Jalan Terpotong Jalur Khusus Tol, Warga Khawatir

297

PEKALONGAN – Sejumlah warga Sokoduwet dan Kali Baros mengkhawatirkan keselamatan mereka saat melintasi jalan kampung yang terpotong jalur cepat akses tol Kota Pekalongan, menuju dan keluar tol Pemalang Batang.

Sebab, jika dioperasionalkan, warga khawatir, pertemuan arus lokal (dalam kota) dengan kendaraan dari luar kota di jalan akses tol Kota Pekalongan akan menimbulkan kecelakaan karena tidak adanya jalan layang.

“Saya pikir jalan kampung dibuat di atas atau berupa lorong. Ternyata sejalan dengan jalur cepat tol. Kami khawatir nanti keselamatan masyarakat terganggu, karena arus lalu lintas akan berbenturan,” keluh Sodikin warga Sokoduwet kepada Radar Semarang yang melintas jalan tersebut, Selasa (11/9/2018).

Senada disampaikan But Fitri, warga Setono, yang juga mengira jalan dibuat di atas atau di bawah jalur cepat tol. “Kalau sudah berfungsi, saya khawatir terjadi kecelakaan. Karena dari jalan tol biasanya kan kendaraan-kendaraan sering ngebut,” ujarnya.

Terkait keluhan warga, konsultan perencana Pemalang Batang Tol Road (PBTR) Hikmah Rekardi menjelaskan, jalan akses tol Kota Pekalongan dirancang sebagai jalan langsung. Dan memang tidak boleh ada perlintasan sebidang atau hambatan samping.

“Jalur akses kota, dari perencanaan memang dibuat harus bebas hambatan,” terangnya didampingi humas PBTR Sartono.

Rekardi menambahkan, terkait keamanan jalur tersebut, ke depan akses bagi pengendara lokal, akan dibuatkan putaran balik (u-turn) di sepanjang jalan akses tol Kota Pekalongan. Baik di jalur cepat maupun di jalur lambat sepanjang 3,3 kilometer. Sehingga pengendara tidak langsung melintas, namun harus berputar arah dulu, sehingga lebih waspada.

“Nanti di jalur cepat yang kami bangun, terdapat tujuh putaran balik di sepanjang jalan akses tol Kota Pekalongan. Kami berikan setiap 150 meter, ada u-turn untuk memutar,” terangnya lagi.

Tujuh putaran balik tersebut, meliputi dua putaran balik di segmen Sokoduwet-Ampera,  empat putaran balik di segmen Jalan Ampera-Sutami dan satu putaran balik di segmen Jalan Sutami-Sutomo.

Sementara di jalur lambat yang dibuat Pemkot Pekalongan, lanjut dia, dibuat putaran balik lebih banyak.

“Di setiap 100 meter dibuat u-turn. Sehingga nantinya ada 33 u-turn di sepanjang jalur lambat,” imbuhnya. Sehingga warga dari Kelurahan Sokoduwet maupun dari Kalibaros yang akan menuju pusat kota, bisa mengakses u-turn untuk memutar balik kendaraan.

Terkait pembangunan jalur lambat di sisi kanan dan kiri jalur cepat exit tol, yang menghubungkan jalan tol ke jalur Pantura Kota Pekalongan (akses jalan tol) sudah dimulai bulan Juli kemarin. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Kota Pekalongan menargetkan, selesai secepatnya, agar bisa digunakan warga.

“Pembangunan jalur buat warga sudah mulai pertengahan Juli kemarin,” kata Kepala DPU-PR Kota Pekalongan, Joko Purnomo

Pembangunan jalur lambat akses jalan tol terbagi menjadi dua. Yakni pembangunan jalur lambat sisi kanan dan sisi kiri. Untuk pembangunan jalur lambat sisi kanan, anggaran Rp 8,41 miliar bersumber dari dana alokasi khusus (DAK). Sedangkan untuk sisi kiri, anggaran Rp 5,96 miliar bersumber dari bantuan Provinsi Jawa Tengah.

Untuk diketahui jalan akses tol ini, dibuat Pemkot Pekalongan untuk menghidupkan ekonomi di Kota Pekalongan. Karena sebelumnya, Kota Pekalongan tidak diberikan akses keluar masuk tol. Dikhawatirkan ekonomi sepi maka, Pemkot mengusulkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk membangun jalan tembus yang menghubungkan jalan tol ke jalur Pantura Kota Pekalongan

Jalan tembus sepanjang 3,3 kilometer terbagi dalam tiga segmen. Segmen Ampera-Adi Sucipto (Sokoduwet) sepanjang 1,25 kilometer, segmen Ampera-Ir Sutami 1,59 kilometer dan segmen Ir Sutami-Sutomo 333 meter.

Lebar jalan 30 meter. Mencakup jalur cepat 20 meter dan jalur lambat 10 meter. Jalur cepat saat ini tengah dibangun PT Pemalang-Batang Tol Road. Sementara pembangunan jalur lambat di sisi kanan dan kiri jalan tembus akan dikerjakan Pemkot Pekalongan. (han/lis)