima petugas jaga, tapi kedatangannya hanya menanyakan keberadaan kapolsek. Saat itu kapolsek sedang di Polres Batang,” kata Wakimin kepada Radar Semarang, Selasa (11/9/2018).

Untuk mengetahui kebenaran kabar tersebut, Polsek Gringsing langsung mendatangi semua warga yang dituduh sebagi pelaku mafia BBM. Dimulai dari Suwardjan warga Kutosari, dari keterangannya didapati bahwa memang ada orang yang datang tapi hanya bertemu istrinya. Orang yang mengaku wartawan itu menanyakan apakah ada solar ilegal dan berapa harganya. Karena merasa tidak pernah jual beli solar ilegal istri Suwardjan pun menjawab tidak tahu.

Di lokasi ini memang ditemukan empat jeriken tapi tiga berisi madu dan satu jeriken pertalite. Suwardjan memang punya toko kecil-kecilan yang menjual madu dalam botol dan pertalit eceran.

“Kemarin memang ada tiga orang yang mengendarai mobil Sirion Putih L-7373-L , ke rumah saya, namun tidak banyak bicara langsung pergi,” jelasnya.

Selanjutnya petugas menuju Mistari di Desa Surodadi. Pria yang membuka toko kelontong dan gas elpiji itu terkejut mendapati nama dirinya dituduh sebagai mafia BBM.

“Saya itu cuma buka usaha toko kelontong dan gas elpiji serta kayu ganjel truk. Pangkalan elpiji juga resmi. Dulu saya memang punya DO minyak tanah tapi karena diselewengkan oleh anak buah akhirnya DO tersebut tidak saya lanjutkan,” kata Mistari sambil menunjuk plakat dari instansi terkait.

Mistari sendiri mengaku tidak bertemu dengan wartawan yang kemarin datang karena sudah satu bulan ini menunggui istrinya yang sakit di RS Kariadi Semarang.

Selanjutnya Reskrim menuju ke tempat Sobirin di Desa Sentul Alas Roban. Di tempat ini Sobirin membuka warung makan untuk sopir truk yang melintas dan usaha bengkel di sebelahnya. Dari Sobirin diperoleh banyak keterangan.

Pada hari Senin (10/9/2018) sekitar pukul 11.30 ada tiga orang mencari dirinya, dan mengaku dari media Jawa Timur hendak ke Tegal. Mereka tanya tentang solar hasil “kencing” tangki Pertamina yang ditampung Sobirin.

“Orang yang mengaku wartawan terkesan galak dan mengatakan dulu merekapun pemain BBM ilegal dan tahu seluk beluknya termasuk pejabat yang terlibat. Saya heran karena mereka tahu nama saya dari mana,” ujarnya kepada anggota Polsek Gringsing.

Karena merasa tidak melakukan,  Sobirin mempersilakan mereka mengecek tempatnya. Namun ujung-ujungnya pelaku meminta uang bensin dan diberikan Rp 300 ribu, karena takut.

Warga yang terakhir dikonfirmasi, Imam Asyari yang biasa dipanggil Ary di Desa Plelen, juga mengaku tidak ketemu dengan 3 orang wartawan yang dimaksud.  Walaupun di tempatnya, petugas mendapati solar, Ary mengaku untuk dipakai sendiri sebagai bahan bakar alat berat dan dump truck.

“Saya membeli solar industri dalam jumlah besar karena kebutuhan juga banyak setiap hari. Sekali beli sampai 24.000 liter dari Pertamina,” kata Ary sambil menunjukkan DO pembelian yang setelah diteliti memang asli.

Dijelaskan pula, lokasi quary atau poyek tempat alat beratnya bekerja, jauh medan sulit serta berada di banyak tempat tidak memungkinkan tangki Pertamina menuju lokasi. Jadi perusahaannya  menampung di gudang untuk selanjutnya didistribusikan menggunakan jeriken dan diangkut mobil kecil.

Dari hasil penelurusan tersebut, menurut dia, tidak terbukti adanya bisnis BBM di wilayah Gringsing. Khususnya dengan jumlah besar, kalaupun ada ternyata pemilik BBM beli secara resmi dengan harga BBM industri dan ada surat resminya. (han/lis)